Ketika masih berusia tujuh belas tahun,
Peter Susanto, pemuda berdarah Indonesia
yang tinggal di Darwin mendapatkan
penghargaan Northern Territory Young
Australian of the Year. Kini, di usia
sembilan belas tahun, Peter sedang
menempuh pendidikan S2 Kedokteran dan
menjadi salah satu UNICEF Young Ambassador
untuk Australia. Bagaimana Peter bisa
sampai di titik ini di usia yang masih
sangat muda? Apa tantangan terbesar yang
pernah dihadapi sebagai siswa termuda di
kelas? Bagaimana Peter menghabiskan waktu
luang dan apa rencananya ke depan? Berikut
perbincangan saya dengan Peter Susanto.
Halo Peter, apa kabar?
-Ya, baik. Gimana kabarnya?
-Baik juga. Peter bisa nggak nih ceritakan
bagaimana kamu bisa mendapatkan
penghargaan Northern Territory Young
Australian of the Year 2024? Dan waktu
mendapatkan penghargaan itu, umurmu berapa
-ya?
-Waktu mendapat penghargaannya, saya masih
umur... Berapa ya itu? Baru umur tujuh
belas. Kenapa saya dapat penghargaan ini?
masih kurang tahu juga sih. Karena menurut
saya, saya sebenarnya hanya
lakukan yang seharusnya saya lakukan.
Maksudnya itu tiap weekend saya dan adik
saya, Eva, sejak tahun 2015 menjual
makanan dan cemilan Indonesia
yang kami buat sama emak kita, sama nenek
kita dan menjual makanan ini untuk
menggalang uang untuk badan amal kayak
charity gitu. Jadi tiap tahun pilih
charity yang beda. Misalnya tahun ini lagi
menggalang uang untuk Melanoma Institute
Australia untuk research soal kanker
kulit, yang kemarin untuk Cancer Council
dan dulu juga pernah di Indonesia untuk
Salvation Army, untuk panti asuhan mereka.
Baik, jadi itu karena Peter berpartisipasi
untuk menggalang dana juga ya. Tapi
selain itu juga Peter banyak juga ikut
kompetisi ini. Mungkin juga jadi bahan
-pertimbangan mereka.
-Iya kayaknya. Tahun dua ribu-- apa itu,
tahun 2019 saya menjadi pemenang pertama
untuk National Australian Brain Bee
Challenge dan itu kompetisi Neuroscience.
Saya jadi pemenang pertama dari NTI, dari
Northern Territory. Karena itu saya ini
dapat kesempatan untuk mewakili Australia
di Olimpiade International Brain Bee
Olympiad dan itu [tertawa] seharusnya
tahun berikutnya 2020, tapi karena ada
pandemi Corona virus
[tertawa], saya malah 2021 baru ikut
pertandingannya karena ditunda setahun.
Dan itu waktu saya ada ujian, ujian SMA
tiga, udah mau lulus SMA, ehm,
[tertawa] tapi saya tetap belajar untuk
kompetisi ini dan juga belajar untuk ujian
saya, untuk kelas dua belas saya. Jadi
agak sulit sih, tapi tetap saja saya dapat
medali perunggu dan itu medali pertama
untuk Australia sejak tahun 2015.
Aduh, Peter, saya speechless. Itu bagus
sekali, luar biasa itu. Nanti
dulu nih, kamu waktu itu 2021 akan lulus
SMA begitu ya? Berarti usia
-Peter sekarang berapa ya?
-Sekarang saya baru saja umur sembilan
belas. Waktu itu saya lulusnya umur--
lulus SMA itu umur empat belas, terus
-mulai kuliah waktu umur lima belas.
-Dan Peter boleh diceritakan, ee, Anda
-Jurusan apa?
-Kuliahnya masih di Darwin, tetap di
Darwin. Karena sebenarnya waktu saya lulus
kan umur empat belas, terus waktu mau
mulai kuliah umur lima belas. Jadi karena
itu kayaknya gara-- mungkin gara-gara
asuransi atau nggak tahu faktor apa. Tapi
banyak universitas bilang bahwa kalau saya
mau kuliah di universitas mereka harus
ada paling enggak satu atau dua orang
tuanya. Dan ya kan agak, agak kasihan saya
nggak mau kasih beban untuk Mama sama
Papa. Jadi saya pilih untuk tetap di
Darwin dan selain itu saya kan juga memang
orang besarnya di Darwin, udah asli
Darwin. Jadi kayaknya lebih nyaman juga di
Darwin. Bisa sama keluarga, bisa jaga
nenek.
-Nanti dulu. Ini jurusan apa tapinya?
-Saya lagi belajar ini, Kedokteran.
-Wah!
-Di-- ya di Darwin.
Ini kok bisa ya? Peter sudah diterima
sebagai mahasiswa kedokteran di usia
semuda itu. Itu prosesnya gimana? Apakah
ada persyaratan khusus atau ada interview
-khusus atau bagaimana?
-Enggak ada interview khusus, tapi memang
[tertawa] kayaknya harus suruh Mama sama
Papa tanda tangani semua dokumentasinya.
Kan biasanya orang waktu lulus SMA atau
mau mulai kuliah udah umur delapan belas
ke atas, jadi mereka bisa tanda tangani
sendiri. Tapi waktu itu semua mama sama
papa yang disuruh terus ada beberapa
dokumentasi-dokumentasi yang khusus juga
untuk saya karena belum, belum dewasa
belum sampai umur delapan belas [tertawa].
Ee, misalnya tahun kemarin kan dan tahun
sebelumnya, ee, waktu udah mulai MD jadi
itu sesudah undergraduate-nya udah mulai
MD, kita kan harus buka kayak jenazah gitu
atau tubuhnya orang yang telah meninggal
dunia. Jadi untuk itu orang-orang lain
mereka tinggal tanda tangani kayak waver
gitu. Tapi untuk saya ada beberapa
dokumentasi tambahan karena belum umur
delapan belas.
Sebentar, berarti kamu sekarang itu
bukannya S1 tapi S2 begitu?
Iya S2, saya udah lulus S1nya, Bachelor of
Clinical Sciences dan dapat nilai yang
sempurna juga. Jadi GPAnya tujuh dari
tujuh. Dapat medali universitas juga baru-
-[laughing]
-[suara bising]
-Mai ada acara wisuda nih.
-Oh, wow! Berarti Peter mahasiswa termuda,
-begitu, di kelas?
-Oh, iya, ya. Tentu saja [tertawa]
mahasiswa termuda. Kayaknya yang sudah
saya nomor dua kayaknya udah umur dua
puluh-- dua puluh satu kayaknya. Jadi beda
dua atau dua setengah tahun.
Jadi ini kok bisa ya dipercepat begitu
lulus SMA-nya itu keputusan untuk
akselerasi itu dari mana? Dari Peter
sendiri, atau dari sekolah, atau dari
orang tua, atau bagaimana sih boleh
ceritakan?
Dari awal idenya dari mama sama papa sih.
Tapi itu karena mereka lihat bahwa
saya waktu-- [berhenti sebentar] waktu
kecil itu waktu masih SD nilainya kan udah
di atas anak-anak lain, siswa-siswi lain.
Dan saya juga kata mereka saya juga
kelihatan agak kayak kurang tertarik gitu
atau mungkin [tertawa] sudah bosan juga
sama, em, pelajarannya karena udah tahu
dan cepat belajar kan. Jadi mama, dia
ambil kayak post graduate lagi untuk
gifted education. Dan mama ini sesudah itu
kerjakan kayak advokasi gitu supaya saya
bisa lompat kelas. Terus sesudah lompat
kelas sekali, sebenarnya sekolahnya bilang
udah, mereka gak akan izinkan saya lompat
kelas lagi. Tapi mama sama papa tetap,
ee, berjuang dan bilang sebenarnya yang
kan sebagai orang tua, mereka yang tahu
apa yang paling baik untuk anaknya dan
saya waktu itu juga setuju mau kalau
memang pantas saya mau lompat kelas juga
lagi. Jadi mereka tetap berjuang terus
akhirnya sekolahnya izinkan juga. Terus
-akhirnya saya lompat tiga tahun.
-Kok bisa ya? Emang kamu belajar study hard
atau disiplin atau bagaimana ya? Atau
emang-emang suka belajar begitu?
Yaaa, saya suka belajar tapi kayaknya
minat saya nih kepada belajar itu belum
tentu sesuatu yang dari lahir gitu. Kan
semua ada apa itu, debatnya soal nature
versus nurture. Kayaknya ya mungkin ada
nature dan mungkin saya memang agak
beruntung mungkin otaknya memang-- otaknya
bagus dan IQ-nya ting-- memang lumayan
tinggi. Tapi kayaknya lebih penting itu
pelajaran dari dari kecil, dari mama sama
papa, sama nenek juga, sama mak juga.
Karena mereka ajarin cara apa, apa
istilahnya untuk kayak jadi orang gitu
kan. Jadi orang baik dan mereka juga
memprioritaskan pendidikan. Orang-orang
lain terutama di Australia kan mereka
mungkin lebih mentingkan kayak olahraga
atau yang ekstra kurikuler
gitu. Tapi mama sama papa, mereka kan dari
Indonesia, jadi mereka tahu tanpa
pendidikan mereka gak akan datang ke
Australia terus kasih kami semua hidup
yang sangat-sangat beruntung dan sangat
indah seperti ini sekarang.
Dan itu waktu kecil berarti sekarang sih
lebih kamu sendiri yang push yourself,
-gitu ya?
-Iya, tapi tetap kan selalu ada dukungan m
ama sama papa, sama nenek juga. Maksudnya
ada dukungan keluarga itu juga sangat
penting buat saya. Terutama kadang-kadang
kayak baru ini, ee, di Darwin ini baru ada
cyclone kita. Dan waktu itu, ini
[tertawa] kayaknya kapan, tiga jam lagi,
gak sampai dua, dua setengah jam lagi saya
udah ujian. Mama sama papa yang-- mereka
yang bantu saya, mereka ambil tanggung
jawab untuk bersih-bersih rumah dan
siap-siap untuk cyclone. Saya bantu juga,
tapi mereka kasih saya lebih banyak waktu
untuk belajar. Biar [tertawa] nilai
ujiannya semoga bisa yang baik.
Ini ada enggak sih momen, aduh capek ah
belajar gitu. Ada nggak pernah nggak
-merasa begitu?
-[sighing] Ya pasti [tertawa]. Kayaknya
mungkin cuman anak-anak super doang yang
bisa belajar terus berjam-jam tanpa bosan
atau capek. Tapi kayaknya saya ada
buat cara yang baik untuk rileks dan untuk
istirahat waktu saya capek. Misalnya main
piano atau baca buku atau ya
kadang-kadang nonton juga kayak YouTube
atau TV. Itu kan seperti anak biasa, tapi
kayaknya yang buat saya agak beda mungkin,
itu saya bisa lebih cepat kembali
fokusnya dan saya juga lebih-- mungkin
lebih banyak motivasinya juga. Karena saya
tahu kalau belajar yang baik bisa dapat
nilai yang baik dan itu juga buka lebih
banyak kesempatan untuk saya. Udah ada
pengalaman itu. Jadi saya sekarang udah
dapat penghargaan ini dan jadi UNICEF
Young Ambassador untuk apa namanya dana--
dana anak-anak PBB. Sebagai UNICEF
Ambassador itu, saya juga mau coba bantu,
gimana ya, menginspirasi anak-anak lain
untuk tetap kerja keras dan belajar yang
baik juga. Jangan-jangan hanya main HP
terus atau pakai medsos. Jadi itu mewakili
UNICEF dan mewakili NT juga, ee,
untuk menjadi, gimana ya, kayak advocate,
tapi juga kayak orang
yang bisa berkomunikasi antara anak-anak
dan dana anak-anak PBB Australia. Jadi
UNICEF itu, kan orang-orang kerja dengan
UNICEF banyak yang udah-udah dewasa atau
mungkin mulai tua juga. Ee, jadi mereka
butuh suaranya dan perspektifnya
-orang-orang muda dalam kerjaan mereka.
-Peter apply atau bagaimana?
Ee, iya itu saya apply terus kepilih.
Hanya di seluruh Australia hanya sebelas
orang yang pilih dan saya satu-satunya
dari NT.
Kalau dari akademi kan berarti kamu sudah
pasti dengan teman-teman yang lebih tua.
Ini ada challengenya tidak? Apa dalam
bersosialisasinya kah, atau dalam
akademinya kah, atau bagaimana?
Ada sih, misalnya waktu saya pertama
lompat kelas-- ee, masuk kelas lima, jadi
itu udah lompat dua tahun. Ee, saya masih
inget sih, masih terkesan karena awalnya
anak-anak itu lumayan baik sama saya,
pikirnya saya murid baru gitu. Tapi waktu
saya kasih undangan untuk ulang tahun saya
waktu itu umur sepuluh, mereka baru tahu
bahwa saya nya dua tahun lebih muda
daripada mereka. Dan mereka kan juga udah
puberty, jadi mereka udah lebih besar dan
lebih kuat juga. Anak-anak itu malah mulai
bully saya dan bully-nya lumayan parah
sampai tiap hari saya nggak mau ke sekolah
dan nangis terus. Dan iya malah ... malah
gak tertarik lagi dengan belajar,
kembali lagi ke kelas tiga dengan
anak-anak lain yang seumuran. Tetapi mama
sama papa, mereka tetap mendukung saya dan
tetap bukan-- bukan, tetap mendorong
saya, kayak encourage saya gitu untuk
harus resilient dan pantang menyerah.
Terus mereka cari cara untuk membantu
saya. Jadi itu mereka advocate lagi ke
sekolah untuk saya lompat satu kelas lagi.
Dan itu kan tidak mungkin di luar pikiran
orang, karena pikirnya anak kalau
di-bully harusnya turun kelas lagi. Tapi
mereka, mama terutama, malah advocate
untuk saya lompat kelas lagi. Tapi itu
ternyata menjadi hal yang paling baik
untuk saya. Karena saya lompat kelas
akhirnya, masuk kelas tujuh dan anak-anak
sana di kelas tujuh itu mereka jauh lebih
dewasa, lebih baik dan mereka juga lebih--
gimana itu, mereka lebih tertarik juga
sama belajar. Jadi saya gak di-bully lagi.
Terus ada banyak teman juga dan temannya
yang suka yang cocok gitu, suka belajar.
Ee, jadi untuk itu saya selalu berterima
-kasih sekali untuk mama sama papa.
-Wah, ini mama dan papanya juga pintar juga
strateginya. Saya enggak akan kepikiran
seperti itu. Dan kalau itu kan dulu nih,
kalau sekarang Peter lebih seringnya
mainnya sama siapa nih? Hangout-nya sama
siapa? Teman-teman yang satu kuliah kah
atau justru yang seumuran?
Sekarang sih waktunya kan biasanya
di-spend sama temen-temen kuliah yang tiga
tahun atau sekarang-sekarang pun ada
yang-- ada temen sekolah yang umur
[menghela nafas] hampir lima puluh, jadi
hampir seumuran sama papa saya. Kayaknya
lebih tua daripada papa saya karena kan
udah masuk itu S2, post graduate, jadi ada
yang udah pernah kerja, terus mereka
kembali lagi kuliah. Dan sekarang
temen-temen saya memang banyak yang udah
bisa nyupir, udah bisa kayak minum gitu.
Jadi kadang-kadang mereka undang saya,
terus saya kan baru sembilan belas waktu
itu. Waktu mulai S2 ini saya masih umur
tujuh belas. Jadi [tertawa] dulu kayak, oh
maaf ya nggak bisa ikut, nggak bisa ikut
ke pub, nggak bisa ikut ke bar. Saya belum
bisa nyupir gitu. Sekarang masih, apa,
licence B SIM-nya, mereka udah full
licence. Jadi memang ada perbedaan itu,
tapi pertama saya memang rencananya tidak
mau minum alkohol karena memang menurut
saya harus jadi kayak contoh baik untuk
pasien-pasien dan memang lebih sehat juga.
Dan selain itu, sekarang me-mereka juga
ini, mereka happy untuk bawa saya
kemana-mana, kalau enggak, mama sama papa
bisa antar saya juga kalau ada kayak acara
atau orang-orang mau hangout gitu.
Tapi berarti sekarang social life ya
justru malah semakin gampang karena
teman-teman juga sudah bukan, ya, sudah
bukan muda lagi kan, ya? Nah, ini kan dari
tadi Peter sebut kalau Peter dari
Indonesia, begitu ya? Apa Peter lahir di
Northern Territory atau lahir di
Indonesia? Gimana, nih, background
-keluarganya? Boleh ceritakan?
-Sebenarnya saya gak lahir di NT, juga gak
lahir di Indonesia. Sebenarnya saya
lahirnya di Adelaide, karena Mama sama
Papa, ee, dari Indonesia, mereka pertama
kuliah di Adelaide. Jadi saya lahir di
sana. Tapi waktu umur empat pindah ke
Darwin. Jadi sebenarnya besarnya udah di
Darwin dan saya merasa saya udah jadi
orang lokal Darwin sih.
Baik, dan berarti orang tua kamu dari mana
di Indonesianya?
Kayaknya kedenger ya dari logat saya, tapi
mama papa orang Jawa, wong Jowo. Mama
lahirnya di Surabaya sih, tapi
keluarganya... tahu Jajag, Tante? Jajag
itu salah satu desa kecil dekat
Banyuwangi. Terus Papa orang Solo.
Dan ini kok bisa fasih sekali bahasa
Indonesianya?
[tertawa] Bahasa Indonesianya kurang
lancar juga sih. Karena [tertawa] kan
lahir besar di Australia. Terus paling
mungkin setahun sekali, kadang-kadang
enggak sampai setahun sekali, dua tahun
sekali gitu, baru pulang Indonesia.
[tertawa] Jadi kayaknya sebenarnya kurang
lancar dan seringkali juga bahasanya kayak
bahasa gado-gado. Jadi ada
kayak--Hokkiennya, ada Mandarinnya, ada
bahasa eh Inggris juga, ada Jowonya juga.
Tapi kayaknya saya bisa Bahasa Indonesia
itu karena mama sama papa lagi, sama nenek
juga, kayak lama juga. Karena mereka
semua utamakan bahasa Indonesia dan selain
itu kan nenek
datang ke Australinya waktu saya lahir
jadi kurang lancar bahasa Inggris. Kalau
gak bisa bahasa Indonesia ya gak bisa
bicara sama nenek, kan. Jadi
agak-agak terpaksa tapi waktu itu juga
masa papa utamakan bahasa Indonesia dan
sekarang saya malah lebih tertarik lagi
sama belajar bahasa Indonesia. Tiap hari
baca buku dalam bahasa Indonesia kayak
novel gitu dan juga sering nonton -- saya
kan suka bulu tangkis [suara terkekeh],
jadi sering nonton bulu tangkis dan tentu
saja dukung tim Indonesia Merah Putih dan
sering nonton YouTube juga, YouTube dalam
-bahasa Indonesia.
-Ini untuk ke depannya apakah Peter ingin
berkontribusi untuk Indonesia meskipun
katakanlah tetap tinggal di Australia,
kalau iya dalam bentuk apa misalnya
medical field atau gimana atau tadi sempat
-sebut UNICEF bagaimana itu?
-Yang pasti saya mau membantu dan
berkontribusi ke Indonesia. Itu bentuknya
gimana saya masih belum tau sih. Saya tau
kayaknya sekarang ID memperbolehkan
orang-orang Australia atau yang lulus--
dokter-dokter yang lulus di luar negeri
untuk kerja di Indonesia. Jadi mungkin
suatu hari sesudah jadi spesialis, mungkin
saya bisa kerja di Indonesia atau kerja
untuk apa itu Doctors Without Borders,
Medecins Sans Frontieres. Kalau enggak
mungkin sebagai UNICEF atau mewakili
pemerintah Australia atau saya juga tahu
ada kayak Australia Indonesia Business
Council gitu. Jadi mungkin-- mungkin saya
bisa ikut itu juga atau mulai buka bisnis
juga di Indonesia suatu hari. Saya
sebenarnya ada ide atau kayak cita-cita
mungkin suatu hari saya bisa bantu
orang-orang atau anak-anak Indonesia gitu
yang mau belajar bahasa Inggris. Karena
kan memang, apa, pangsa pasarnya besar
sekarang dan banyak orang yang mau belajar
bahasa Inggris, kayak sepupu-sepupu saya
juga, tapi mereka bahasa Inggrisnya
amburadul karena gurunya semua orang
Indonesia yang belum pernah ke Australia,
belum pernah ke Amerika gitu. Dan saya
waktu SMA tiga itu kan saya, oh iya, saya
sebenarnya belajarnya di Haileybury, tau
gak Tante? Itu kan sekolah VCE, Victorian
Curriculum. Jadi saya dapat itu nilai lima
puluh, jadi perfect fifty untuk bahasa
Inggrisnya. Jadi saya juga lumayan kayak
passionate soal bahasa Inggris.
Dan kalau Peter sendiri untuk secara
pribadi kedepannya apa nih rencananya
-menyelesaikan S2 kah atau bagaimana?
-Selesaikan S2, terus saya masih, hmm,
kayaknya masih mau lihat-lihat dulu, mau
iseng-iseng dulu ada apa kesempatannya
karena dalam jurusan kedokteran kan ada
banyak pilihan untuk mau jadi spesialis
apa. Dan biasanya orang mikirnya kayak
dokter operasi kayak surgeon gitu atau
bisa jadi GP atau kayak cardiology gitu
tapi ternyata ada banyak
jurusan spesialis lain yang saya dulu gak
tau juga. Jadi sekarang saya tertarik
dengan kayak policy and governance dan
juga apa, health advocacy, public health,
health system management. Karena menurut
saya, saya kenal banyak dokter dan
orang-orang lain yang kerja di jurusan
health yang mereka-mereka punya banyak ide
untuk cara membantu pasien. Tapi
manajemennya yang malah bilang mungkin
enggak boleh atau enggak kasih mereka dana
untuk lakukan hal-hal ini yang bisa
membantu pasien. Jadi menurut saya health
management itu adalah jurusan yang sangat
penting dan sebetulnya kita semua butuh
dokter-dokter untuk masuk posisi-posisi
yang eksekutif dan manajemen gitu. Biar
bisa membantu dokter-dokter yang masih
kerja dengan pasien untuk kasih perawatan
yang ... yang lebih baik lagi.
Pendengar, itu tadi perbincangan kami
dengan Peter Susanto. Peter, terima kasih
-ya dan sukses selalu ke depannya.
-Ya, terima kasih banyak.
END OF TRANSCRIPT