Watch FIFA World Cup 2026™

LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Seniman Berdarah Bali Sriwhana Spong Pamerkan Karya Multidisiplin di Australia

Sriwhana Spong. Credit: Supplied/MUMA/Jens Ziehe

Sriwhana Spong Credit: Supplied/MUMA/Jens Ziehe

Sriwhana Spong, seniman asal Selandia Baru berdarah Bali yang berbasis di London, menghadirkan pameran tunggal perdananya di Australia di Monash University Museum of Art, Melbourne.


Published

By Anne Parisianne

Presented by SBS Indonesian

Source: SBS



Share this with family and friends


Sriwhana Spong, seniman asal Selandia Baru berdarah Bali yang berbasis di London, menghadirkan pameran tunggal perdananya di Australia di Monash University Museum of Art, Melbourne.


Spong lahir dari ayah asal Bali dan besar di Selandia Baru. Mengenal sisi keluarga Balinya saat sudah remaja memberi perspektif yang unik tentang identitas dan warisan budaya, ujar Spong. Segalanya terungkap secara perlahan, dan justru proses itulah yang kemudian ia olah menjadi karya, tambahnya.

Lukisan kakeknya, I Gusti Made Rundu, seorang pelukis Bali yang karyanya tersimpan di museum, menjadi titik awal sebuah film yang kini menjadi bagian dari pameran tunggal perdananya di Australia, HA HA HA, yang berlangsung di Monash University Museum of Art (MUMA), Melbourne, dari 24 April hingga 28 Juni 2026.

HA HA HA lead image, AD film 2026, Sriwhana Spong, still from AD, 2026, 16mm film transferred to digital, sound. Commissioned by Monash University Museum of Art, Melbourne and Te Pātaka Toi Adam Art Gallery, Wellingto.jpg
HAHAHA lead image, AD film 2026, Sriwhana Spong, still from AD, 2026, 16mm film transferred to digital, sound. Commissioned by Monash University Museum of Art, Melbourne and Te Pātaka Toi Adam Art Gallery, Wellington. Credit: Supplied/MUMA/Sriwhana Spong and Micheal Lett

Pameran ini juga menampilkan Gamelan Digul yang bersejarah. Gamelan itu dibuat pada tahun 1927 oleh para tahanan politik Indonesia di kamp penjara kolonial Belanda di Tanah Merah, Upper Digul, Papua, menggunakan panci dapur, potongan rel kereta api, dan bahan-bahan seadanya.

Spong mengatakan ia menemukan instrumen bersejarah itu tersimpan dalam lemari kaca di kampus Monash dan menginginkan agar suaranya bisa didengar kembali oleh publik. Baginya, gamelan itu adalah bukti bahwa kreativitas bisa bertahan bahkan di tengah penindasan.

Spong yang kini bermukim di London bekerja lintas medium, dari film, patung, tekstil, hingga instrumen musik, semuanya terhubung oleh pertanyaan yang sama tentang bagaimana kita mengenal dunia dan diri kita sendiri.

Simak perbincangan SBS Indonesian bersama Sriwhana Spong selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now