Terobosan terbaru dalam teknologi fusion nuklir membuat banyak ilmuwan bersemangat tentang potensinya untuk menyediakan cadangan energi rendah emisi yang hampir tak terbatas. Tetapi para kritikus mempertanyakan apakah fusi nuklir akan siap pada waktunya untuk menangani dampak pada krisis iklim.
Dalam perlombaan untuk menemukan sumber energi terbarukan yang andal, jenis tenaga nuklir yang berbeda sedang dirancang sebagai solusi jangka panjang yang menjanjikan.
Selama beberapa dekade tenaga nuklir telah dihasilkan menggunakan proses yang disebut fisi. Ini adalah saat atom yang tidak stabil seperti uranium terkoyak, dalam ledakan energi dan radi asi berumur panjang.
Fisi nuklir menyumbang sekitar 10 persen dari listrik dunia, tetapi membawa stigma kehancuran yang mengerikan - seperti bencana Chernobyl 1986, atau bencana Fukushima 2011.
Fusi nuklir, sebagai perbandingan, memaksa atom-atom yang lebih kecil bersama-sama. Ini menghasilkan ledakan energi, beberapa produk sampingan helium, dan hanya sejumlah kecil radiasi berumur pendek.
Awal tahun ini, reaktor JET di Oxfordshire, Inggris, mencapai terobosan fusi besar.
Ini menghasilkan sekitar 60 megajoule energi dalam ledakan lima detik - yang merupakan kekuatan yang cukup untuk merebus kendi 60 kali.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan jangan lewatkan podcast kami.
Meskipun ini masih jauh dari berguna secara komersial - ini adalah bukti konsep yang penting.





