Watch FIFA World Cup 2026™

LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Dari Pulau Rote ke Melbourne, Yona Detaq Bawa Sasando

Yona Detaq with her sasando, a traditional stringed instrument from Rote Island in East Nusa Tenggara.

Yona Detaq with her sasando, a traditional stringed instrument from Rote Island in East Nusa Tenggara. Credit: Supplied/Yona Detaq

Bagi kebanyakan orang Indonesia, alat musik tradisional yang pertama terlintas di benak mungkin gamelan atau angklung. Tapi bagi Yona Detaq, mahasiswi S2 fisika di University of Melbourne asal Nusa Tenggara Timur, ada satu alat musik yang jarang dikenal namun layak mendapat sorotan lebih: sasando.


Published

Updated

By Anne Parisianne

Source: SBS



Share this with family and friends


Bagi kebanyakan orang Indonesia, alat musik tradisional yang pertama terlintas di benak mungkin gamelan atau angklung. Tapi bagi Yona Detaq, mahasiswi S2 fisika di University of Melbourne asal Nusa Tenggara Timur, ada satu alat musik yang jarang dikenal namun layak mendapat sorotan lebih: sasando.


Sasando adalah alat musik petik tradisional dari Pulau Rote, pulau terselatan Indonesia. Bentuknya, menurut Detaq, menyerupai harpa namun berbentuk bulat, dengan puluhan senar yang mengitari sebatang bambu, dan daun lontar kering sebagai resonansi suara.

Yang membuat sasando unik, kata Detaq, adalah kemampuannya memainkan tiga irama sekaligus. Tangan kanan memainkan chord, jari jempol dan telunjuk tangan kiri memainkan melodi, sementara tiga jari lainnya memainkan bass.

Detaq mulai belajar sasando saat SMA. Awalnya, ia hanya ingin bisa memainkan satu lagu. Tapi kecintaannya terus berlanjut hingga kini, di tengah kesibukan studi S2 bidang fisika.

Yona Detaq performs sasando at the Nusantara in Melbourne 2026 event held at the Indonesian Consulate General, 13 June 2026.
Yona Detaq performs sasando at the Nusantara in Melbourne 2026 event held at the Indonesian Consulate General, 13 June 2026. Credit: SBS Indonesian/Anne Parisianne

Bakat bermusik Detaq berakar dari keluarga. Walau tak ada yang memainkan alat musik, keluarganya dikenal sebagai keluarga penyanyi, dari oma, mama, hingga tante-tantenya aktif di paduan suara gereja. Dasar-dasar bermusik itulah yang membuatnya tak perlu mulai dari nol saat belajar sasando.

Melbourne adalah kali kedua Detaq membawa sasando ke luar negeri. Sebelumnya ia pernah bermain sasando di Amerika saat studi di sana.

Rasa bangganya masih sama. Pride-nya untuk menunjukkan bahwa ini alat musik dari pulau terselatan Indonesia, itu masih melekat sampai sekarang, dan malah lebih bangga lagi karena lebih banyak yang antusias.
Yona Detaq

Namun misi Detaq tak berhenti di sasando saja. Ia punya kerinduan untuk memperkenalkan kekayaan budaya NTT secara lebih luas, termasuk makna filosofis di balik tenun ikat yang selalu ia kenakan saat tampil.

Detaq membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai acara komunitas Indonesia di Melbourne yang ingin mengenalkan sasando lebih jauh.

Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesia.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now