Kaila Lloyd, gadis berusia 12 tahun keturunan Vietnam-Australia, meraih gelar Best Female Fighter dan juara pertama kategori tanding pre-teen di Kejuaraan Pencak Silat Victoria 2026. Ia tidak punya hubungan darah dengan Indonesia. Pencak silat masuk ke hidupnya lewat pamannya yang berasal dari Bali.
Di dalam Collingwood Town Hall yang ramai penonton dan pesilat, mata tertuju ke arena. Seorang pesilat muda berkepang dengan seragam hitam berdiri di tengah, menatap lawannya dengan kedua tangan terangkat dalam posisi kuda-kuda.
Kaila Lloyd meluncurkan tendangan. Lawannya bertahan dan melancarkan serangan balik. Keduanya saling serang selama beberapa menit. Akhirnya wasit mengangkat tangan Kaila. Pesilat berusia 12 tahun itu menang
Kaila bukan hanya memenangkan satu pertandingan. Pada Minggu, 21 Juni 2026, ia meraih juara pertama di kategori tanding kelas A dan seni pre-teen putri di Kejuaraan Pencak Silat Victoria. Kejuaraan tahunan yang diselenggarakan oleh Australian Pencak Silat Federation (APSF) Victoria itu mempertemukan 64 atlet dari 11 perguruan.
Yang menarik dari kisah Kaila bukan hanya prestasinya. Ia bukan bagian dari diaspora Indonesia. Ibunya dari diaspora Vietnam, dan ayahnya orang Australia. Pencak silat masuk ke hidupnya lewat jalur keluarga: pamannya, suami dari saudara perempuan ayahnya, adalah orang Indonesia bernama Made Muzir.

Empat tahun lalu, ayahnya membawa Kaila ke tempat latihan dan Kaila melihat orang dewasa bergerak dengan gerakan pencak silat yang ia anggap keren, dan ia langsung tertarik, jelas Simon. Ia mulai dari seni, aspek artistik pencak silat, lalu beralih ke tanding, tambah Simon.
"Pencak silat menanamkan rasa percaya diri dalam dirinya. Dia jauh lebih kuat secara fisik dan mental, dan benar-benar keluar dari cangkangnya," kata Simon Lloyd, ayah Kaila, kepada SBS Indonesian.
Simon mengatakan pencak silat juga membuka koneksi keluarganya dengan komunitas Indonesia di Melbourne. Kaila berlatih di perguruan Bakti Negara, aliran silat asal Bali, yang anggotanya beragam, termasuk dari diaspora Indonesia. Perguruan itu seperti sebuah keluarga, kata Simon.
Kami selalu mendorong dia untuk menikmatinya dan melakukan yang terbaik. Dia mencintai silat, dan saya rasa itulah mengapa dia bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.Simon Lloyd, ayah Kaila.
Pencak silat sendiri adalah seni bela diri tradisional Indonesia yang UNESCO tetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2019, dan kini terus berkembang di Australia.
Ketika ditanya apa yang paling ia sukai dari pencak silat, Kaila tidak menyebut piala atau kemenangan. "Setiap hari Sabtu pergi latihan silat dan bertemu teman-teman," katanya.
Kejuaraan nasional akan digelar tahun depan. Kaila berpeluang tampil di tingkat yang lebih tinggi. Tapi untuk saat ini, setiap Sabtu, gadis berkepang itu tetap datang ke tempat latihan, mengangkat kedua tangannya dalam posisi kuda-kuda, dan bersiap bertarung.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesian.





