Karya terbaru sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell, meraih box office dan tayang di 148 negara dengan membawa isu sosial yang menjadi kegelisahan masyarakat Indonesia.
Film Ghost in the Cell meraih kesuksesan luar biasa dengan menjadi karya box office dan menarik 3,4 juta penonton di Indonesia. Karya terbaru dari sutradara Indonesia Joko Anwar ini juga dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop di 148 negara.
Berbicara kepada SBS Indonesian, Joko Anwar mengatakan bahwa keterkaitan cerita di balik film dengan isu sosial di masyarakat lah yang membuat film ini memperoleh respon yang begitu baik, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari masyarakat di luar negeri khususnya diaspora Indonesia.

"Ghost in the Cell bercerita tentang sistem yang sangat korup dan itu yang sedang terjadi di Indonesia sekarang," jelas sutradara yang telah melahirkan 12 film ini.
"Narapidananya sendiri dalam Ghost in the Cell kan perumpamaan dari warga negara Indonesia."
Film harus dimanfaatkan untuk menyuarakan kegelisahan kolektif, sekaligus meningkatkan awareness bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.Joko Anwar, Sutradara Ghost in the Cell
Meski Ghost in the Cell menghibur dengan menggunakan dua genre yang digemari masyarakat — horor dan komedi — tetapi Joko Anwar menyadari bahwa isu-isu sosial yang dibawakan melalui film ini tidaklah ringan. Hal ini yang membuatnya "tidak menyangka" dan "bersyukur" bahwa film ini diterima dengan sangat baik.

Dampak apa yang diharapkan sang sutradara melalui film ini? Apa juga yang ingin digambarkannya dari setiap tokoh dan alur cerita?
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





