Fenomena penggunaan peptida sebagai zat penyuntik untuk penurunan berat badan, anti-penuaan, dan pemulihan cedera kini tengah marak di tengah masyarakat, melampaui batas komunitas binaraga hingga ke kalangan orang biasa.
Banyak individu, termasuk ibu rumah tangga, beralih ke senyawa ini karena aksesnya yang mudah melalui internet dan media sosial tanpa memerlukan resep dokter, meskipun zat tersebut sering kali tidak disetujui untuk penggunaan manusia dan kurang memiliki bukti klinis yang kuat.
Kepercayaan publik mulai bergeser dari otoritas medis konvensional menuju para influencer dan testimoni komunitas online, yang dianggap lebih kredibel karena membagikan pengalaman hidup secara langsung dan menawarkan solusi dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Namun, tren ini menyimpan risiko kesehatan yang signifikan karena kurangnya regulasi pada produk yang dijual bebas secara online.
Pihak otoritas medis seperti TGA memperingatkan bahwa isi dalam vial tersebut mungkin tidak sesuai label dan berpotensi mengandung toksin berbahaya, sementara data mengenai efek samping jangka panjangnya masih sangat minim.

Meskipun ada tindakan tegas terhadap penjualan ilegal, ketegangan antara pengetahuan klinis resmi dan "sains rakyat" dari media sosial terus berlanjut, didorong oleh rasa frustrasi masyarakat terhadap biaya serta birokrasi sistem kesehatan tradisional yang dianggap lambat dan mahal.


