Perempuan sering diposisikan sebagai penjaga ruang domestik yang dianggap aman, meski harus menghadapi berbagai kerentanan dan persoalan baik dari dalam maupun luar ruang tersebut.
Ruang domestik seringkali dianggap sebagai ruang aman, sementara tokoh-tokoh perempuan - yang kerap dihubungkan dengan ruang domestik - sering diberi tanggungjawab untuk menjaga ruang aman tersebut, meskipun terkadang tugas tersebut sangatlah berat dikarenakan dunia luar yang sudah terlalu rawan maupun kondisi di ruang domestik yang memang sudah pelik.
Permasalahan ini menjadi salah satu pembahasan bincang-bincang SBS Indonesian dengan dua penulis keturunan Indonesia yang saat ini bertempat tinggal di Australia, yaitu Tiffany Tsao dan Intan Paramaditha seusai mereka `tampil sebagai pembicara dalam diskusi tentang karya fiksi spekulatif yang difasilitasi oleh Writing and Society Research Centre yang berada di bawah Western Sydney University.
Intan dikenal sebagai akademisi dan penulis fiksi yang telah menerbitkan beberapa karya seperti Gentayangan, yang judulnya diterjemahkan menjadi The Wandering, dan Sihir Perempuan yang diterjemahkan dengan judul Apple and Knife.
Sedangkan Tiffany Tsao adalah penerjemah, editor dan penulis fiksi yang telah menerbitkan beberapa karya seperti The Oddfits dan The Majesties.
Dalam diskusi ini, yang dibahas meliputi proses penulisan karya-karya fiksi mereka, proses penerjemahan dalam sastra dan juga tentang lika-liku dunia sastra, terutama yang menyangkut budaya Asia Tenggara, terutama Indonesia, dan perempuan. Dua karya mereka yang menjadi fokus diskusi tersebut adalah karya Intan yang berjudul Night of a Thousand Horrors, atau Malam Seribu Jahanam dalam bahasa Indonesia, serta karya Tsao yang berjudul But Won’t I Miss Me.
Malam Seribu Jahanam terbit di Indonesia tahun 2003 dan rencananya akan diterbitkan di Australia dalam bahasa Inggris di bulan Februari 2027, jelas Intan.
“Buku ini tentang tiga bersaudara, sebenarnya ada satu tokoh lagi, tapi diawali dengan tiga saudara yang di awal buku mengalami suatu kejadian yang sangat mengejutkan, yaitu adik yang bungsu…melakukan bom bunuh diri,” ceritanya.
Sedangkan Tsao berkata bahwa cerita dalam But Won’t I Miss Me bertempat di dunia atau realitas di mana bila ada seorang perempuan yang mau melahirkan anak, maka dia juga akan melahirkan versi lain dirinya yang akan membunuh dan memakan diri lamanya.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





