Mulai 15 Mei, Art Gallery of South Australia (AGSA) mempersembahkan pameran bertajuk Two Islands, One Thread: The Art and Cultures of Lombok & Bali.
Ini merupakan pameran pertama di Australia yang mengeksplorasi hubungan artistik dan budaya yang luar biasa antara dua masyarakat Indonesia yang berbeda, yakni Lombok yang mayoritas Muslim dan Bali yang mayoritas Hindu.
Melalui berbagai koleksi tekstil, gambar, lukisan, dan objek yang jarang dipamerkan, pameran ini mengungkap bagaimana kontak maritim, perdagangan, dan migrasi selama berabad-abad di lintas Selat Lombok telah membentuk tradisi seni kedua pulau tersebut sambil tetap menjaga identitas budaya unik masing-masing.
Pameran ini merayakan sejarah sekaligus kecerdasan berkelanjutan para seniman dari kedua pulau melalui warisan tekstil yang serupa.
Kurator Seni Asia AGSA, Russell Kelty, menjelaskan bahwa pameran ini menyoroti hubungan budaya yang sering terabaikan, di mana meskipun kedua pulau sering dianggap berbeda secara kultural, tradisi seni mereka justru mengungkap sejarah panjang pertukaran, adaptasi, dan kreativitas bersama.

Inti dari pameran ini adalah kain-kain tenun, sulam, lukis, dan ikat yang dibuat oleh masyarakat adat Sasak di Lombok serta masyarakat Bali.
Bagi komunitas lokal, karya-karya ini adalah ekspresi mendalam dari keyakinan spiritual, identitas, dan penghormatan kepada leluhur.
Di bagian Lombok, kain songket yang rumit dengan kilauan benang logam serta kain tenun ikat khasnya menunjukkan betapa tekstil sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, pola mewah pada tekstil Bali mencerminkan keyakinan bahwa pakaian tersebut meniru keindahan tekstil dewata yang ditenun oleh para dewa Hindu.
Selain tekstil, Two Islands, One Thread juga menampilkan berbagai karya seni dan objek lainnya, termasuk plakat emas kuil leluhur, pintu pura Bali dari abad ke-18, serta lukisan berskala besar yang memperlihatkan arsitektur, kehidupan upacara, dan tradisi seni kedua pulau.
Di antara lebih dari 100 karya yang dipajang, terdapat tekstil dari koleksi AGSA yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, serta pinjaman langka dari Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang baru pertama kali muncul di Australia.
Kehadiran karya-karya penting ini juga didukung oleh hibah dari Michael Abbott AO KC yang selama ini memperkaya koleksi seni Asia Tenggara di galeri tersebut.

Direktur AGSA, Jason Smith, menyatakan bahwa pameran ini mencerminkan komitmen galeri dalam menghadirkan keberagaman budaya global dan memperkuat kemitraan internasional. Menurutnya, kolaborasi budaya yang signifikan antara Australia dan Indonesia ini memungkinkan masyarakat luas untuk memahami koneksi artistik yang lebih dalam antara Lombok dan Bali.
Sebagai pelengkap, sebuah publikasi ilustrasi utama yang mengeksplorasi tekstil, seni, dan budaya Lombok akan diterbitkan dan tersedia di Toko AGSA mulai September 2026.
Selain itu, pada Sabtu 12 September, AGSA akan mengadakan simposium besar yang menghadirkan pembicara dari Australia dan Indonesia untuk merayakan pameran sekaligus meluncurkan buku tersebut.
Pameran Two Islands, One Thread: The Art and Cultures of Lombok & Bali dapat dikunjungi secara gratis di AGSA mulai 15 Mei hingga 11 Oktober 2026, dengan informasi lebih lanjut tersedia melalui situs resmi agsa.sa.gov.au.




