Acara tahun kedua yang diselenggarakan oleh AIYA Victoria ini menghadirkan diskusi panel, workshop angklung, pembuatan zine, hingga pertunjukan Sasando dari Nusa Tenggara Timur.
Pada Sabtu, 13 Juni 2026, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne kembali menjadi tempat bertemunya diaspora Indonesia dan warga Australia dalam acara "Nusantara in Melbourne." Acara yang memasuki tahun kedua ini diselenggarakan oleh Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) Victoria.
Meski cuaca Melbourne mendung pada hari itu, antusiasme pengunjung tidak surut. Salah satunya Tyra Beckett, warga Australia yang pernah belajar di Indonesia melalui program praktik mengajar. Berbalut kain endek khas Bali yang dia kenakan sebagai rok, Tyra tampil semangat mengikuti rangkaian acara. Ia mengaku datang karena ingin tetap terhubung dengan budaya Indonesia dan bertemu lebih banyak orang Indonesia di Melbourne.
Tia Ragat, mahasiswa di Melbourne yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengaku hadir karena ingin berkoneksi dengan komunitas Indonesia dan Australia, sekaligus menikmati pertunjukan budaya yang jarang ia temui di acara internasional.

Bagi Tia, penampilan Sasando oleh temannya sejak kecil, Yona Detaq, menjadi momen yang membanggakan. Ia merasa pertunjukan tersebut membawa suasana seperti di rumah, terutama ketika Yona memainkan lagu-lagu bernuansa Indonesia dan juga lagu Waltzing Matilda yang lekat dengan Australia.
Ahimsa Swadeshi, salah satu penyelenggara dari tim Sociocultural AIYA Victoria, menjelaskan bahwa acara tahun ini menghadirkan beragam kegiatan, seperti diskusi panel, workshop angklung dan patchwork, pembuatan zine, dan pertunjukan Sasando.

Meskipun secara format tidak jauh berbeda dari edisi pertama, Ahimsa mengatakan bahwa tahun ini ada penekanan pada konteks sejarah hubungan pelaut Makassar dengan komunitas Yolngu di Northern Territory. Menurutnya, koneksi antarmanusia dan antar komunitas menjadi semangat utama dalam penyelenggaraan acara ini.
Ia juga menekankan bahwa acara ini bukan hanya merayakan budaya Indonesia, tetapi juga mengundang warga Australia yang memiliki ketertarikan atau pengalaman dengan Indonesia untuk saling berkolaborasi. Tujuan utamanya adalah membuat hubungan antara Indonesia dan Australia semakin kaya dan bermakna.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah pembuatan zine, majalah kecil buatan komunitas. Nathania Mirandini, penanggung jawab kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa peserta diajak membuat majalah kecil delapan halaman serta berkontribusi pada peta Indonesia interaktif dengan dua pertanyaan: dari mana asal mereka dan ke mana mereka ingin berkunjung.
Simak podcast ini selengkapnya untuk mendengar perbincangan lengkap dari acara Nusantara in Melbourne 2026.





