Radio telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang Indonesia. Sejak kemunculannya yang signifikan pada awal tahun 1930-an—khususnya dengan berdirinya lembaga radio Hindia Belanda pada 1933—medium ini memegang peranan vital.
Sebelum televisi dan media cetak menyebar luas, radio adalah "napas" perlawanan yang menyebarkan semangat juang para pahlawan hingga ke pelosok negeri. Puncaknya, radio menjadi saksi bisu sekaligus penyiar kabar paling bersejarah: proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Namun, seiring bergulirnya waktu, teknologi terus berevolusi.
Hari Radio Sedunia yang diperingati setiap tanggal 13 Februari kini membawa tema yang sangat relevan dengan zaman: Radio dan Kecerdasan Buatan (AI). Pergeseran ini menandai babak baru dalam cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan suara.
Setiap tanggal 13 Februari, dunia merayakan Hari Radio Global untuk menghormati medium yang terbukti paling tangguh dalam sejarah komunikasi massa. Namun, tahun ini kita berdiri di ambang transformasi besar: titik temu antara frekuensi analog dan kecerdasan buatan (AI).
Ade Mardiyati, seorang jurnalis lepas dan fixer media asing, mengamati adanya perubahan mencolok dalam perilaku pendengar lintas generasi. Jika generasi kelahiran 1970-an dan 80-an terbiasa duduk tenang di depan radio—menyimak sandiwara radio seperti kisah Mantili dengan kekuatan imajinasi—generasi masa kini tumbuh di era visual.

Radio bukan lagi sekadar suara di balik kotak kayu atau dasbor mobil. Kehadiran AI kini mendefinisikan ulang cara kita berinteraksi dengan audio—mulai dari kurasi musik yang sangat personal, pemrosesan suara yang lebih jernih, hingga otomatisasi konten yang memungkinkan siaran berjalan 24 jam tanpa henti.
Meskipun teknologi terus berkembang, inti dari radio tetap sama: koneksi manusia. Tantangan besar bagi kita sekarang adalah bagaimana memanfaatkan kecanggihan algoritma tanpa menghilangkan "nyawa" dan kehangatan yang selama ini menjadi kekuatan utama radio. Mari kita telaah bagaimana harmoni antara tradisi suara dan inovasi digital ini membentuk masa depan penyiaran dunia.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcasts kami.





