Watch FIFA World Cup 2026™

LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Film Dokumenter 'Raminten Universe: Life is a Cabaret' Diputar di Sydney dalam Rangkaian Pride Fest 2026

Raminten Cabaret
The screening of Raminten Universe in Sydney, organised by the Indonesian Queer Collective as part of Pride Fest 2026. Source: Supplied / (L) Sidhi Vhisatya

Sutradara Nia Dinata mengajak penonton melihat "queer joy" melalui kisah Raminten Cabaret di Yogyakarta, sebuah ruang tempat tradisi Jawa dan ekspresi queer hidup berdampingan.


Published

Updated

By Anne Parisianne

Source: SBS




Share this with family and friends


Sutradara Nia Dinata mengajak penonton melihat "queer joy" melalui kisah Raminten Cabaret di Yogyakarta, sebuah ruang tempat tradisi Jawa dan ekspresi queer hidup berdampingan.


Indonesian Queer Collective (IQC) memutar film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret karya sutradara Nia Dinata di The Substation, Darlinghurst, Sydney, pada 18 Juni 2026 sebagai bagian dari Pride Fest 2026.

Film berdurasi 95 menit ini mengangkat kisah mendiang Hamzah Sulaiman, pendiri Raminten Cabaret di Yogyakarta. Pertunjukan kabaret tersebut memadukan tari tradisional Jawa dengan kabaret Barat.

Nia Dinata, yang dikenal lewat film fiksi seperti Arisan! dan Berbagi Suami, menuturkan bahwa ia sudah lama menjadi pelanggan Raminten dan merasa perlu mendokumentasikan dunianya.

"Setelah kita lelah syuting, hiburan kita adalah Raminten Cabaret. Lalu dalam hati saya, saya suatu saat harus bikin dokumenter tentang jagatnya Raminten," ujarnya kepada SBS Indonesian.

Film dokumenter ini, ujar Dinata, menjadi cara untuk menunjukkan sisi lain Indonesia yang jarang terlihat. Ia menjelaskan bahwa persepsi publik internasional sering kali menggambarkan Indonesia sebagai negara yang konservatif dan tidak toleran terhadap perbedaan, padahal dunia Raminten menunjukkan hal sebaliknya.

Hamzah Sulaiman meninggal dunia pada April 2025 dalam usia 75 tahun. Pada saat itu, tim produksi masih menyunting film ini. Kepergian Hamzah justru menjadi bagian tak terpisahkan dari film tersebut.

Saya merasa bersyukur saya bisa merekamnya semua. Ending-nya ya beliau meninggal. Kalau film dokumenter, kita bukan seperti film fiksi yang bisa menulis naskahnya. Ini yang mengatur sebenarnya semesta.
Nia Dinata
Audiences at the screening of documentary film Raminten Universe Life is a Cabaret at The Substation, Darlinghurst, Sydney, 18 June 2026.
Audiences at the screening of documentary film Raminten Universe: Life is a Cabaret at The Substation, Darlinghurst, Sydney, 18 June 2026. Source: Supplied / Sidhi Vhisatya

Hanna Ulfah, anggota Indonesian Queer Collective yang hadir di pemutaran tersebut, mengaku sangat tersentuh menyaksikan film ini di Sydney. Ia mengatakan, momen paling membekas baginya adalah ketika salah satu pekerja Raminten dalam film itu mengungkapkan bahwa mereka tetap datang ke kabaret walaupun tidak ada jadwal tampil, bukan untuk bekerja, melainkan untuk berkumpul bersama keluarga pilihan mereka.

Keunikan Raminten, menurut Dinata, terletak pada keberagaman penontonnya. Penonton kabaret ini terdiri dari berbagai kalangan,baik ibu-ibu, remaja, maupun komunitas queer, tambahnya.

Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesia.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now