Jayanto Damanik Tan tinggal di Sydney sejak akhir tahun 1997 setelah 'melarikan diri' dari rezim otoriter di Indonesia kala itu.
Perupa berdarah Sumatera-Tionghoa ini mengaku kehidupan masa lalunya tertekan karena tidak dapat mengekspresikan dirinya yang sebenarnya.
Melalui 'Lanterns and Tea', Jayanto mengatakan ia ingin memperkenalkan tradisi Tahun Baru Imlek keluarganya — minum teh bersama saat tahun baru dan membuat lampion untuk dibawa berdoa ke makam leluhur.


Dalam acara yang terdiri dari tiga sesi tersebut, seniman visual ini juga menyediakan berbagai jajanan, baik yang asli dan yang terbuat dari keramik, sebagai peneman minum teh.
Sementara terkait dengan lampion, Jayanto menambahkan bahwa warna-warni yang terlihat dari lentera kertas ini juga memiliki makna penting lain baginya.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.







