Film dokumenter drama '12 Mile: Guiding the Archipelago' diputar di Universitas Melbourne pada 19 Mei 2026. Lebih dari sekadar mengenang perjuangan Profesor Mochtar Kusumaatmadja, film ini menyimpan pesan bahwa tantangan terbesar Indonesia justru baru dimulai setelah kemenangan diplomasi selama seperempat abad.
Film '12 Mile: Guiding the Archipelago' menceritakan perjalanan Prof. Mochtar Kusumaatmadja, pahlawan nasional Republik Indonesia, dalam memperjuangkan pengakuan dunia atas konsep negara kepulauan Indonesia melalui Konvensi Hukum Laut PBB 1982. Dari batas laut tiga mil menjadi dua belas mil, diplomasi yang berlangsung lebih dari dua dekade oleh Prof. Mochtar Kusumaatmadja itu akhirnya berhasil menyatukan wilayah perairan Nusantara.
Namun, Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Ahmad Gusman Catur Siswandi menekankan bahwa pesan film ini bukan hanya soal keberhasilan masa lalu. Mengutip buku karya akademisi Australia, Butcher dan Elson, ia mengatakan bahwa mengimplementasikan apa yang telah dicapai melalui UNCLOS 1982 bisa jadi akan lebih berat dibandingkan diplomasi selama dua puluh lima tahun itu sendiri.
Tantangan itu, menurut Pak Gusman, kini semakin kompleks dengan adanya perubahan iklim yang berdampak pada naiknya permukaan air laut dan implementasi batas-batas maritim Indonesia.
Pemutaran di Australia juga membawa misi tersendiri. Pak Gusman menjelaskan bahwa Indonesia dan Australia masih memiliki beberapa perjanjian perbatasan maritim yang belum diimplementasikan secara penuh, sehingga film ini diharapkan dapat membangun kesadaran bagi warga kedua negara.
Bagi penonton muda, film ini pun meninggalkan kesan mendalam. Tika Tazkia Nurdiawati, kandidat doktor di Universitas Melbourne, mengaku tersentuh oleh bagian yang menunjukkan masa-masa sulit Profesor Mochtar sebelum diangkat menjadi menteri. Baginya, ada pesan moral bahwa semakin tinggi mimpi seseorang, semakin besar pula konsekuensi yang harus dihadapi.
Sementara Nisrina Olivia Jasmine, mahasiswa S2 hukum di Universitas Melbourne, menilai bagian negosiasi di PBB sebagai yang paling menarik, terutama karena ia baru saja mengambil mata kuliah terkait penyelesaian sengketa.
Pemutaran film ini didukung oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne bersama Mata Garuda Australia-New Zealand, IKA FH Unpad, LPDP Unimelb Association, LPDP Monash, dan Melbourne Postgraduate International Relations Organisation.
Dalam podcast ini, dengarkan komentar dari Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Ahmad Gusman Catur Siswandi, serta penonton Nisrina Olivia Jasmine dan Tika Tazkia Nurdiawati mengenai film 12 Mile dan relevansinya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.





