Sriwhana Spong, seniman asal Selandia Baru berdarah Bali yang berbasis di London, menghadirkan pameran tunggal perdananya di Australia di Monash University Museum of Art, Melbourne.
Spong lahir dari ayah asal Bali dan besar di Selandia Baru. Mengenal sisi keluarga Balinya saat sudah remaja memberi perspektif yang unik tentang identitas dan warisan budaya, ujar Spong. Segalanya terungkap secara perlahan, dan justru proses itulah yang kemudian ia olah menjadi karya, tambahnya.
Lukisan kakeknya, I Gusti Made Rundu, seorang pelukis Bali yang karyanya tersimpan di museum, menjadi titik awal sebuah film yang kini menjadi bagian dari pameran tunggal perdananya di Australia, HA HA HA, yang berlangsung di Monash University Museum of Art (MUMA), Melbourne, dari 24 April hingga 28 Juni 2026.

Pameran ini juga menampilkan Gamelan Digul yang bersejarah. Gamelan itu dibuat pada tahun 1927 oleh para tahanan politik Indonesia di kamp penjara kolonial Belanda di Tanah Merah, Upper Digul, Papua, menggunakan panci dapur, potongan rel kereta api, dan bahan-bahan seadanya.
Spong mengatakan ia menemukan instrumen bersejarah itu tersimpan dalam lemari kaca di kampus Monash dan menginginkan agar suaranya bisa didengar kembali oleh publik. Baginya, gamelan itu adalah bukti bahwa kreativitas bisa bertahan bahkan di tengah penindasan.
Spong yang kini bermukim di London bekerja lintas medium, dari film, patung, tekstil, hingga instrumen musik, semuanya terhubung oleh pertanyaan yang sama tentang bagaimana kita mengenal dunia dan diri kita sendiri.
Simak perbincangan SBS Indonesian bersama Sriwhana Spong selengkapnya.





