Bermain golf di tengah cuaca dingin di Australia membutuhkan persiapan dan strategi yang khusus, namun tantangan ini justru membuat para pemain golf lebih bersemangat.
Bagi sebagian orang, musim dingin mungkin menjadi alasan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rangga Endika, salah seorang pemain golf yang aktif dalam komunitas bernama VIGA.

VIGA adalah komunitas golf diaspora Indonesia di Melbourne yang telah berdiri selama lebih dari 30 tahun. Dengan lebih dari 50 anggota, VIGA rutin mengadakan permainan golf setiap minggu sebagai ajang olahraga sekaligus mempererat tali persaudaraan antaranggota.

Selain kondisi fisik, para pegolf juga dituntut lebih sabar dalam membaca kondisi lapangan. Rumput yang basah akibat embun, bahkan terkadang diselimuti lapisan es tipis (frost), membuat karakter pantulan dan guliran bola berubah. Kabut di pagi hari juga dapat mengurangi jarak pandang, sehingga pemain harus lebih teliti dalam menentukan target pukulan. “Angin yang kencang justru lebih susah untuk mengarahkan bola dari pada hujan, krn arah bola semakin susah di kontrol” ujar Rangga.
Persiapan perlengkapan juga menjadi bagian penting sebelum turun ke lapangan. Para pegolf biasanya mengenakan jaket yang nyaman namun tidak terlalu tebal agar tetap leluasa melakukan ayunan. Rangga juga menyarankan untuk membawa hand warmer untuk menjaga tangan tetap hangat, sarung tangan cadangan, serta jas hujan dan payung sebagai antisipasi apabila cuaca berubah sewaktu-waktu.

Strategi bermain pun ikut menyesuaikan kondisi pada saat musim dingin. Pemain tidak hanya mengandalkan kemampuan memukul bola, tetapi juga lebih cermat membaca arah angin, kelembapan tanah, dan kondisi permukaan. Kesabaran menjadi salah satu kunci utama agar setiap keputusan di lapangan dapat menghasilkan pukulan yang lebih efektif.





