Zico Albaiquni, seniman visual asal Bandung sekaligus kandidat PhD di University of Melbourne, menggelar pameran tunggal bertajuk The Land That Refuses to Be Beautiful di galeri Ames Yavuz, Sydney, pada awal 2026.
Melalui pameran yang merangkum hasil karya selama tiga tahun masa studinya di Australia, Zico menyajikan kritik terhadap tradisi Mooi Indië yang dianggap mengaburkan kompleksitas sejarah Indonesia demi estetika kolonial yang molek.

Proses artistiknya sangat unik karena ia tidak memulai dari kanvas kosong, melainkan melukis di atas cetakan baliho berisi arsip publik dan personal yang kemudian diolah melalui tindakan menghapus atau mengubah bentuk sebagai sebuah dialektika visual.
Penggunaan warna-warna mencolok yang kerap dianggap kampungan sengaja dipilih sebagai bentuk perlawanan terhadap standar estetika Barat sekaligus upaya dekolonisasi yang berakar dari realitas visual keseharian Indonesia.
Di balik aspek teknis tersebut, karya-karyanya menyimpan muatan emosional mendalam karena menggunakan arsip keluarga dari Ciamis sebagai sarana bagi Zico untuk merawat ingatan dan tetap terhubung dengan memori masa kecil serta orang-orang tercintanya.
Lukisan itu nggak pernah kosong, nggak pernah ada blank canvas. Itu dari tumpukan memori, tumpukan kejadian, bahkan keseharian. Dan saya akhirnya mencetak itu dan melukis di atasnya, itu jadi semacam proses dialogZico Albaiquni



