Dari semangkuk bubur ayam hingga kisah pelaut Makassar, pasangan Kris Redden dan Ruby Healey mengangkat cerita diaspora Indonesia di Melbourne yang selama ini jarang terdengar melalui buku karangan mereka.
Kris Redden masih ingat betul saat pertama kali makan bubur ayam di Australia. Semua kenangan masa kecilnya di Jakarta seketika hadir kembali.
Pria berdarah Indonesia-Australia ini pindah dari Jakarta ke sebuah kota kecil berpenduduk 600 orang di Australia sekitar 15 tahun yang lalu. Lama tinggal di Australia, rasa rindu akan Indonesia lah yang membuatnya memahami betapa kuatnya peran makanan dalam kehidupan diaspora Indonesia.
Bersama tunangannya, Ruby Healey, Redden kemudian mengabadikan kisah sembilan keluarga Indonesia di Victoria dalam Merantau: Stories of Indonesian Food and Migration, yang baru saja diluncurkan. Di balik setiap resep, tersimpan cerita tentang identitas, kerinduan, dan kebersamaan di negeri orang.

Di dalam buku itu, salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah cerita Mama Nining, salah satu pendiri Sanggar Lestari. Muslimah ini memilih pergi ke gereja berbahasa Indonesia saat pertama tiba di Australia, semata demi bisa berkumpul dengan sesama dan menikmati masakan rumahan bersama.
Redden juga menyoroti sejarah yang jarang diketahui publik: hubungan pelaut Makassar dan suku asli Yolngu jauh sebelum era kolonisasi, di mana pertukaran budaya terjadi di sekitar tungku masak yang sama.
Bagi Healey, yang tumbuh besar di Adelaide tanpa banyak terpapar masakan Indonesia, keterlibatannya berangkat dari rasa syukur atas kehangatan komunitas diaspora Indonesia di Melbourne yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Menurutnya, makanan adalah bahasa cinta yang tidak memerlukan penerjemah.
Simak perbincangan lengkap SBS Indonesian dengan Kris Redden dan Ruby Healey untuk mendengar cerita lebih lengkap.





