Satu Jiwa, warung dadakan di Melbourne, membawa makanan Indonesia ke bar dan panggung musik untuk memperkenalkan kuliner tanah air sebagai bagian dari budaya kontemporer kota ini.
Asap dari panggangan udang mengepul di lantai atas Mr West, sebuah bar di Footscray, Melbourne. Di dalam bar, antrean pengunjung mengular untuk mendapatkan seporsi nasi kapau. Yang mengantre bukan hanya warga Indonesia, melainkan juga warga Australia dari berbagai latar belakang yang penasaran dengan hidangan Sumatera Barat ini.
Di balik meja pesanan, Wahyu Prasetyo, yang akrab disapa Tio, dan pasangannya, Natasha Iodice, bersama beberapa rekan kerja menyiapkan piring demi piring. Nasi putih dengan rendang daging, gulai nangka, sambal ijo, telur, kerupuk, serta skallop dan tiram. Dua orang kru sibuk memanggang udang segar di atas bara. Untuk penutup, tersedia trifle yang terinspirasi dari kopi susu khas Indonesia.
Makanan Indonesia yang disajikan di sebuah bar memang bukan pemandangan yang lazim. Namun justru itulah yang menjadi misi Satu Jiwa, warung dadakan yang didirikan Tio dan Natasha pada April 2026.
Kami ingin memperkenalkan bahwa makanan Indonesia itu bukan hanya rendang, nasi goreng, atau gado-gado.Wahyu Prasetyo - Chef
Selama ini restoran Indonesia di Australia cenderung mengusung nuansa rumahan, hangat seperti makan "di rumah tante," ujar Tio. Tidak ada yang salah dengan konsep itu, menurutnya, tetapi ia merasa kuliner Indonesia perlu hadir juga di ruang yang berbeda. Maka Satu Jiwa sengaja membawa makanan Indonesia ke tempat-tempat seperti bar dan acara musik.
Tio sengaja memilih nama "nasi kapau" alih-alih "nasi Padang" yang lebih dikenal karena ia ingin menampilkan identitas regional Sumatera Barat yang lebih spesifik.
Soal perjalanan kariernya, Tio bercerita kepada SBS Indonesian bahwa ia bukanlah koki sewaktu masih tinggal di Indonesia. Ia bekerja di bidang korporat. Setelah pindah ke Australia, Tio mengatakan, ia memutuskan untuk sekolah masak dan memulai karier di dapur profesional.

Namun, selama bertahun-tahun bekerja di dapur Australia, Tio mengatakan, ia tidak pernah sekalipun memasak makanan Indonesia secara profesional. Di hari libur, justru itulah yang sering ia masak, ujarnya. Satu Jiwa, menurutnya, merupakan wujud kerinduan akan kampung halaman.
Tetapi di balik kerinduan itu ada juga keresahan. Tio menceritakan pengalamannya di sebuah restoran Indonesia di Melbourne ketika ia mendengar sekelompok diaspora mengeluhkan harga nasi bungkus seharga 22 dolar. Namun, beberapa saat kemudian, mereka dengan antusias merekomendasikan sebuah kedai burger yang harganya sekitar 28 dolar.
Bagi Tio, percakapan singkat itu merangkum persoalan yang lebih besar. Banyak diaspora Indonesia, menurutnya, yang belum sepenuhnya menghargai nilai kuliner tanah airnya sendiri, tetapi di sisi lain berharap makanan Indonesia bisa mendunia. Padahal, ruang gerak kuliner Indonesia bisa meluas apabila didukung penuh oleh komunitas Indonesia sendiri, tambahnya.
Ke depan, Satu Jiwa tidak akan berhenti di masakan Sumatera Barat. Setiap warung dadakan, kata Tio, akan mengusung menu yang berbeda karena yang ingin ia perkenalkan adalah kekayaan kuliner Indonesia secara keseluruhan.
Dengarkan perbincangan selengkapnya di podcast SBS Indonesian.




