17 Agustus di Sydney tidak hanya diperingati dengan upacara bendera dan nasi tumpeng, tetapi juga dengan penyampaian keprihatinan diaspora.
Di tengah hujan yang mengguyur kota Sydney hari Senin pagi tanggal 17 Augustus 2026 lalu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney mengadakan acara peringatan hari kemerdekaan di Wisma KJRI di Rose Bay.
SBS Indonesian berbincang dengan beberapa tamu diantara ratusan yang menghadiri acara, antara lain Ivy Octavillia Yunus yang menyatakan bahwa ini kali kedua ia menghadiri acara tersebut.
Baik Ivy maupun Rendra Budi Utama, seorang mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang belajar di University of Technology Sydney menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi dan lapangan pekerjaan di tanah air di hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-81 ini.

Konsul Jenderal Pendekar Muda Leonard Sondakh menyatakan bahwa tema perayaan hari ini tidak lepas dari tugas lembaganya untuk mendekatkan diri pada komunitas, melayani masyarakat Indonesia dan diaspora.
Ia menambahkan pentingnya menjaga image Indonesia di tengah berbagai masalah yang dialami negara dan warganya saat ini.
Sorenya, di daerah Town Hall Sydney, diadakan pula acara untuk menyampaikan keprihatinan sejumlah warga negara Indonesia dan Diaspora mengenai sejumlah isu, seperti pelanggaran Hak Azasi Manusia dan ketimpangan ekonomi antar kelompok masyarakat di Indonesia.
Dalam acara tersebut terpampang berbagai tulisan mengenai Hak Azasi Manusia dan juga foto mendiang aktivis Munir Said Thalib yang meninggal akibat diracun tahun 2004.
Menurut Nina Setiawan dari Aliansi Gusar, tema aksi tahun ini adalah "Menolak Lupa, Menolak Buta".
Fatma L, yang juga dari aliansi Gusar, menyatakan bahwa aksi tersebut diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia dengan cara yang lebih mendalam dan kritis ketimbang memakai baju daerah semata.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





