Pekan NAIDOC, yang berlangsung dari hari Minggu, 5 Juli hingga Minggu, 12 Juli, memberikan kesempatan bagi seorang pelukis dan seorang penari asal Indonesia untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai sejarah dan budaya Masyarakat Adat (First Nations) melalui keterlibatan mereka dalam pameran 'To All the Steps that Shake the Land’s Memory' di Campbelltown Arts Centre, NSW.
Zico Albaiquni adalah seorang pelukis asal Indonesia yang saat ini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Fakultas Seni Universitas Melbourne. Dalam pameran tunggalnya yang bertajuk To All the Steps that Shake the Lands. Zico menceritakan kepada SBS Indonesian bagaimana pertemuannya dengan sejumlah seniman atau pelukis dari komunitas First Nations (penduduk asli Australia) memberinya wawasan mengenai budaya mereka. Pertemuannya dengan Aunty Glenda Chaulker—seorang tetua First Nations yang dengan murah hati berbagi cerita tentang sejarah kaumnya terkait peristiwa Pembantaian Appin—memberikan pengalaman yang sangat berharga baginya. Pameran ini menampilkan dua karya penting Zico yang berkaitan dengan komunitas First Nations, yaitu tari Sari Tunggal/Bingbrung dan Balong/Bilabong.
Sekar Sari adalah seorang aktris, penari, serta peneliti seni dan budaya asal Yogyakarta. Ia sedang menempuh studi doktoral di bidang Film dan Tari pada Fakultas Seni di University of Melbourne. Pada acara pembukaan pameran Zico di Campbelltown Arts Centre, Sekar memberikan pemaparan mengenai tari klasik Indonesia serta mengadakan lokakarya bersama para penari dari Wirid Jiribin, yaitu sebuah komunitas yang memberikan penghormatan kepada para penjaga asli tanah tersebut melalui penggunaan bahasa Tharawal (atau Dharawal). Pertukaran budaya yang terjadi memperkaya pemahaman Sekar mengenai sejarah First Nations serta hubungan antara tarian dengan tanah, leluhur, budaya, dan berbagai elemen lainnya.





