Bersama dengan SBS Indonesian kali ini
pendengar, kita akan membahas mengenai
komunitas sepak bola diaspora Indonesia di
Melbourne yang bernama Kemukus FC. Grup
yang terdiri dari para mahasiswa, pemegang
working holiday visa, dan keluarga ini
hadir sebagai wadah bagi diaspora
Indonesia di Melbourne untuk berkumpul
sambil berolahraga. Dan di bulan Ramadan
pun mereka tetap turun ke lapangan. Untuk
mengetahui apa arti kelompok sepak bola
ini bagi komunitas Indonesia, khususnya di
tengah bulan puasa jauh dari tanah air,
saya sempat datang ke lapangan sepak bola
Clifton Park di Brunswick di Melbourne dan
berbincang dengan Abrian Duta Firmansyah
atau Abi dan Ulil Albab dari Kemukus.
Berikut perbincangan kami.
Perkenalkan nama saya Abrian Duta
Firmansyah.
-Nama saya Ulil Albab.
-Dan ini sudah berapa lama nih ikut
-komunitas sepak bola ini?
-Sejak awal karena kebetulan salah satu
yang mendirikan Kemukus FC ini. Mengingat
dulu banyak teman-teman Indonesia juga
yang suka main bola dan kepikiran lah
bikin wadah yang non-formal, maksudnya
yang biar semua orang bisa main yang entah
bapak-bapak, yang entah mas-mas, yang
sekedar cuman cari hiburan lah, nggak,
nggak serius gitu. Jadi biar ngisi waktu
sama sosial ketemu teman-teman, ngobrol,
cari-cari info gitu.
Sudah berapa tahun jadi Kemukus ini
terbentuk?
Seingat saya tuh 2019 ya. Seingat saya
karena kami meneruskan teman yang
berinisiatif sejak awal itu, terus
mewujudkan dengan benar-benar ada Kemukus
-ini.
-Dan lokasi Kemukus ini kalau main di mana
-nih di Melbourne-nya?
-Kita biasa main di Clifton, Clifton Hill
-di daerah Brunswick.
-Ini berarti anggotanya seluruh diaspora
Indonesia boleh bergabung ya, siapa saja
ya?
Ya, semuanya boleh termasuk kayak student
biasanya, terus spouse, terus WHV juga ada
dari teman-teman yang jaraknya tuh kadang
satu jam dari sini mereka naik kereta
cuman pengen main bola bareng Sabtu gitu
mungkin memang hobi gitu ya. Yang city
pasti banyak anak-anak S1 gitu-gitu
banyak.
Nah sekarang kan nih kita lagi ngobrolin
main bola di bulan Ramadhan nih. Ini Mas
-Abi dan Mas Ulil puasa kah?
-Insyaallah puasa.
-Kenapa nih tetap main bola sambil puasa?
-Kalau saya pribadi yang pertama untuk
refreshing dari dunia perkuliahan ya
karena di perkuliahan itu kan sangat
intens dan sangat cukup stressful juga.
Jadi kadang pengen nih kayak bersosial
dengan teman-teman Indo gitu. Kita bisa
ngomong bahasa daerah juga dan di sini
saya juga mengajak keluarga, saya mengajak
anak-anak saya jadi kita bisa kumpul
bersama orang-orang Indonesia. Jadi kayak
stress release lah untuk saya pribadi main
bola ini gitu. Selain juga tentu terkait
dengan faktor kesehatan juga.
Nah, ini ada strategi khusus nggak nih
supaya kuat tetap di lapangan?
Ya karena kita mainnya fun football ya,
jadi kayak cuma lima menit stop, terus--
ya maksudnya nggak, nggak terlalu harus
fokus banget, yang penting fun-nya, yang
-penting itu fun-nya.
-Betul, kumpul-kumpulnya.
Kumpul-kumpulnya. Jadi nggak harus kita
full empat puluh lima yang full itu, yang
penting kita main, lima menit berhenti,
lima menit berhenti nggak apa-apa.
-Kita bukan PSSI.
-Kita bukan PSSI. [tertawa]
Ini sangat istimewa sih karena tetap
melanjutkan main bola. Jadi kan semuanya
-berpuasa atau nggak semua puasa?
-Nggak semua yang berpuasa karena ada
teman-teman yang non-muslim juga ikut.
Maksudnya kayak yang pasti kami tahu itu
ada teman-teman dari Bali yang lumayan
banyak juga yang ikut main bola yang
mereka semangat banget setiap satunya
juga. Jadi ya muslim ada, non-muslim ada
juga, jadi nggak semua puasa. Makanya kami
membuat yang khusus untuk bulan puasa ini
agak mepet ke maghrib. Jadi kita
kesepakatan dari semua teman-teman yang
non-muslim pun sepakat bahwa oke mainnya
agak sore biar teman-teman yang puasa bisa
-ngikutin.
-Dan berarti nih biarpun puasa kalian tetap
semangat untuk menjaga kesehatan dengan
berolahraga begitu ya?
-Betul.
-Buat Anda pribadi nih, apa makna Ramadan
di perantauan? Apakah justru terasa lebih
dalam ketika jauh dari keluarga besar
-begitu?
-Kalau saya pribadi betul karena semarak
Ramadan di Indonesia tuh sangat meriah ya
Mbak ya. Apalagi kita ngabuburit bareng,
tarawih bareng, dan itu hampir di-- rata
di semua daerah. Sedangkan di sini kita
bisa dikatakan sebagai minoritas. Jadi
kayak suasana Ramadan itu benar-benar kita
maknai betul-betul tuh Mbak. Jadi karena
kita sebagai minoritas jadi kita itu
sangat bersyukur gitu masih bisa
melaksanakan Ramadan dan kita di sini bisa
bermain bola bareng. Nah di situlah
esensinya dari main bola di sini tuh Mbak.
Literally dua belas tahun saya nggak
pernah puasa di Indonesia. Sejak 2013 saya
keluar dari Indonesia, sampai sekarang
tuh setiap puasa dan lebaran itu selalu di
luar negeri. Cuman terbantunya karena ada
komunitas-komunitas muslim di Melbourne
kayak MICV, terus masjid-masjidnya yang
selalu mengadakan buka bersama di weekend.
Ya kami datang buka bersama di sana.
Kebetulan ini hari Sabtu juga karena kalau
di sab-- hari Minggu, karena Sabtu
kemarin di MICV Surakita ngadain buka
bersama. Jadi Sabtu yang kemarin kami ke
sana, terus Minggu baru main bola
barengnya.
-Menunya Indonesia.
-Menunya Indonesia itu yang penting tuh
-karena sebagai bukan kopi-
-Lidah Jawa.
Lidah Jawa. [tertawa] Jadi selalu
merindukan masakan-masakan Indonesia.
-Betul.
-Tapi kenapa pilih bola untuk olahraga di
saat Ramadan? Kenapa misalnya bukan lari
atau bulu tangkis atau gimana?
Karena yang pertama sepak bola itu kan
salah satu olahraga yang paling favorit di
Indonesia. Jadi kayaknya semuanya itu
hampir bisa paling nggak nendang bola. Kan
kita biasa main di jalan, di gang gitu
kan. Jadi sepak bola ini kayaknya tuh
paling merakyat lah, semua orang bisa
gitu. Terus yang kedua karena ini itu
pertandingan tim Mbak. Jadi semua datang
dan kebanyakan memang dua puluh orang.
Tadi Mas Ulil sampaikan ada yang dari
Clayton, ada yang dari Werribee misalnya
itu jauh-jauh datang untuk, untuk main
bola gitu. Jadi kita silaturahim dan
sepertinya memang bola ini karena dia tim
jadi salah satu yang paling cocok dan
karena ini juga favorit juga di Indonesia.
Jadi kan tadi mendengar nih sepertinya nih
berarti Kemukus ini selain soal olahraga
nih, apa sih artinya untuk komunitas
diaspora Indonesia begitu?
Kalau saya pribadi ya untuk sarana
silaturahim ya Mbak ya. Karena tadi
misalnya di Ramadan ini kan di Indonesia
tuh semaraknya sangat meriah gitu. Nah di
sini kan Kemukus ini salah satu kesempatan
buat kita para diaspora yang ada di
Melbourne ini khususnya untuk kumpul
bareng nih Mbak, main bola bareng. Karena
kan Indonesia itu kan salah satu negara
yang main bolanya itu sangat favorit gitu
Mbak. Jadi di sini biasanya sekitar dua
puluh orang-an datang ke sini kita main
bola bareng, kita bercanda bareng. Nah ini
masa-masa atau suasana-suasana inilah
yang kadang itu kita rindukan ketika
kitaJauh dari tanah air
Apakah grup ini juga jadi tempat saling
support gitu misalnya soal kuliah, kerjaan
-atau kehidupan di Australia secara umum?
-Ya betul banget Mbak tentunya misalnya
saya di sini sebagai student itu jadi
kayak tempat curhat gitu Mbak kayak aduh
kuliah susah banget ya gimana ya gitu kan
di sini kita juga ketemu para senior juga
gitu terus kita juga kasih kayak tips dan
trik ke para student yang baru juga ini
jadi tempat ajang ngobrol secara informal
itu Mbak dan juga di sini juga kan kayak
Mas Ulil sampaikan itu kan ada kayak para
pekerja juga dari WHV dan lain sebagainya
itu juga kasih oh di sini nih ada lowongan
pekerjaan dan sebagainya. Jadi ini tempat
ajang ngobrol nggak, nggak hanya untuk
main bola aja tapi juga untuk sharing yang
kiranya sesuatu hal yang sangat
bermanfaat untuk kehidupan di Melbourne
-ini Mbak.
-Dan untuk hari ini apakah ada kegiatan
lain seperti buka puasa bareng atau
bagaimana?
Tidak wajib tapi kami sudah, sudah sepakat
ya silakan yang mau bawa buat takjil
minimal air minum buat nanti kita karena
selesainya itu kemungkinan besar akan pas
maghrib kita pastikan selesai terus habis
itu untuk teman-teman yang bawa takjil
bisa saling berbagi lah untuk buka puasa
bersama meskipun bukan makanan berat tapi
-setidaknya bisa buat buka takjil.
-Mas Abi dan Mas Ulil terima kasih ya sudah
-berbincang dengan SBS Indonesian.
-Terima kasih, terima kasih.
Terima kasih banyak, Mbak.
END OF TRANSCRIPT