Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Musisi Australia Matahara Bawa Nada Indonesia dalam Musik Indie Pop-nya

Matahar

Matahara, the Australian musician weaving Indonesian sounds into her Indie Pop. Credit: SBS Indonesian/Anne Parisianne

Marissa Yudinar, penyanyi-penulis lagu asal Jakarta yang berkarier di Australia dengan nama panggung Matahara, menemukan "titik tengah" unik antara dua budaya yang diam-diam mewarnai musiknya.


Matahara adalah nama panggung Marissa Yudinar, musisi indie pop asal Jakarta yang kini tinggal di Melbourne. Sejak merilis EP pertamanya pada 2021, ia telah mengeluarkan dua EP dan empat single, dan kini tengah menggarap album perdananya secara independen.

Meski liriknya berbahasa Inggris, teman-teman musisinya sering mengenali nada dan melodi bernuansa Indonesia dalam lagunya, kata Marissa kepada SBS Indonesian. Unsur-unsur itu muncul secara tidak disadari dalam pilihan melodinya, menurutnya.

Selama berkarier di dunia musik sejak 2020, Marissa lebih banyak bermain di skena musik Australia. Namun keterlibatannya di acara Pasar Senja yang diadakan oleh Nongkrong Festival di Melbourne menjadi titik balik yang mempertemukannya dengan komunitas kreatif Indonesia di sini.

Ia menyebut posisinya sebagai musisi Indonesian-Australian justru sebagai keuntungan. Tumbuh dengan mendengarkan musik Barat dan Indonesia, menurut Marissa, memberinya kekayaan inspirasi yang menempatkannya di posisi yang menurutnya cukup unik.

Marissa mengatakan ia berharap bisa tampil di Jakarta, Bandung, dan Jogja. Ia juga ingin tur di kota-kota lain di Australia. Ia mengatakan keinginan terbesarnya adalah memperkenalkan musiknya ke lebih banyak orang.

Dengarkan podcast ini selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Matahara adalah nama panggung Marissa Yudinar, musisi indie pop asal Jakarta

yang kini berkarier di Melbourne. Saat ia tampil di pasar senja yang diselenggarakan

oleh Nongkrong Festival di Fed Square Melbourne di bulan Februari lalu, saya

berkesempatan berbincang dengan Marissa tentang perjalanan musiknya, apa rasanya

berkarier di skena musik Australia, dan bagaimana dua budaya yang ia bawa

membentuk suara Matahara. Berikut percakapan kami. Marissa adalah seorang

-penyanyi. Apakah main instrumen juga? -Yes, aku main gitar, aku main piano, dan

-aku juga nulis lagu. -Nah, ini kan kamu tampil dengan nama

Matahara ya. Ini sebenarnya Matahara itu nama band, nama stage atau bagaimana?

-Terus apa sih maknanya? -Jadi Matahara itu sebenarnya nama panggung

aku. Nama asli aku Marissa. Dari dulu aku memang sudah bercita-cita ingin menjadi

penyanyi, singer-songwriter. Jadi pas cita-cita itu dimulai, aku udah tahu aku

tuh enggak mau pakai nama asli, enggak mau jadi Marissa. Jadi aku mencari-cari nama

dan akhirnya Matahara dapat. Memang, ya as you can imagine, diawali dari matahari,

tapi udah banyak nih matahari. Jadi aku ganti Matahara karena nama aku Marissa

banyak A-nya. Jadi aku kayak ya udah Matahara aja.

-Ini genre musik yang kamu bawakan apa? -Genre music yang aku bawakan sebenarnya

campur-campur karena aku memang penggemar musik. Jadi aku tidak meng-limit musik aku

untuk jadi satu genre aja. Tapi kalau untuk biar gampang menjelaskan ke orang,

-aku bilang aku buat musik indie pop. -Liriknya berbahasa apa nih?

Lirik aku so far berbahasa Inggris. Aku merasa masih lebih mudah untuk aku

mencurahkan isi hati hanya karena bahasa Indonesia aku sangat lebih, menurut aku

lebih formal dan aku kalaupun suatu hari bikin bahasa Indonesia pengen yang bagus,

-puitis, dan indah gitu. [tertawa] -Berarti kamu yang menulis lirik sendiri?

Aku tulis lagu sendiri, aku bikin aransemen sendiri, semua sendiri, tapi

biasanya aku bakal menyelesaikan musiknya sama produser aku yang juga gitaris aku

yang hari ini main juga namanya Robert P. Downey.

Dan kamu sudah mengeluarkan album kah, EP, atau singles atau bagaimana?

Jadi aku mulai bermusik 2020 pas COVID. Di 2021 aku rilis EP pertama aku, empat

lagu judulnya Triple Alliteration. Terus the next year aku ngerilis EP kedua aku,

lima lagu judulnya Oscillating in Imaginary Butterflies. Tahun 2024 aku cuma

ngeluarin single, ada empat single tahun itu. Dan 2025 tahun lalu aku masih, aku

sebenarnya lagi mengerjakan album perdana.

Sebagai musisi Indonesian-Australian, apakah dengan latar belakang Indonesia itu

membawa tantangan tersendiri untuk memasuki kancah musik Australia?

Ya sebuah tantangan menurut aku, tapi juga at the same time juga sesuatu yang aku

sangat pikir kayak apa ya privilege untuk ada sisi Indonesia aku, ada sisi Australia

aku. Karena enggak tahu ya, aku merasa jadi ada sebuah balance, titik tengah di

mana aku bisa memasukkan si dua culture ini into my music dan growing up aku

sering dengerin western music terus Indonesian music. Jadi menurut aku lebih

menjadi banyak ini aja sih inspirasi dan referensi. Jadi aku merasa aku di titik

yang cukup unik dan cukup kayak menguntungkanlah bisa ada di tengah ini.

Di Melbourne kamu merasa jadi bagian dari komunitas kreatif Indonesia di sini atau

lebih ke scene musik Australia secara umum?

Aku baru aja bikin post di Instagram tentang pertanyaan ini. Aku sering banget

menulis tentang rumah, kayak concept of home. Aku sering nulis tentang how aku tuh

punya dua rumah nih dan dua rumah ini aku sangat cintai. I love them both equally

gitu. Dan aku merasa rumahku Jakarta dan Melbourne tuh aku sangat nyaman, aku

senang bisa punya dua rumah ini gitu. Nah, aku selama bermusik dari tahun 2020 aku

sejujurnya lebih merasa aku masuk ke scene Australia gitu. Aku enggak pernah juga

ketemu atau main acara Indonesia's until Nongkrong tahun ini ngajak aku main, baru

aku merasa kayak oh my god ini again ngomongin si titik tengah itu dan aku

merasa si Nongkrong ini adalah sebuah komunitas yang just perfectly encapsulate

Matahara. Karena aku Melbourne, kayak aku Indonesian musician tapi based in

Melbourne. Jadi it's perfect dan I think dari titik ini aku akan merasa aku a part

of Aussie music scene and Indonesian music scene.

Berarti pindah ke Melbourne umur berapa atau pindah ke Australia ya umur berapa?

Pindah sebelas tahun lalu pas aku umur lima belas tahun, sekarang aku dua puluh

-enam. -Ini gimana sih ceritanya nih Marissa bisa

-jadi musisi? -Jadi aku memang dari dulu pecinta musik,

keluarga semua suka musik. Tadinya awalnya aku pengen jadi filmmaker, memang

keluarga aku cukup nyeni lah ya suka, kita suka banget musik, suka film. Nah

kebetulan ada keluarga family friend di Melbourne yang kebetulan baik banget dan

mengambil aku ke Melbourne umur lima belas tahun. Di situlah aku mulai mengeksplor,

udah emang sudah pecinta musik terus mengeksplor Melbourne local music scene.

Terus dari situ baru aku kayak, oh ini menarik juga sih dan aku akhirnya

mencoba-coba nulis lagu pas umur lima belas tahun itu. Dan juga itu kan banyak

perasaan-perasaan baru tuh homesick, terus jauh dari keluarga, pokoknya banyaklah si

perasaan itu. Jadi aku akhirnya mencoba untuk menulis atau mentransfer si

perasaan-perasaan ini ke lagu yangKarena aku gak jago juga mengutarakan perasaanku

ke keluarga atau teman. Jadi akhirnya aku nulis aja di kamar sendiri. Dari SMA

akhirnya udah mulai-mulai nulis aku dan gitarku baru pas lulus kuliah aku baru

-bermusik professionally. -Ngomong-ngomong nih ada gak sih sesuatu

misalnya hal yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang masih Marissa bawa dan

pegang sampai sekarang, entah itu dalam kehidupan bermusik ataupun sehari-hari.

Banyak sih ya. Mungkin aku nggak bisa share satu satu, tapi dalam bermusik deh

contoh aku merasa sisi Indonesia aku masih sangat mungkin nggak terlalu

obvious ya dalam musik aku. Tapi kalau kalian dengar musik aku yang awal tuh dari

EP satu, banyak suara-suara apa ya kalau dalam term musicnya kayak blipy blip blup

gitu kayak little blip blup blup gitu. Sebenarnya nadanya berunsur Indonesia.

Banyak banget yang temen-temen aku suka datang ke aku bilang kayak, "Ini lagu lo

kayak Indonesia ya? Kayak ini ada unsur-unsur Indonesianya." Jadi kayaknya

memang subconsciously di kepala aku nada kadang pilihan-pilihan melody choices aku

atau apa mungkin masih ada unsur Indonesianya gitu. Aku pun bukannya ini

sih aku enggak emang niat pengen gitu enggak, jadi emang ada aja di kepala aku

keluarlah dan orang ternyata notice. Jadi kayaknya kalau dalam musik tuh masih ada

sih aku membawa ya suara-suara Indonesia dalam bermusik.

Kepengen gak nanti bermusik juga di Indonesia atau belum kepikiran?

Sangat, sangat ingin. Aku dari dulu, dari aku mulai bermusik di Melbourne udah

pengen nge-plan banget untuk punya show di Jakarta dan Bandung dan Jogja itu my main

three. I feel like kalau suatu hari ada kesempatan untuk main, aku usahakan pengen

banget main di tiga kota itu dulu. Terus dan juga pengen kenalan sama banyak musisi

Indonesia yang untungnya aku di Melbourne sudah mulai dikit-dikit kenal-kenalan

-sama musisi-musisi Indonesia. -Ke depannya mimpi Matahara terbesar apa

-nih? -Jadi aku lagi ngerjain album nih. Aku

kayaknya sih akan merilis album ini secara independent yang ada untungnya, ada

enggak untungnya juga. Aku jadi banyak apa ya sisi kreatifnya lebih bisa kontrol

gitu ya. Tapi semoga ya aku cuma ingin memperkenalkan musikku aja ke orang-orang

lebih banyak lagi. Makanya ini main di Nongkrong Happy banget di Fed Square di

tengah kota. Jadi ya aku goal-nya sih just keep playing music. Aku pengen main

konser banyak banget di mana-mana. Aku pengen tour Australia juga. Aku pengen

banget main di Sydney. Aku dua tahun lalu udah main di Brisbane. Aku pengen banget

main di Sydney. Dan ya aku just, I just wanna keep going.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now