Pameran Syncretic Wilds di Monash University Museum of Art, Melbourne, menghadirkan karya instalasi seniman Minahasa Natasha Tontey bersama Phasmahammer. Pameran duo ini menampilkan instalasi multi-bagian karya Tontey berjudul "Primate Visions: Macaque Macabre".
Dalam karya ini, Tontey mengeksplorasi hubungan kompleks antara masyarakat Minahasa dan monyet hitam Sulawesi yang dikenal dengan nama yaki di Sulawesi Utara. Ia memadukan primatologi, pengetahuan leluhur, dan fiksi spekulatif melalui film, patung, kostum, dan audio, serta mempertanyakan batas antara manusia dan hewan, alam dan budaya, tradisi dan teknologi.
Tontey, yang tumbuh besar di Jakarta sebagai bagian dari diaspora Minahasa, mengatakan bahwa jarak dan migrasi telah membentuk hubungannya dengan Minahasa.
Menjadi seniman Minahasan, kata Tontey, berarti memegang kebanggaan dan kritik secara bersamaan. Ia mengatakan bahwa ia mendekati budayanya dengan cinta, humor, dan terkadang sedikit selera buruk, tanpa meromantisasinya.
Amanda Haskard, kurator MUMA, mengatakan bahwa MUMA memilih Tontey karena kemampuannya membawa kosmologi Minahasa ke dalam ruang galeri dengan cara yang jenaka sekaligus kompleks.
Pameran ini merupakan bagian dari Kindred People, festival perdana di Monash University yang dipimpin oleh komunitas Penduduk Pertama dan merayakan kebudayaan masyarakat adat dari berbagai belahan dunia dengan mengusung tema "Knowledge Rising Up."
Pameran ini dibuka pada Sabtu 18 Juli dan berlangsung hingga 19 September 2026, dengan tiket masuk gratis.
Tontey berbagi ruang pameran dengan Phasmahammer, persona artistik dari seniman Justin Talplacido Shoulder yang berbasis di Sydney. Phasmahammer menghadirkan futurisme queer Filipinx melalui kostum buatan tangan dan koreografi yang bersumber dari mitologi leluhur Filipina.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesian.




