Lion Air Pertimbangkan Pembatalan Pemesanan Boeing Menyusul Kecelakaan Mematikan di Indonesia

Maskapai Indonesia, Lion Air, sedang mengkaji pembelian pesawat dari Boeing Co dan tidak menutup kemungkinan pembatalan pesanan karena hubungan yang memburuk terkait tanggung jawab atas terjadinya kecelakaan pesawat jet 737 yang menewaskan 189 orang pada akhir Oktober.

File photo models of a Boeing passenger airliner are displayed during the 12th China International Aviation and Aerospace Exhibition Nov. 6, 2018.

Source: AAP Image/AP Photo/Kin Cheung

Salah satu pendiri Lion Air, Rusdi Kirana, geram atas apa yang dianggapnya sebagai upaya Boeing untuk mengalihkan perhatian dari perubahan desain mereka baru-baru ini dan justru menyalahkan Lion Air atas kecelakaan itu, sementara perusahaannya diperiksa atas catatan pemeliharaan dan respon pilotnya.

Kirana sedang memeriksa kemungkinan pembatalan pesanan yang tersisa dari jet Boeing terhitung "dari pengiriman berikutnya," menurut salah seorang yang dekat dengannya. Sumber lain yang dekat dengan maskapai itu mengatakan mereka sedang merencanakan pembatalan pesanan.

Keputusan akhir belum diambil, tetapi pembicaraan tentang nasib sisa pesanan senilai 22 miliar dolar menyoroti pertaruhan seputar penyelidikan yang melibatkan jet Boeing, 737 MAX, yang mulai beroperasi tahun lalu.

Lion Air memiliki 190 jet Boeing senilai 22 miliar dolar pada daftar harga yang menunggu pengiriman, diluar 197 yang telah dikirimkan, menjadikan Lion Air salah satu pelanggan terbesar ekspor AS.

Lion Air menolak memberikan komentar. Seorang juru bicara Boeing mengatakan: "Kami mengambil setiap langkah untuk sepenuhnya memahami semua aspek dari kecelakaan ini, dan bekerja sama dengan tim investigasi dan semua pihak berwenang yang terlibat. Kami juga mendukung para pelanggan berharga kami dalam melalui waktu yang sangat sulit ini. ”

PEMELIHARAAN, PERANGKAT LUNAK

Kirana, yang sekarang menjadi utusan Indonesia untuk Malaysia, tetapi masih memiliki pengaruh di perusahaan penerbangan yang ia dirikan bersama saudaranya pada tahun 2000, memerintahkan peninjauan ulang tersebut sebagai tanggapan atas pernyataan Boeing yang memusatkan perhatian pada faktor pilot dan pemeliharaan, menurut keterangan salah satu orang di lingkungan tersebut.

Boeing merilis pernyataan setelah para penyelidik mengeluarkan laporan sementara mereka pada pekan lalu, yang berfokus pada langkah pemeliharaan dari empat penerbangan menjelang penerbangan yang jatuh pada 29 Oktober.

Boeing juga memeriksa perubahan perangkat lunak menyusul terjadinya kecelakaan, meski bersikeras ada prosedur lama bagi pilot untuk membatalkan otomatisasi gerakan hidung-bawah yang dialami oleh 737 MAX sebagai respon dari pembacaan sensor yang salah.

Indonesian air safety investigator with a model plane
Because of an incorrect sensor, the plane's software incorrectly pushed the jet's nose down. Source: AAP

Boeing juga mendapat kecaman dari para pilot AS karena tidak menyebutkan sistem MCAS - modifikasi dari sistem anti-mogok yang ada - di dalam petunjuk untuk 737 MAX, yang mulai beroperasi tahun lalu.

"Mengapa mereka mengubah (perangkat lunak) jika tidak ada yang salah?" ungkap salah seorang yang dekat dengan Kirana.

Boeing telah menyampaikan bahwa semua informasi yang diperlukan untuk menerbangkan 737 dengan aman tersedia bagi para pilot, dan bahwa model ini aman.

Dalam pernyataannya, Boeing merangkum kembali laporan sementara yang ada dan menambahkan pertanyaan tentang perawatan dan langkah yang diambil pilot, yangmana dikatakannya tetap tidak terjawab dalam dokumen setebal 78 halaman tersebut, tetapi tidak menyebut tentang modifikasi MCAS yang tercakup dalam buletin keamanan yang disampaikan sebelumnya.


Share

3 min read

Published

Source: Reuters




Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now