Sutradara Nia Dinata mengajak penonton melihat "queer joy" melalui kisah Raminten Cabaret di Yogyakarta, sebuah ruang tempat tradisi Jawa dan ekspresi queer hidup berdampingan.
Indonesian Queer Collective (IQC) memutar film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret karya sutradara Nia Dinata di The Substation, Darlinghurst, Sydney, pada 18 Juni 2026 sebagai bagian dari Pride Fest 2026.
Film berdurasi 95 menit ini mengangkat kisah mendiang Hamzah Sulaiman, pendiri Raminten Cabaret di Yogyakarta. Pertunjukan kabaret tersebut memadukan tari tradisional Jawa dengan kabaret Barat.
Nia Dinata, yang dikenal lewat film fiksi seperti Arisan! dan Berbagi Suami, menuturkan bahwa ia sudah lama menjadi pelanggan Raminten dan merasa perlu mendokumentasikan dunianya.
"Setelah kita lelah syuting, hiburan kita adalah Raminten Cabaret. Lalu dalam hati saya, saya suatu saat harus bikin dokumenter tentang jagatnya Raminten," ujarnya kepada SBS Indonesian.
Film dokumenter ini, ujar Dinata, menjadi cara untuk menunjukkan sisi lain Indonesia yang jarang terlihat. Ia menjelaskan bahwa persepsi publik internasional sering kali menggambarkan Indonesia sebagai negara yang konservatif dan tidak toleran terhadap perbedaan, padahal dunia Raminten menunjukkan hal sebaliknya.
Hamzah Sulaiman meninggal dunia pada April 2025 dalam usia 75 tahun. Pada saat itu, tim produksi masih menyunting film ini. Kepergian Hamzah justru menjadi bagian tak terpisahkan dari film tersebut.
Saya merasa bersyukur saya bisa merekamnya semua. Ending-nya ya beliau meninggal. Kalau film dokumenter, kita bukan seperti film fiksi yang bisa menulis naskahnya. Ini yang mengatur sebenarnya semesta.Nia Dinata

Hanna Ulfah, anggota Indonesian Queer Collective yang hadir di pemutaran tersebut, mengaku sangat tersentuh menyaksikan film ini di Sydney. Ia mengatakan, momen paling membekas baginya adalah ketika salah satu pekerja Raminten dalam film itu mengungkapkan bahwa mereka tetap datang ke kabaret walaupun tidak ada jadwal tampil, bukan untuk bekerja, melainkan untuk berkumpul bersama keluarga pilihan mereka.
Keunikan Raminten, menurut Dinata, terletak pada keberagaman penontonnya. Penonton kabaret ini terdiri dari berbagai kalangan,baik ibu-ibu, remaja, maupun komunitas queer, tambahnya.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesia.





