Tim arkeolog Indonesia dan Australia menemukan seni cadas tertua di dunia di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dalam wawancara eksklusif dengan SBS Indonesian, arkeolog Shinatrya Adhityatama menjelaskan bagaimana timnya menemukan lukisan tangan (hand stencil) yang berusia minimal 67.800 tahun ini.
Pada 21 Januari 2025, tim arkeolog Indonesia dan Australia mengumumkan penemuan seni cadas tertua di dunia: lukisan cap tangan berusia lebih dari 67.800 tahun di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
"Luar biasa, karena sebenarnya kita tidak menyangka akan menemukan yang tua secepat itu," ujar Shinatrya Adhityatama, arkeolog dari Pusat Arkeologi Lingkungan Maritim dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menyelesaikan PhD-nya di Griffith University, Australia.
Penemuan ini hasil kolaborasi besar antara peneliti Indonesia dan Australia. Tim dipimpin oleh Dr. Adhi Agus Oktaviana, ahli gambar cadas Indonesia, bekerja sama dengan Prof. Maxime Aubert dari Griffith University. Proses penemuan dimulai pada 2015 ketika Dr. Adhi pertama kali menemukan lukisan tersebut. Pengambilan sampel dilakukan pada 2019, namun pandemi COVID-19 menunda pengujian hingga 2023.

Untuk menentukan usia lukisan, tim menggunakan metode uranium series dan laser ablation. "Kita bukan mengambil pigmen lukisannya, jadi kita tidak merusak lukisannya. Tapi kita mengambil batuan kalsit yang tumbuh di atas pigmen lukisan tersebut," ujar Dr. Adhityatama.
Seni cadas ini, kata Dr. Adhityatama, dibuat oleh Homo Sapiens, yang kemungkinan merupakan nenek moyang orang Indonesia dan mungkin terkorelasi dengan nenek moyang Aborigin Australia.

Penemuan ini menambah daftar temuan arkeologi Indonesia yang signifikan secara global. Ke depan, tim akan fokus ke Papua dan kembali ke Muna untuk mencari sisa manusia dari periode yang sama. "Sekarang kan hanya kita tahu lukisannya, tapi kita mau mencari mungkin kita bisa ketemu manusianya juga yang berumur sama. Itu akan lebih lengkap narasinya," kata Dr. Adhityatama.

Simak wawancara lengkap SBS Indonesian dengan Shinatrya Adhityatama untuk pembahasan lebih lanjut.



