Speaker 1
Zico, apa kabar?
Speaker 2
Baik, apa kabar Anda?
Speaker 1
Nah, ini boleh Anda perkenalkan diri terlebih dahulu kepada pendengar SBS
Speaker 2
Saya Zico Albaiquni, saya seorang seniman dan juga sekarang sedang
menyelesaikan studi PhD di University of Melbourne.
Saya sekeluarga, pindah ke Melbourne sekitar 3 tahun yang lalu.
Speaker 1
Anda baru saja pameran The Land That Refuses To Be Beautiful yang dilangsungkan
dari tanggal 29 Januari dan selesai 21 Februari lalu di Sydney.
Ini untuk pendengar yang tidak sempat datang, bentuknya apakah begitu yang Anda
Speaker 2
Ya, jadi pameran The Land That Refuses To Be Beautiful itu kemarin berlangsung
M.C.A. Foos itu galeri yang di-present saya dari tahun 2017.
Nah, pameran ini tuh kemarin jadi serangkaian lukisan-lukisan yang berskala
Ada juga yang penengah dan ada lukisan-lukisan yang ukurannya kecil, kayak
Dan itu saya gunakan seolah-olah seperti kertas ampat ya, kayak notes.
Nah, di sana juga saya tuh membawa kayak arsip-arsip yang saya buka.
Ada kopi-kopi arsipnya saya bawa dan memang dibuka buat publik yang mau baca,
Jadi, saya sama pemerintah di M.C.A. Foos itu juga bilang kayak, let's just
make a reading room there.
Di sana jadi ada arsip dan kayak buku-buku personal yang saya miliki, saya juga
Bentuknya seolah-olah installatif, tapi sebenarnya bisa diambil dan diambil
Jadi, saya tuh membuat di pendekatannya itu ya kayak dengan semua elemen
Jadi, lukisan tuh hadir sebagai objek, namun juga sekaligus sebagai ruang.
Yang secara keseluruhan jumlah karyanya kurang lebih ada sekitar 20-an.
Yang dibuat ya selama studio doktoral saya ini, selama 3 tahun terakhir ini,
Pameran ini tidak cuma ngambilin lukisan sebagai gambar yang selesai, tapi juga
sebenarnya kayak jejak perjalanan saya itu, kayak tadi ada notes yang ampat.
Baik perjalanan secara geografis, istoris, menurut personal gitu.
Yang terbentuk dari hubungan saya dengan tanah, ingatan, dan warisan visual.
Ini judulnya tapi menarik juga ya, tanah yang menolak untuk menjadi indah.
Speaker 1
Ini temanya tentang apa ya?
Speaker 2
Jadi, sebenarnya ini tuh kalau tanah ini gitu ya, kalau dari sejarah seni rupa,
Indonesia pada masa kolonial tuh ada satu term yang cukup terkenal di antara
akademisi, seniman, yaitu yang disebut Moe Indie gitu.
Zaman kolonial Belanda, Moe Indie itu artinya Hindia Jelita.
Nah, buat saya hal itu tuh kayak gitu ya, itu tuh udah berabad-abad ya,
Indonesia tuh selalu digambarkan sebagai tanah yang indah gitu.
Tanah yang keindahannya tuh dibuat seolah-olah tuh menenangkan.
Tapi juga sebenarnya itu menutupi sesuatu, dan itu tuh menutupi konflik, ada
kehilangan, ada sejarah yang lebih kompleks sebenarnya gitu.
Jadi si judul ini tuh, saya mencoba membayangkan tanah tuh bukan sebagai
sesuatu yang harus cuma indah untuk dilihat, tapi sebagai ya emang itu, dia tuh
hidup, punya ingatan, dan ada luka, dan mungkin juga kandak untuk tidak selalu
menenangkan mata kita gitu.
Bukan cuma, oh, eye candy gitu, bukan itu gitu.
Karena, dan itu juga bukan yang saya tuliskan sebagai kayak menolak bentuk
beauty itu bukan dari menolakan yang rejektif, yang keras ya, tapi sebenarnya
tuh ini tuh ya mengajak untuk berpikir bersama.
Dan ini coming from here.
Speaker 1
Dan ini kan kalau dibilang tanah yang indah gitu ya, kalau dari sudut pandang
bukan orang Indonesia, ada juga terkesan seperti mengeksotisisme Indonesia ya?
Speaker 2
Betul, betul, betul.
Dan itu kan, itu sering ya, kita sadar-ngasadar tuh melakukan hal tersebut
Dan cara kita menampilkan Indonesia kan selalu kadang-kadang di wilayah yang
sangat tipis seperti itu gitu.
Dan eksotisisme ini kan sesuatu yang juga muncul di tajuk-tajuk kalau misalnya
kita bicara tentang turisme gitu kan.
Jadi kayak Indonesia, terus kita hanya memperlihatkan performativity-nya gitu.
Dan itu hal yang kadang tuh menutupi banyak.
Ya, di karya saya tuh jadi banyak kayak bahwa performance, para performer dari
zaman kolonial kita, atau bahkan sebelum kolonial, karena performer kan awalnya
dari budaya, tari dan segala macam, dari keseharian.
Dan itu ada kelas sosial yang banyak kayak berurusan dengan kelas feodal, kelas
feodal yang punya kaitan dengan orang kolonial.
Jadi ada kompleksitas yang sangat rumit gitu.
Tapi kita hanya kadang-kadang selalu dimunculkan gitu.
Selamat datang di Indonesia, indah sekali.
Gunung luar gitu, sungai yang mengalir, indah gitu.
Sampai kayak lagu Ninja Hattori gitu sih.
Kayak kadang-kadang tuh sedihnya.
Tapi juga ya itu juga tantangannya jadi orang Indonesia ya.
Kita dikenal karena beauty, tapi beauty itu tuh sebenarnya tuh banyak layer
yang sebenarnya kita bisa terus pupas.
Saya juga sempat baca dalam teks pameran, Ziko menyebut bahwa karya-karyanya
tidak bisa dipisahkan dari cerita keluarga.
Itu apakah ada spesifik cerita tentang keluarganya atau bagaimana?
Sebagian karya yang saya buat ini tuh gitu, itu tuh berakar kembali ke Jawa
Terutama saya orang Bandung, saya lahir di Bandung.
Dan juga saya besar juga di Ciamis.
Ciamis itu tempat kelahiran ibu saya.
Jadi tempat keluarga saya berasal.
Nah banyak gambar yang saya gunakan tuh emang berasal dari arsip-arsip
Dan juga tempat-tempat yang saya akhirnya kunjungi kembali dari yang bersama
orang tua saya dulu gitu, ada memori tersebut gitu.
Jadi, dan emang nggak bisa dipisahkannya itu karena emang selama saya berjalan
dengan penciptaan karya ini tuh, ibu saya tuh meninggal dunia tahun lalu tuh
Jadi hubungan saya dengan tanah tuh jadi lebih berbeda.
Bahkan pulang ke Indonesia tuh juga jadi ada hal yang beda ya.
Karena ada yang pulang karena 7 harian, 40 harian, dan 100 harian gitu ya.
Jadi ada relasi yang membuat saya menyadari bahwa tanah tuh bukan hanya tempat
kita berdiri, tapi juga tempat di mana memori dan keadaan orang-orang yang saya
Bahkan jadinya tuh pas lukiskan ini gitu, tadi ngomongin tadi tentang bahwa ada
kelemuan karya keluarga dan tenaga leluhur, melukis tuh jadi cara untuk menjaga
Jadi kayak waktu, apalagi kan ibu saya waktu terakhir tuh sakit.
Jadi sering saya ketika saya bikin lukisannya di Melbourne, saya kirim Mak
lihat saya bikin ini gitu.
Nah itu tuh jadi kayak surat menyurat bahkan gitu, beberapa karya yang saya
Speaker 1
Saya turut berduka atas meninggalnya ibu dari Ziko.
Dan juga menurut saya itu sangat indah dan sangat menyentuh karena bentuk surat
menyurat antara Anda dengan Mendiang itu sangat unik, tapi juga bercerita
Speaker 2
Terima kasih banyak.
Speaker 1
Dan dalam teks pameran kan Ziko menyebut mencetak gambar arsip, lalu melukis
begitu ya di atasnya, benar?
Speaker 2
Betul, betul, betul.
Kenapa bukan dari kanvas kosong ya?
Mungkin saya ceritain dulu ya, mencetak arsip tuh, itu tuh ini ya, satu cetak
tuh dengan teknik baligo ya.
Baligo karena lukis gitu ya, dari kalau misalnya bahasa lukis dari pengertian
sediakala Indonesia, terutama buat orang Sunda dan Jawa gitu, dari angkata
-angkisa itu tuh biasanya tuh dia tuh bisa berubah-rubah bentuk gitu.
Dan dulu tuh mungkin yang paling mendekati ini tuh saya punya imajinasi tuh
Dan ini tuh akhirnya saya juga menggunakan teknik cetak baligo tuh, kalau saya
ngebayangin tuh karena memori besar kalau di Indonesia ya, keluar dari rumah,
baru aja keluar rumah, di setiap tiang-tiang antara tiang listrik tuh selalu
ada baligo-baligo, mau itu partai-partai gitu, belum lagi promo-promo apa gitu.
Ya si ruangan tuh kan emang gak pernah kosong.
Dan juga buat saya tuh gak pernah kosong tuh, karena ini tuh si pengetahuan
tentang lukis dan juga sejarahnya, baik itu yang didominasi oleh Western gitu,
menyatukan dengan apa ya maksudnya tuh kanon bahwa, oh painting itu datang dari
renaissance dan segala macam, seolah-olah itu tuh kanonnya tuh hanya diciptakan
oleh Barat dan seluruh dunia yang lain tuh hanya jadi penonton.
Padahal tidak seperti itu, dan itu sudah sangat penuh gitu, dan jadinya buat
saya tuh kayak itu metafora yang harus saya kerjakan gitu.
Lukisan tuh gak pernah kosong, gak pernah ada blank canvas.
Itu tuh benar-benar dari tumpukan memori, tumpukan kejadian, bahkan keseharian
saya, ruang kelas sosial kita dibesarkan bagaimana gitu.
Harus berhadapan dengan baligo, promo, iklan, kadang-kadang juga selamat
lebaran dan segala macam yang tidak pernah usai gitu.
Dan saya akhirnya mencetak itu dan lukis di atasnya itu buat saya tuh jadi
semacam proses dialog gitu.
Bukan hanya jadi kayak, oh saya kesel, marah atau apa-apa, tapi emang saya
berhadapan gitu yang saya kerjakan ini tuh, yang saya hadapi sehari-hari.
Jadi kadang saya tuh beneran yang karena dicetak tuh saya kayak ngejiplak gitu,
kayak saya ngikutin gambarnya apa, tapi tetap dengan lukisan, itu kan ada
Dan kadang-kadang juga saya nolak gitu, jadi saya kayak hapus, saya bentuk,
ubah warna paling sering pasti gitu.
Dan kadang bener-bener ditutup, atau emang dibiarkan jadi plain gitu.
Jadi emang si proses itu tuh jadi proses dialektika gitu ya, antara saya, si
pencipta, bahkan dengan ciptaan yang saya lakukan yang sebenarnya tuh bukan
Kayak cerita oleh, dari cerita masyarakat, cerita rakyat, atau cerita mitos
Saya rasa tuh lukis dalam pengertian orang Indonesia tuh punya proses itu gitu.
Speaker 1
Nah tadi bicara tentang warna nih, kenapa lukisan-lukisan Anda sangat kaya akan
Speaker 2
Warna ini tuh sering disebut warna kampungan.
Gitu, apalagi kayak orang Sunda tuh kayak supaya dibandingin, wah warnanya
Buricak burinong adalah istilah-istilah seperti itu gitu.
Terus warna ini tuh ya warna yang dipanggil oleh pengalaman visual saya tuh di
Warna baligo, warna spanduk politik, warna tekstil, warna yang kalau ada di
supermarket, di Bandung tuh ada borma, murah banget gitu.
Warna yang hadir itu tuh ya warna-warna sehari-hari.
Nah warna ini kan sering juga disebut kampungan tuh karena dianggap sangat
berisik, terlalu emosional, atau dianggap vulgar dalam konteks sejarah seni
Nah bagi saya tuh ya itu gitu, negosiasi itu di sana, bekerjaan.
Kan kadang serenity atau misalnya tuh simbolisme tentang warna yang high
culture tuh yang dianggapnya tuh minimally is muted gitu dan warna-warna yang
justru muncul dari kita orang global south emang begitu hidup, lively, penuh
Yang emang juga tidak bisa dipisahkan dari gimana keadaan pasar membentuk.
Itu di masa modern setelah munculnya plastik dan segala macemnya gitu.
Jadi ada buat saya tuh, di sana tuh upaya saya mendekolonialisasi juga gitu.
Warna tuh jadi untuk membawa kembali energi kehidupan dan juga ya itu tuh kayak
resistensi terhadap cara melihat karena biasanya terlalu dikontrol gitu.
Kan kalau di Australia gitu, saya tinggal di Albert Park tuh ya lucu gitu.
Ada sih warna hijau tapi harus Victorian Green karena ada rules-nya ya di sini
Nah tapi itu menarik dan ada konteks yang saya pelajari karena berpindah uangan
Speaker 1
Nah ini yang menjadi penikmat karya-karya Anda nih yang di dalam pikiran Anda
ditujukan ini Indonesian Diaspora atau Public Australia secara umum atau dua
Speaker 2
Sebenarnya enggak ada ya benar.
Kayak itu tadi yang kalau bilang Anda jadi emang enggak spesifik harus dipada
Dan emang kayak ada referensi-referensi yang itu saling cross gitu.
Saya dapetin misalnya di sini karena saya itu bertemu dan akhirnya mendapatkan
cerita dari orang Darawal di Campbell Town atau waktu itu dapat cerita dari
Aunty Destiny Deakin gitu di sini.
First Nation dari Gunung Urung gitu.
Yang nggak mungkin kayak nggak bisa langsung dipahami oleh orang Indonesia tapi
dipahami oleh orang Australia.
Dan mungkin tapi spesifik orang mananya juga gitu.
Semua itu ada hal-hal lain spesifiknya.
Cuma ya di sana itu saya ngebayangin bahwa karya-karya ini itu ya jadinya harus
Mungkin bagi diaspora Indonesia ada memori yang jadi mereka dekat.
Nah juga bagi orang Australia tadi itu yang dekat buat mereka seperti apa.
Dan ada juga yang terasa asing.
Tapi karena itu mungkin bisa aja jadinya itu ya orang diaspora sama orang sini
Jadi istana saya itu ya jadi conversation piece.
Jadi semacam ice breaking antara macam-macam orang yang berbeda di tanah ini
Jadi saya tidak melihat ini sebagai oh ini representasi Indonesia.
Tapi ya mungkin lebih udah emang pengalaman jujur dari posisi saya sendiri
sebagai seseorang yang hidup di antara dua tempat itu.
Penasaran juga nih pendengar dan saya.
Apa yang awalnya menginspirasi Ziko menjadi seniman ya?
Wah itu ayah saya seniman.
Dan ibu saya juga dulu guru bahasa Indonesia.
Jadi sejak kecil itu saya melihat seni itu bukan hal yang jauh gitu.
Jadi kayak bener-bener seni itu kayak gimana ya.
Dia tuh ya datang perlahan.
Terus jadi gak bisa dipisahkan sama keseharian.
Bahkan kayak bahasa ayah saya tuh selalu di karya-karyanya dia emang nulisin
Seni itu bukan hanya si objek karyanya gitu ya.
Tapi emang dari obrolan, dari sehari-hari, atau dari keseharian itu ya kita
ngelihatnya tuh kayak seni itu ya kebutuhan untuk memahami pengalaman diri
Misalnya buat saya kadang-kadang misalnya oh belukis menjadi cara berpikir.
Belukis tuh bukan mikirin cara buat gambar.
Tapi gimana saya cara saya bisa berpikir gitu.
Dan itu tuh ya menjadi seniman tuh kayak gitu ya.
Mungkin karena lingkungan gitu.
Terus itu juga hal yang sangat saya syukuri ya gitu.
Speaker 1
Dibesarkan oleh dua orang tua yang support.
Benar-benar berakar dari keluarga seni ya.
Speaker 1
Dan ini kan Zico tinggal di Australia dan mendalami PhD di University of
Speaker 1
Ini sedang meneliti apa nih?
Mungkin secara garis besar saja.
Speaker 2
Secara garis besar emang tentang itu ya.
Bahkan saya beneran kayak memilih untuk menggunakan kata lukis dibandingkan
Jadi lukis sebagai praksis.
Karena dari bahasa itu, saya menemukan ya itu trajektori yang berbeda gitu.
Bagaimana lukis tuh lebih sebagai kata kerja.
Kayak lucu ya misalnya kan kita juga terbiasa misalnya orang Indonesia nanti
Speaker 1
Bukannya lukis tuh sama dengan painting.
Tapi kalau misalnya kita memahami bahasa sebagai ininya gitu etimologinya gitu.
Dan saya rasa itu menarik gitu.
Karena saya menemukan tulisan dari almarhum Saninto Yuliman.
Penulis, pemikir, kritikus Indonesia aktif tahun 70-an.
Dia meneliti tentang asal-muasal kata lukis.
Bahwa karena itu tuh logika yang berbeda.
Cara berpikir yang berbeda dari orang-orang tradisi kita gitu ya.
Mungkin saya harus berlangganan dari orang Sunda dan Jawa misalnya.
Karena itu tuh menarik sekali.
Bahwa kalau misalnya itu dibaca sebagai trajektori ke depannya.
Ternyata mungkin ada persimpangan yang berbeda.
Dan saya bukan berarti saya menghapuskan painting dan kembali ke lukis.
Atau saya jadi masalah agnografi about like oh this is the best gitu.
Kayak make lukis great again.
Tapi kayak ada pengetahuan-pengetahuan yang buat saya tuh kayak wah saya
Bukan saya NS3 tuh saya jadi master of this knowledge.
Tapi saya tuh beneran terkaget-kaget gitu kadang-kadang.
Kadang-kadang gitu ya bahwa ada banyak arsip tuh baru ketemu tuh.
Saya tidak terbayang tiga tahun yang lalu saya bakal temukan di tahun kedua
Jadi kayak itu tuh hal yang menarik gitu.
Dan menariknya ya karena ada tawaran gitu.
Mengenai bagaimana pemikiran artistik.
Atau bahkan juga ada bagaimana cara berpikir filsafati.
Ternyata yang berbeda dan membuat saya jadi memahami oh mungkin ini ya.
Cara berpikir alam bawah sadar orang Indonesia ketika melihat sebuah
Atau yang akhirnya misalnya sekarang.
Oh ketika ada misalnya tuh representasi politik di depan mata kita.
Kenapa cara gambarnya seperti itu.
Karena ternyata ada tradisi yang mungkin ini gitu.
Alam bawah sadarnya tuh dari kata lukis.
Tadi di awal-awal Zico sempat menyebutkan soal kolonialisme ya.
Australia itu kan punya sejarah kolonialnya sendiri terhadap First Nation
Bagaimana rasanya menjadi seniman Indonesia di dunia seni kontemporer
Sebenarnya seru, menarik.
Dan tentu banyak tantangannya ya.
Setahun, dua tahun awal saya benar-benar masih kayak adaptasi banget gitu ya.
Karena banyak yang saya rasakan tuh dari orientasi yang saya perusahaan
Dan seniman Indonesia tuh ya sudah bukan hal yang baru karena saya gitu.
Justru udah terjadi dari angkatan-angkatan sebelumnya gitu.
Dari bahkan kayak ada Asia Pacific Triennal yang pertama tuh tahun 90-an.
Ada Adepirus, ada FX Arsono, ada bapak saya juga.
Seniman-seniman sebelum saya yang memang karyanya sudah dikenal di Australia.
Dan itu tuh udah bikin saya merasakan ada footpath yang oh we are going on the
Dan oh mereka udah ngebangun banyak gitu.
Jadi tidak asing sebenarnya buat publik Australia itu tentang seni rupa
Terutama di diskursi-diskursinya ya.
Dan banyak sekali sebenarnya seniman Indonesia yang udah ada di Melbourne
Dan ya juga sangat membantu saya beradaptasi di sini gitu.
Terus menariknya Australia banyak sekali ya.
Karena ada sistem yang ya oh ini sistem institusi seni itu seperti apa.
Artis running space seperti apa.
Yang di Indonesia ada juga.
Tapi di Indonesia tuh memang kemandirian seniman dan kerja seni tuh yang bener
-bener berada di garda terdepannya ya.
Kalau di sini tuh mungkin yang saya merasa kayak wah seru banget ya.
Karena irisan-irisannya banyak gitu.
Ada dengan pemerintah, ada dengan publik, dan segala macamnya yang lebih luas.
Dan mungkin ya karena sudah ada kenyamanan dan kejelasan.
Dan itu juga hal yang saya rasa menarik untuk direfleksikannya.
Jadi sebagai seniman di Australia itu satu kata seru.
Dua kata, tiga kata, seribu katanya banyak banget gitu sebenarnya.
Dan juga sedihnya juga ada.
Tapi saya rasa pengalaman yang saya ingin bagikan itu karena banyak banget yang
bikin saya lebih curious dibandingkan bikin saya down.
Zico, terima kasih ya atas waktunya sudah berbincang dengan SBS Indonesian.
Speaker 2
Terima kasih banyak atas kesempatannya.
END OF TRANSCRIPT