Bagi kebanyakan orang Indonesia, alat musik tradisional yang pertama terlintas di benak mungkin gamelan atau angklung. Tapi bagi Yona Detaq, mahasiswi S2 fisika di University of Melbourne asal Nusa Tenggara Timur, ada satu alat musik yang jarang dikenal namun layak mendapat sorotan lebih: sasando.
Sasando adalah alat musik petik tradisional dari Pulau Rote, pulau terselatan Indonesia. Bentuknya, menurut Detaq, menyerupai harpa namun berbentuk bulat, dengan puluhan senar yang mengitari sebatang bambu, dan daun lontar kering sebagai resonansi suara.
Yang membuat sasando unik, kata Detaq, adalah kemampuannya memainkan tiga irama sekaligus. Tangan kanan memainkan chord, jari jempol dan telunjuk tangan kiri memainkan melodi, sementara tiga jari lainnya memainkan bass.
Detaq mulai belajar sasando saat SMA. Awalnya, ia hanya ingin bisa memainkan satu lagu. Tapi kecintaannya terus berlanjut hingga kini, di tengah kesibukan studi S2 bidang fisika.

Bakat bermusik Detaq berakar dari keluarga. Walau tak ada yang memainkan alat musik, keluarganya dikenal sebagai keluarga penyanyi, dari oma, mama, hingga tante-tantenya aktif di paduan suara gereja. Dasar-dasar bermusik itulah yang membuatnya tak perlu mulai dari nol saat belajar sasando.
Melbourne adalah kali kedua Detaq membawa sasando ke luar negeri. Sebelumnya ia pernah bermain sasando di Amerika saat studi di sana.
Rasa bangganya masih sama. Pride-nya untuk menunjukkan bahwa ini alat musik dari pulau terselatan Indonesia, itu masih melekat sampai sekarang, dan malah lebih bangga lagi karena lebih banyak yang antusias.Yona Detaq
Namun misi Detaq tak berhenti di sasando saja. Ia punya kerinduan untuk memperkenalkan kekayaan budaya NTT secara lebih luas, termasuk makna filosofis di balik tenun ikat yang selalu ia kenakan saat tampil.
Detaq membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai acara komunitas Indonesia di Melbourne yang ingin mengenalkan sasando lebih jauh.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesia.





