Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Kanvas yang Tidak Pernah Kosong dalam Seni Berlapis Memori Zico Albaiquni

Zico Albaiquni ‘The Land that Refuses to be Beautiful’

Installation view of Zico Albaiquni ‘The Land that Refuses to be Beautiful’ at Ames Yavuz Sydney, photography by Simon Hewson. Credit: Simon Hewson (Zico Albaiquini and Ames Yavuz Gallery)

Bagi Zico Albaiquni, kanvas yang kosong tidak pernah benar-benar ada, karena setiap lukisan adalah tumpukan memori, sejarah, dan percakapan yang belum selesai.


Zico Albaiquni, seniman visual asal Bandung sekaligus kandidat PhD di University of Melbourne, menggelar pameran tunggal bertajuk The Land That Refuses to Be Beautiful di galeri Ames Yavuz, Sydney, pada awal 2026.

Melalui pameran yang merangkum hasil karya selama tiga tahun masa studinya di Australia, Zico menyajikan kritik terhadap tradisi Mooi Indië yang dianggap mengaburkan kompleksitas sejarah Indonesia demi estetika kolonial yang molek.

Nyanyian Bisu Orde Hijau Kemiskinan (The Mute Soliloquy under the Order of Poor Green).
Nyanyian Bisu Orde Hijau Kemiskinan (The Mute Soliloquy under the Order of Poor Green) 148 x 151 cm, Oil and Giclee on Canvas 2024. Credit: Zico Albaiquini and Ames Yavuz Gallery

Proses artistiknya sangat unik karena ia tidak memulai dari kanvas kosong, melainkan melukis di atas cetakan baliho berisi arsip publik dan personal yang kemudian diolah melalui tindakan menghapus atau mengubah bentuk sebagai sebuah dialektika visual.

Penggunaan warna-warna mencolok yang kerap dianggap kampungan sengaja dipilih sebagai bentuk perlawanan terhadap standar estetika Barat sekaligus upaya dekolonisasi yang berakar dari realitas visual keseharian Indonesia.

Di balik aspek teknis tersebut, karya-karyanya menyimpan muatan emosional mendalam karena menggunakan arsip keluarga dari Ciamis sebagai sarana bagi Zico untuk merawat ingatan dan tetap terhubung dengan memori masa kecil serta orang-orang tercintanya.

ZICOAL~1.JPG
Zico Albaiquni, visual artist and PhD candidate at the University of Melbourne, recently wrapped up his solo exhibition The Land That Refuses to Be Beautiful at Ames Yavuz gallery in Sydney.Dimas Kaisar Credit: Dimas Kaisar
Lukisan itu nggak pernah kosong, nggak pernah ada blank canvas. Itu dari tumpukan memori, tumpukan kejadian, bahkan keseharian. Dan saya akhirnya mencetak itu dan melukis di atasnya, itu jadi semacam proses dialog
Zico Albaiquni
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Speaker 1

Zico, apa kabar?

Speaker 2

Baik, apa kabar Anda?

Speaker 1

Nah, ini boleh Anda perkenalkan diri terlebih dahulu kepada pendengar SBS

Indonesian?

Speaker 2

Saya Zico Albaiquni, saya seorang seniman dan juga sekarang sedang

menyelesaikan studi PhD di University of Melbourne.

Saya sekeluarga, pindah ke Melbourne sekitar 3 tahun yang lalu.

Speaker 1

Anda baru saja pameran The Land That Refuses To Be Beautiful yang dilangsungkan

dari tanggal 29 Januari dan selesai 21 Februari lalu di Sydney.

Ini untuk pendengar yang tidak sempat datang, bentuknya apakah begitu yang Anda

pamerkan di sana?

Speaker 2

Ya, jadi pameran The Land That Refuses To Be Beautiful itu kemarin berlangsung

di M.C.A. Foos, Sydney.

M.C.A. Foos itu galeri yang di-present saya dari tahun 2017.

Nah, pameran ini tuh kemarin jadi serangkaian lukisan-lukisan yang berskala

besar.

Ada juga yang penengah dan ada lukisan-lukisan yang ukurannya kecil, kayak

ampat.

Dan itu saya gunakan seolah-olah seperti kertas ampat ya, kayak notes.

Nah, di sana juga saya tuh membawa kayak arsip-arsip yang saya buka.

Ada kopi-kopi arsipnya saya bawa dan memang dibuka buat publik yang mau baca,

silakan.

Jadi, saya sama pemerintah di M.C.A. Foos itu juga bilang kayak, let's just

make a reading room there.

Di sana jadi ada arsip dan kayak buku-buku personal yang saya miliki, saya juga

simpan di sana.

Bentuknya seolah-olah installatif, tapi sebenarnya bisa diambil dan diambil

dibaca.

Jadi, saya tuh membuat di pendekatannya itu ya kayak dengan semua elemen

seperti tersebut.

Jadi, lukisan tuh hadir sebagai objek, namun juga sekaligus sebagai ruang.

Yang secara keseluruhan jumlah karyanya kurang lebih ada sekitar 20-an.

Yang dibuat ya selama studio doktoral saya ini, selama 3 tahun terakhir ini,

gitu ya.

Pameran ini tidak cuma ngambilin lukisan sebagai gambar yang selesai, tapi juga

sebenarnya kayak jejak perjalanan saya itu, kayak tadi ada notes yang ampat.

Baik perjalanan secara geografis, istoris, menurut personal gitu.

Yang terbentuk dari hubungan saya dengan tanah, ingatan, dan warisan visual.

Ini judulnya tapi menarik juga ya, tanah yang menolak untuk menjadi indah.

Speaker 1

Ini temanya tentang apa ya?

Speaker 2

Jadi, sebenarnya ini tuh kalau tanah ini gitu ya, kalau dari sejarah seni rupa,

Indonesia pada masa kolonial tuh ada satu term yang cukup terkenal di antara

akademisi, seniman, yaitu yang disebut Moe Indie gitu.

Zaman kolonial Belanda, Moe Indie itu artinya Hindia Jelita.

Nah, buat saya hal itu tuh kayak gitu ya, itu tuh udah berabad-abad ya,

Indonesia tuh selalu digambarkan sebagai tanah yang indah gitu.

Tanah yang keindahannya tuh dibuat seolah-olah tuh menenangkan.

Tapi juga sebenarnya itu menutupi sesuatu, dan itu tuh menutupi konflik, ada

kehilangan, ada sejarah yang lebih kompleks sebenarnya gitu.

Jadi si judul ini tuh, saya mencoba membayangkan tanah tuh bukan sebagai

sesuatu yang harus cuma indah untuk dilihat, tapi sebagai ya emang itu, dia tuh

hidup, punya ingatan, dan ada luka, dan mungkin juga kandak untuk tidak selalu

menenangkan mata kita gitu.

Bukan cuma, oh, eye candy gitu, bukan itu gitu.

Karena, dan itu juga bukan yang saya tuliskan sebagai kayak menolak bentuk

beauty itu bukan dari menolakan yang rejektif, yang keras ya, tapi sebenarnya

tuh ini tuh ya mengajak untuk berpikir bersama.

Dan ini coming from here.

Speaker 1

Dan ini kan kalau dibilang tanah yang indah gitu ya, kalau dari sudut pandang

bukan orang Indonesia, ada juga terkesan seperti mengeksotisisme Indonesia ya?

Speaker 2

Betul, betul, betul.

Dan itu kan, itu sering ya, kita sadar-ngasadar tuh melakukan hal tersebut

gitu.

Dan cara kita menampilkan Indonesia kan selalu kadang-kadang di wilayah yang

sangat tipis seperti itu gitu.

Dan eksotisisme ini kan sesuatu yang juga muncul di tajuk-tajuk kalau misalnya

kita bicara tentang turisme gitu kan.

Jadi kayak Indonesia, terus kita hanya memperlihatkan performativity-nya gitu.

Dan itu hal yang kadang tuh menutupi banyak.

Ya, di karya saya tuh jadi banyak kayak bahwa performance, para performer dari

zaman kolonial kita, atau bahkan sebelum kolonial, karena performer kan awalnya

dari budaya, tari dan segala macam, dari keseharian.

Dan itu ada kelas sosial yang banyak kayak berurusan dengan kelas feodal, kelas

feodal yang punya kaitan dengan orang kolonial.

Jadi ada kompleksitas yang sangat rumit gitu.

Tapi kita hanya kadang-kadang selalu dimunculkan gitu.

Selamat datang di Indonesia, indah sekali.

Gunung luar gitu, sungai yang mengalir, indah gitu.

Sampai kayak lagu Ninja Hattori gitu sih.

Kayak kadang-kadang tuh sedihnya.

Tapi juga ya itu juga tantangannya jadi orang Indonesia ya.

Kita dikenal karena beauty, tapi beauty itu tuh sebenarnya tuh banyak layer

yang sebenarnya kita bisa terus pupas.

Saya juga sempat baca dalam teks pameran, Ziko menyebut bahwa karya-karyanya

tidak bisa dipisahkan dari cerita keluarga.

Itu apakah ada spesifik cerita tentang keluarganya atau bagaimana?

Sebagian karya yang saya buat ini tuh gitu, itu tuh berakar kembali ke Jawa

Barat.

Terutama saya orang Bandung, saya lahir di Bandung.

Dan juga saya besar juga di Ciamis.

Ciamis itu tempat kelahiran ibu saya.

Jadi tempat keluarga saya berasal.

Nah banyak gambar yang saya gunakan tuh emang berasal dari arsip-arsip

keluarga.

Dan juga tempat-tempat yang saya akhirnya kunjungi kembali dari yang bersama

orang tua saya dulu gitu, ada memori tersebut gitu.

Jadi, dan emang nggak bisa dipisahkannya itu karena emang selama saya berjalan

dengan penciptaan karya ini tuh, ibu saya tuh meninggal dunia tahun lalu tuh

gitu.

Jadi hubungan saya dengan tanah tuh jadi lebih berbeda.

Bahkan pulang ke Indonesia tuh juga jadi ada hal yang beda ya.

Karena ada yang pulang karena 7 harian, 40 harian, dan 100 harian gitu ya.

Jadi ada relasi yang membuat saya menyadari bahwa tanah tuh bukan hanya tempat

kita berdiri, tapi juga tempat di mana memori dan keadaan orang-orang yang saya

cinta itu tinggal gitu.

Bahkan jadinya tuh pas lukiskan ini gitu, tadi ngomongin tadi tentang bahwa ada

kelemuan karya keluarga dan tenaga leluhur, melukis tuh jadi cara untuk menjaga

human ini gitu.

Jadi kayak waktu, apalagi kan ibu saya waktu terakhir tuh sakit.

Jadi sering saya ketika saya bikin lukisannya di Melbourne, saya kirim Mak

lihat saya bikin ini gitu.

Nah itu tuh jadi kayak surat menyurat bahkan gitu, beberapa karya yang saya

pamerkan ini tuh.

Speaker 1

Saya turut berduka atas meninggalnya ibu dari Ziko.

Dan juga menurut saya itu sangat indah dan sangat menyentuh karena bentuk surat

menyurat antara Anda dengan Mendiang itu sangat unik, tapi juga bercerita

banyak.

Speaker 2

Terima kasih banyak.

Speaker 1

Dan dalam teks pameran kan Ziko menyebut mencetak gambar arsip, lalu melukis

begitu ya di atasnya, benar?

Speaker 2

Betul, betul, betul.

Kenapa bukan dari kanvas kosong ya?

Mungkin saya ceritain dulu ya, mencetak arsip tuh, itu tuh ini ya, satu cetak

tuh dengan teknik baligo ya.

Baligo karena lukis gitu ya, dari kalau misalnya bahasa lukis dari pengertian

sediakala Indonesia, terutama buat orang Sunda dan Jawa gitu, dari angkata

-angkisa itu tuh biasanya tuh dia tuh bisa berubah-rubah bentuk gitu.

Dan dulu tuh mungkin yang paling mendekati ini tuh saya punya imajinasi tuh

wayang beber.

Dan ini tuh akhirnya saya juga menggunakan teknik cetak baligo tuh, kalau saya

ngebayangin tuh karena memori besar kalau di Indonesia ya, keluar dari rumah,

baru aja keluar rumah, di setiap tiang-tiang antara tiang listrik tuh selalu

ada baligo-baligo, mau itu partai-partai gitu, belum lagi promo-promo apa gitu.

Ya si ruangan tuh kan emang gak pernah kosong.

Dan juga buat saya tuh gak pernah kosong tuh, karena ini tuh si pengetahuan

tentang lukis dan juga sejarahnya, baik itu yang didominasi oleh Western gitu,

menyatukan dengan apa ya maksudnya tuh kanon bahwa, oh painting itu datang dari

renaissance dan segala macam, seolah-olah itu tuh kanonnya tuh hanya diciptakan

oleh Barat dan seluruh dunia yang lain tuh hanya jadi penonton.

Padahal tidak seperti itu, dan itu sudah sangat penuh gitu, dan jadinya buat

saya tuh kayak itu metafora yang harus saya kerjakan gitu.

Lukisan tuh gak pernah kosong, gak pernah ada blank canvas.

Itu tuh benar-benar dari tumpukan memori, tumpukan kejadian, bahkan keseharian

saya, ruang kelas sosial kita dibesarkan bagaimana gitu.

Harus berhadapan dengan baligo, promo, iklan, kadang-kadang juga selamat

lebaran dan segala macam yang tidak pernah usai gitu.

Dan saya akhirnya mencetak itu dan lukis di atasnya itu buat saya tuh jadi

semacam proses dialog gitu.

Bukan hanya jadi kayak, oh saya kesel, marah atau apa-apa, tapi emang saya

berhadapan gitu yang saya kerjakan ini tuh, yang saya hadapi sehari-hari.

Jadi kadang saya tuh beneran yang karena dicetak tuh saya kayak ngejiplak gitu,

kayak saya ngikutin gambarnya apa, tapi tetap dengan lukisan, itu kan ada

perubahan ya gitu.

Dan kadang-kadang juga saya nolak gitu, jadi saya kayak hapus, saya bentuk,

ubah warna paling sering pasti gitu.

Dan kadang bener-bener ditutup, atau emang dibiarkan jadi plain gitu.

Jadi emang si proses itu tuh jadi proses dialektika gitu ya, antara saya, si

pencipta, bahkan dengan ciptaan yang saya lakukan yang sebenarnya tuh bukan

milik saya.

Kayak cerita oleh, dari cerita masyarakat, cerita rakyat, atau cerita mitos

atau arsip.

Saya rasa tuh lukis dalam pengertian orang Indonesia tuh punya proses itu gitu.

Speaker 1

Nah tadi bicara tentang warna nih, kenapa lukisan-lukisan Anda sangat kaya akan

warna nih?

Speaker 2

Warna ini tuh sering disebut warna kampungan.

Gitu, apalagi kayak orang Sunda tuh kayak supaya dibandingin, wah warnanya

ngejreng gitu.

Buricak burinong adalah istilah-istilah seperti itu gitu.

Terus warna ini tuh ya warna yang dipanggil oleh pengalaman visual saya tuh di

Indonesia.

Warna baligo, warna spanduk politik, warna tekstil, warna yang kalau ada di

supermarket, di Bandung tuh ada borma, murah banget gitu.

Warna yang hadir itu tuh ya warna-warna sehari-hari.

Nah warna ini kan sering juga disebut kampungan tuh karena dianggap sangat

berisik, terlalu emosional, atau dianggap vulgar dalam konteks sejarah seni

rupa barat.

Nah bagi saya tuh ya itu gitu, negosiasi itu di sana, bekerjaan.

Kan kadang serenity atau misalnya tuh simbolisme tentang warna yang high

culture tuh yang dianggapnya tuh minimally is muted gitu dan warna-warna yang

justru muncul dari kita orang global south emang begitu hidup, lively, penuh

emosi gitu.

Yang emang juga tidak bisa dipisahkan dari gimana keadaan pasar membentuk.

Itu di masa modern setelah munculnya plastik dan segala macemnya gitu.

Jadi ada buat saya tuh, di sana tuh upaya saya mendekolonialisasi juga gitu.

Warna tuh jadi untuk membawa kembali energi kehidupan dan juga ya itu tuh kayak

resistensi terhadap cara melihat karena biasanya terlalu dikontrol gitu.

Kan kalau di Australia gitu, saya tinggal di Albert Park tuh ya lucu gitu.

Ada sih warna hijau tapi harus Victorian Green karena ada rules-nya ya di sini

gitu.

Nah tapi itu menarik dan ada konteks yang saya pelajari karena berpindah uangan

ya gitu ke Australia.

Speaker 1

Nah ini yang menjadi penikmat karya-karya Anda nih yang di dalam pikiran Anda

ditujukan ini Indonesian Diaspora atau Public Australia secara umum atau dua

-duanya?

Speaker 2

Sebenarnya enggak ada ya benar.

Kayak itu tadi yang kalau bilang Anda jadi emang enggak spesifik harus dipada

diaspora Indonesia gitu.

Ya ini secara umum gitu.

Dan emang kayak ada referensi-referensi yang itu saling cross gitu.

Saya dapetin misalnya di sini karena saya itu bertemu dan akhirnya mendapatkan

cerita dari orang Darawal di Campbell Town atau waktu itu dapat cerita dari

Aunty Destiny Deakin gitu di sini.

First Nation dari Gunung Urung gitu.

Yang nggak mungkin kayak nggak bisa langsung dipahami oleh orang Indonesia tapi

dipahami oleh orang Australia.

Dan mungkin tapi spesifik orang mananya juga gitu.

Semua itu ada hal-hal lain spesifiknya.

Cuma ya di sana itu saya ngebayangin bahwa karya-karya ini itu ya jadinya harus

bertemu.

Mungkin bagi diaspora Indonesia ada memori yang jadi mereka dekat.

Nah juga bagi orang Australia tadi itu yang dekat buat mereka seperti apa.

Dan ada juga yang terasa asing.

Tapi karena itu mungkin bisa aja jadinya itu ya orang diaspora sama orang sini

ya jadi ngobrol gitu.

Jadi istana saya itu ya jadi conversation piece.

Jadi semacam ice breaking antara macam-macam orang yang berbeda di tanah ini

sekarang gitu.

Jadi saya tidak melihat ini sebagai oh ini representasi Indonesia.

Tapi ya mungkin lebih udah emang pengalaman jujur dari posisi saya sendiri

sebagai seseorang yang hidup di antara dua tempat itu.

Penasaran juga nih pendengar dan saya.

Apa yang awalnya menginspirasi Ziko menjadi seniman ya?

Wah itu ayah saya seniman.

Namanya Tisna Sanjaya.

Dan ibu saya juga dulu guru bahasa Indonesia.

Tapi juga berteater.

Jadi sejak kecil itu saya melihat seni itu bukan hal yang jauh gitu.

Jadi kayak bener-bener seni itu kayak gimana ya.

Dia tuh ya datang perlahan.

Terus jadi gak bisa dipisahkan sama keseharian.

Bahkan kayak bahasa ayah saya tuh selalu di karya-karyanya dia emang nulisin

seni adalah keseharian.

Ini ayah itu.

Seni itu bukan hanya si objek karyanya gitu ya.

Tapi emang dari obrolan, dari sehari-hari, atau dari keseharian itu ya kita

ngelihatnya tuh kayak seni itu ya kebutuhan untuk memahami pengalaman diri

sendiri.

Misalnya buat saya kadang-kadang misalnya oh belukis menjadi cara berpikir.

Misalnya gitu.

Belukis tuh bukan mikirin cara buat gambar.

Tapi gimana saya cara saya bisa berpikir gitu.

Dan itu tuh ya menjadi seniman tuh kayak gitu ya.

Mungkin karena lingkungan gitu.

Terus itu juga hal yang sangat saya syukuri ya gitu.

Speaker 1

Dibesarkan oleh dua orang tua yang support.

Benar-benar berakar dari keluarga seni ya.

Speaker 2

Iya betul.

Speaker 1

Dan ini kan Zico tinggal di Australia dan mendalami PhD di University of

Speaker 2

Melbourne.

Speaker 1

Ini sedang meneliti apa nih?

Mungkin secara garis besar saja.

Speaker 2

Secara garis besar emang tentang itu ya.

Lukisan.

Bahkan saya beneran kayak memilih untuk menggunakan kata lukis dibandingkan

painting.

Jadi lukis sebagai praksis.

Karena dari bahasa itu, saya menemukan ya itu trajektori yang berbeda gitu.

Bagaimana lukis tuh lebih sebagai kata kerja.

Kayak lucu ya misalnya kan kita juga terbiasa misalnya orang Indonesia nanti

pasti bingung gitu.

Speaker 1

Bukannya lukis tuh sama dengan painting.

Speaker 2

Ya benar gitu.

Sebagai translation.

Tapi kalau misalnya kita memahami bahasa sebagai ininya gitu etimologinya gitu.

Dan saya rasa itu menarik gitu.

Karena saya menemukan tulisan dari almarhum Saninto Yuliman.

Penulis, pemikir, kritikus Indonesia aktif tahun 70-an.

Dia meneliti tentang asal-muasal kata lukis.

Dan menarik sekali gitu.

Bahwa karena itu tuh logika yang berbeda.

Cara berpikir yang berbeda dari orang-orang tradisi kita gitu ya.

Mungkin saya harus berlangganan dari orang Sunda dan Jawa misalnya.

Karena itu tuh menarik sekali.

Bahwa kalau misalnya itu dibaca sebagai trajektori ke depannya.

Ternyata mungkin ada persimpangan yang berbeda.

Dan saya bukan berarti saya menghapuskan painting dan kembali ke lukis.

Atau saya jadi masalah agnografi about like oh this is the best gitu.

Kayak make lukis great again.

Bukan itunya gitu.

Tapi kayak ada pengetahuan-pengetahuan yang buat saya tuh kayak wah saya

beneran belajar lagi.

Bukan saya NS3 tuh saya jadi master of this knowledge.

Tapi saya tuh beneran terkaget-kaget gitu kadang-kadang.

Oh menemukan.

Kadang-kadang gitu ya bahwa ada banyak arsip tuh baru ketemu tuh.

Saya tidak terbayang tiga tahun yang lalu saya bakal temukan di tahun kedua

atau ketiga ini gitu.

Jadi kayak itu tuh hal yang menarik gitu.

Dan menariknya ya karena ada tawaran gitu.

Mengenai bagaimana pemikiran artistik.

Atau bahkan juga ada bagaimana cara berpikir filsafati.

Ternyata yang berbeda dan membuat saya jadi memahami oh mungkin ini ya.

Cara berpikir alam bawah sadar orang Indonesia ketika melihat sebuah

penggambaran.

Atau yang akhirnya misalnya sekarang.

Oh ketika ada misalnya tuh representasi politik di depan mata kita.

Kenapa cara gambarnya seperti itu.

Karena ternyata ada tradisi yang mungkin ini gitu.

Alam bawah sadarnya tuh dari kata lukis.

Speaker 1

Baik.

Tadi di awal-awal Zico sempat menyebutkan soal kolonialisme ya.

Australia itu kan punya sejarah kolonialnya sendiri terhadap First Nation

people begitu.

Bagaimana rasanya menjadi seniman Indonesia di dunia seni kontemporer

Australia?

Speaker 2

Oh seru.

Sebenarnya seru, menarik.

Dan tentu banyak tantangannya ya.

Setahun, dua tahun awal saya benar-benar masih kayak adaptasi banget gitu ya.

Karena banyak yang saya rasakan tuh dari orientasi yang saya perusahaan

lakukan.

Dan seniman Indonesia tuh ya sudah bukan hal yang baru karena saya gitu.

Justru udah terjadi dari angkatan-angkatan sebelumnya gitu.

Dari bahkan kayak ada Asia Pacific Triennal yang pertama tuh tahun 90-an.

Ada Adepirus, ada FX Arsono, ada bapak saya juga.

Ada Rahmayani.

Seniman-seniman sebelum saya yang memang karyanya sudah dikenal di Australia.

Dan itu tuh udah bikin saya merasakan ada footpath yang oh we are going on the

same path gitu.

Dan oh mereka udah ngebangun banyak gitu.

Jadi tidak asing sebenarnya buat publik Australia itu tentang seni rupa

Indonesia gitu.

Terutama di diskursi-diskursinya ya.

Dan banyak sekali sebenarnya seniman Indonesia yang udah ada di Melbourne

sebelum saya.

Seperti Okora gitu.

Dan ya juga sangat membantu saya beradaptasi di sini gitu.

Terus menariknya Australia banyak sekali ya.

Karena ada sistem yang ya oh ini sistem institusi seni itu seperti apa.

Komersial seperti apa.

Artis running space seperti apa.

Yang di Indonesia ada juga.

Tapi di Indonesia tuh memang kemandirian seniman dan kerja seni tuh yang bener

-bener berada di garda terdepannya ya.

Kalau di sini tuh mungkin yang saya merasa kayak wah seru banget ya.

Karena irisan-irisannya banyak gitu.

Ada dengan pemerintah, ada dengan publik, dan segala macamnya yang lebih luas.

Dan mungkin ya karena sudah ada kenyamanan dan kejelasan.

Oh mungkin.

Dan itu juga hal yang saya rasa menarik untuk direfleksikannya.

Jadi sebagai seniman di Australia itu satu kata seru.

Dua kata, tiga kata, seribu katanya banyak banget gitu sebenarnya.

Dan juga sedihnya juga ada.

Sedihnya juga ada gitu.

Tapi saya rasa pengalaman yang saya ingin bagikan itu karena banyak banget yang

bikin saya lebih curious dibandingkan bikin saya down.

Speaker 1

Baik.

Zico, terima kasih ya atas waktunya sudah berbincang dengan SBS Indonesian.

Speaker 2

Terima kasih banyak atas kesempatannya.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now