Bagi seniman Indonesia, Patriot Mukmin, menganyam foto adalah cara menggabungkan dua kenangan visual menjadi satu karya baru yang personal.
Patriot Mukmin, seniman visual dan mahasiswa PhD di Victorian College of the Arts, University of Melbourne, telah membawakan lokakarya menganyam foto di acara Pasar Senja. Selain menempuh studi doktoral, Patriot juga aktif mengajar di almamaternya, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Bandung.
Teknik menganyam foto ini terinspirasi dari kegiatan menganyam kertas warna yang biasa dilakukan anak-anak SD di Indonesia. Bedanya, peserta akan menganyam dua lembar kertas bergambar foto, sehingga menghasilkan satu gambar baru yang unik.
"Mungkin mereka pernah memfoto, mungkin mereka pernah menganyam, tapi mereka belum pernah menganyam foto," ujar Patriot kepada SBS Indonesian.

Teknik ini sudah dipraktikkan Patriot sejak 2014 dengan berbagai medium, termasuk kertas HVS, kain, kanvas, lukisan. Kini, menganyam foto menjadi salah satu bab dalam riset PhD-nya.
Sebagai akademisi yang pernah belajar dan mengajar di Indonesia, Patriot melihat perbedaan antara pendidikan seni di kedua negara. Menurutnya, tradisi seni rupa di ITB yang sudah ada sejak 1947 cenderung kuat dalam refleksi sosial dan problematika masyarakat. Sementara di Victorian College of the Arts, University of Melbourne, tradisi seni konseptual dan eksperimentalnya sangat menonjol, jelas Patriot.
Dan, menurut Patriot, seni dan budaya punya peran penting untuk komunitas diaspora yang jauh dari tanah air.
Kalau kita jadi diaspora, berarti kan kita tercerabut dari tempat asal kita. Fenomena tercerabutnya itu kadang bikin kita galau, bingung, mempertanyakan identitas. Di sanalah seni dan budaya bisa jadi cara untuk menemukan kembali yang tadi hilang.Patriot Mukmin, Seniman
Dengarkan perbincangan ini selengkapnya.





