Matahara adalah nama panggung Marissa
Yudinar, musisi indie pop asal Jakarta
yang kini berkarier di Melbourne. Saat ia
tampil di pasar senja yang diselenggarakan
oleh Nongkrong Festival di Fed Square
Melbourne di bulan Februari lalu, saya
berkesempatan berbincang dengan Marissa
tentang perjalanan musiknya, apa rasanya
berkarier di skena musik Australia, dan
bagaimana dua budaya yang ia bawa
membentuk suara Matahara. Berikut
percakapan kami. Marissa adalah seorang
-penyanyi. Apakah main instrumen juga?
-Yes, aku main gitar, aku main piano, dan
-aku juga nulis lagu.
-Nah, ini kan kamu tampil dengan nama
Matahara ya. Ini sebenarnya Matahara itu
nama band, nama stage atau bagaimana?
-Terus apa sih maknanya?
-Jadi Matahara itu sebenarnya nama panggung
aku. Nama asli aku Marissa. Dari dulu aku
memang sudah bercita-cita ingin menjadi
penyanyi, singer-songwriter. Jadi pas
cita-cita itu dimulai, aku udah tahu aku
tuh enggak mau pakai nama asli, enggak mau
jadi Marissa. Jadi aku mencari-cari nama
dan akhirnya Matahara dapat. Memang, ya as
you can imagine, diawali dari matahari,
tapi udah banyak nih matahari. Jadi aku
ganti Matahara karena nama aku Marissa
banyak A-nya. Jadi aku kayak ya udah
Matahara aja.
-Ini genre musik yang kamu bawakan apa?
-Genre music yang aku bawakan sebenarnya
campur-campur karena aku memang penggemar
musik. Jadi aku tidak meng-limit musik aku
untuk jadi satu genre aja. Tapi kalau
untuk biar gampang menjelaskan ke orang,
-aku bilang aku buat musik indie pop.
-Liriknya berbahasa apa nih?
Lirik aku so far berbahasa Inggris. Aku
merasa masih lebih mudah untuk aku
mencurahkan isi hati hanya karena bahasa
Indonesia aku sangat lebih, menurut aku
lebih formal dan aku kalaupun suatu hari
bikin bahasa Indonesia pengen yang bagus,
-puitis, dan indah gitu. [tertawa]
-Berarti kamu yang menulis lirik sendiri?
Aku tulis lagu sendiri, aku bikin
aransemen sendiri, semua sendiri, tapi
biasanya aku bakal menyelesaikan musiknya
sama produser aku yang juga gitaris aku
yang hari ini main juga namanya Robert P.
Downey.
Dan kamu sudah mengeluarkan album kah, EP,
atau singles atau bagaimana?
Jadi aku mulai bermusik 2020 pas COVID. Di
2021 aku rilis EP pertama aku, empat
lagu judulnya Triple Alliteration. Terus
the next year aku ngerilis EP kedua aku,
lima lagu judulnya Oscillating in
Imaginary Butterflies. Tahun 2024 aku cuma
ngeluarin single, ada empat single tahun
itu. Dan 2025 tahun lalu aku masih, aku
sebenarnya lagi mengerjakan album perdana.
Sebagai musisi Indonesian-Australian,
apakah dengan latar belakang Indonesia itu
membawa tantangan tersendiri untuk
memasuki kancah musik Australia?
Ya sebuah tantangan menurut aku, tapi juga
at the same time juga sesuatu yang aku
sangat pikir kayak apa ya privilege untuk
ada sisi Indonesia aku, ada sisi Australia
aku. Karena enggak tahu ya, aku merasa
jadi ada sebuah balance, titik tengah di
mana aku bisa memasukkan si dua culture
ini into my music dan growing up aku
sering dengerin western music terus
Indonesian music. Jadi menurut aku lebih
menjadi banyak ini aja sih inspirasi dan
referensi. Jadi aku merasa aku di titik
yang cukup unik dan cukup kayak
menguntungkanlah bisa ada di tengah ini.
Di Melbourne kamu merasa jadi bagian dari
komunitas kreatif Indonesia di sini atau
lebih ke scene musik Australia secara
umum?
Aku baru aja bikin post di Instagram
tentang pertanyaan ini. Aku sering banget
menulis tentang rumah, kayak concept of
home. Aku sering nulis tentang how aku tuh
punya dua rumah nih dan dua rumah ini aku
sangat cintai. I love them both equally
gitu. Dan aku merasa rumahku Jakarta dan
Melbourne tuh aku sangat nyaman, aku
senang bisa punya dua rumah ini gitu. Nah,
aku selama bermusik dari tahun 2020 aku
sejujurnya lebih merasa aku masuk ke scene
Australia gitu. Aku enggak pernah juga
ketemu atau main acara Indonesia's until
Nongkrong tahun ini ngajak aku main, baru
aku merasa kayak oh my god ini again
ngomongin si titik tengah itu dan aku
merasa si Nongkrong ini adalah sebuah
komunitas yang just perfectly encapsulate
Matahara. Karena aku Melbourne, kayak aku
Indonesian musician tapi based in
Melbourne. Jadi it's perfect dan I think
dari titik ini aku akan merasa aku a part
of Aussie music scene and Indonesian music
scene.
Berarti pindah ke Melbourne umur berapa
atau pindah ke Australia ya umur berapa?
Pindah sebelas tahun lalu pas aku umur
lima belas tahun, sekarang aku dua puluh
-enam.
-Ini gimana sih ceritanya nih Marissa bisa
-jadi musisi?
-Jadi aku memang dari dulu pecinta musik,
keluarga semua suka musik. Tadinya awalnya
aku pengen jadi filmmaker, memang
keluarga aku cukup nyeni lah ya suka, kita
suka banget musik, suka film. Nah
kebetulan ada keluarga family friend di
Melbourne yang kebetulan baik banget dan
mengambil aku ke Melbourne umur lima belas
tahun. Di situlah aku mulai mengeksplor,
udah emang sudah pecinta musik terus
mengeksplor Melbourne local music scene.
Terus dari situ baru aku kayak, oh ini
menarik juga sih dan aku akhirnya
mencoba-coba nulis lagu pas umur lima
belas tahun itu. Dan juga itu kan banyak
perasaan-perasaan baru tuh homesick, terus
jauh dari keluarga, pokoknya banyaklah si
perasaan itu. Jadi aku akhirnya mencoba
untuk menulis atau mentransfer si
perasaan-perasaan ini ke lagu yangKarena
aku gak jago juga mengutarakan perasaanku
ke keluarga atau teman. Jadi akhirnya aku
nulis aja di kamar sendiri. Dari SMA
akhirnya udah mulai-mulai nulis aku dan
gitarku baru pas lulus kuliah aku baru
-bermusik professionally.
-Ngomong-ngomong nih ada gak sih sesuatu
misalnya hal yang berkaitan dengan budaya
Indonesia yang masih Marissa bawa dan
pegang sampai sekarang, entah itu dalam
kehidupan bermusik ataupun sehari-hari.
Banyak sih ya. Mungkin aku nggak bisa
share satu satu, tapi dalam bermusik deh
contoh aku merasa sisi Indonesia aku masih
sangat mungkin nggak terlalu
obvious ya dalam musik aku. Tapi kalau
kalian dengar musik aku yang awal tuh dari
EP satu, banyak suara-suara apa ya kalau
dalam term musicnya kayak blipy blip blup
gitu kayak little blip blup blup gitu.
Sebenarnya nadanya berunsur Indonesia.
Banyak banget yang temen-temen aku suka
datang ke aku bilang kayak, "Ini lagu lo
kayak Indonesia ya? Kayak ini ada
unsur-unsur Indonesianya." Jadi kayaknya
memang subconsciously di kepala aku nada
kadang pilihan-pilihan melody choices aku
atau apa mungkin masih ada unsur
Indonesianya gitu. Aku pun bukannya ini
sih aku enggak emang niat pengen gitu
enggak, jadi emang ada aja di kepala aku
keluarlah dan orang ternyata notice. Jadi
kayaknya kalau dalam musik tuh masih ada
sih aku membawa ya suara-suara Indonesia
dalam bermusik.
Kepengen gak nanti bermusik juga di
Indonesia atau belum kepikiran?
Sangat, sangat ingin. Aku dari dulu, dari
aku mulai bermusik di Melbourne udah
pengen nge-plan banget untuk punya show di
Jakarta dan Bandung dan Jogja itu my main
three. I feel like kalau suatu hari ada
kesempatan untuk main, aku usahakan pengen
banget main di tiga kota itu dulu. Terus
dan juga pengen kenalan sama banyak musisi
Indonesia yang untungnya aku di Melbourne
sudah mulai dikit-dikit kenal-kenalan
-sama musisi-musisi Indonesia.
-Ke depannya mimpi Matahara terbesar apa
-nih?
-Jadi aku lagi ngerjain album nih. Aku
kayaknya sih akan merilis album ini secara
independent yang ada untungnya, ada
enggak untungnya juga. Aku jadi banyak apa
ya sisi kreatifnya lebih bisa kontrol
gitu ya. Tapi semoga ya aku cuma ingin
memperkenalkan musikku aja ke orang-orang
lebih banyak lagi. Makanya ini main di
Nongkrong Happy banget di Fed Square di
tengah kota. Jadi ya aku goal-nya sih just
keep playing music. Aku pengen main
konser banyak banget di mana-mana. Aku
pengen tour Australia juga. Aku pengen
banget main di Sydney. Aku dua tahun lalu
udah main di Brisbane. Aku pengen banget
main di Sydney. Dan ya aku just, I just
wanna keep going.
END OF TRANSCRIPT