SKIP TO MAIN CONTENT

Pandangan Pebisnis Indonesia, Australia tentang Resiko Berbisnis di Indonesia Saat Ini

ICON26.jpg
Ivan Tandyo (2nd from L) and Yu Liu (3rd from L) at a discussion during ICON 2026 in Sydney, NSW. Credit: SBS Indonesian/Dina Indrasafitri

Sejumlah kejadian di dunia bisnis dan ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir mengundang kritik dan kekhawatiran publik seputar resiko berbisnis di Indonesia saat ini.


Published

By Dina Indrasafitri

Presented by SBS Indonesian

Source: SBS



Skip to podcast episode content

Sejumlah kejadian di dunia bisnis dan ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir mengundang kritik dan kekhawatiran publik seputar resiko berbisnis di Indonesia saat ini.


Sejumlah kejadian di dunia bisnis dan ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir mengundang kritik dan kekhawatiran publik dan pakar. Tidak hanya turunnya nilai rupiah yang membuat harga berbagai kebutuhan dan biaya berbisnis naik, muncul juga beberapa kasus seperti kasus yang dihadapi pengusaha Tom Lembong menyangkut tuduhan merugikan negara dikarenakan keputusan import gula, maupun kasus pembelian laptop Chromebook yang melibatkan mantan menteri pendidikan Nadiem Makarim, yang juga dikenal sebagai pendiri bisnis Go-Jek.

Dalam tulisan untuk situs blog akademik Indonesia at Melbourne, pendiri firma Northbound Strategies Ryan Eka Permana Putra, yang juga sempat bekerja untuk perusahaan Go-Jek, menyatakan bahwa kasus-kasus tersebut dan kasus-kasus serupa lainnya cenderung kontroversial, karena dalam kasus macam itu,seorang pejabat negara dituduh terlibat korupsi karena dikatakan mengakibatkan kerugian negara meskipun tidak terbukti memperkaya diri sendiri. Kejadian semacam ini dapat memicu keraguan investor untuk masuk ke Indonesia.

Pasalnya, pasar dan investor cenderung akan menjauhi ketidakpastian, begitu tulis Ryan, dan ketidakpastian tersebut mungkin dapat tercermin dari kerancuan definisi ‘korupsi’ di mana keputusan yang tidak efisien dapat dianggap sebagai korupsi meskipun tidak melibatkan suap atau menguntungkan pihak yang membuat keputusan secara pribadi.

Di sela acara ICON 2026 yang diadakan oleh PPIA atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia University of New South Wales, SBS Indonesian berkesempatan untuk berbincang dengan Ivan Tandyo, CEO Navanti Holdings, yang lahir di Indonesia dan memulai usahanya di Australia, serta Yu Liu, salah satu pendiri Heidi Health, yang memproduksi aplikasi dan alat lainnya dengan target pasaran pekerja di bidang kesehatan, tentang pandangan mereka seputar resiko di dunia bisnis Indonesia saat ini.

Dengarkan podcast ini selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now