Watch FIFA World Cup 2026™

LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Tarsius: Primata Mungil Sulawesi yang Butuh Hutan untuk Bertahan Hidup

Sangihe tarsier (Tarsius sangirensis), foraging at night
in
SANGIHE ISLAND, TAHUNA, NORTH SULAWESI, INDONESIA - 2016/01/10: Sangihe tarsier (Tarsius sangirensis), foraging at night in the wild on the island of Sangihe, North SulawesI. Source: LightRocket / Fiqman Sunandar/Pacific Press/LightRocket via Getty Images

Tarsius adalah satwa eksotik dari Sulawesi, yang ukurannya sangat kecil dan disebut sebagai primata paling kecil di dunia. Ukurannya kira-kira sebesar mouse atau tetikus yang biasa digunakan di komputer. Satwa ini adalah satwa endemik di Sulawesi.


Published

Updated

By Nurhadi Sucahyo

Source: SBS




Share this with family and friends


Tarsius adalah satwa eksotik dari Sulawesi, yang ukurannya sangat kecil dan disebut sebagai primata paling kecil di dunia. Ukurannya kira-kira sebesar mouse atau tetikus yang biasa digunakan di komputer. Satwa ini adalah satwa endemik di Sulawesi.


Tarsius memakan serangga dan dianggap penting dalam ekosistem, karena itulah banyak pihak berusaha untuk melestarikannya. Salah satunya adalah Yayasan Tarsius Celebes Indonesia. Taufik Dhani, Ketua yayasan tersebut menceritakan tentang peran penting satwa itu ekosistem.

Yayasan Tarsius Celebes Indonesia awalnya adalah sebuah Kelompok Pecinta Alam (KPA) yang digerakkan generasi muda di Pulau Buton, sebuah pulau kecil di Sulawesi. Selain sebagai gerakan pecinta alam dan konservasi, yayasan ini juga melakukan pendidikan lingkungan bagi para remaja di sana.

Tarsius adalah satwa yang terkenal dari pulau Buton, dan Sulawesi secara umum. Satwa ini dengan mudah ditemukan di hutan Lambusango yang ada di tengah pulau itu. Primata terkecil di dunia ini ditemukan berkumpul di pohon-pohon besar dan berativitas di malam hari karena menjadi hewan nocturnal.

“Dia hidupnya berkelompok. Kalau di hutan Lambusango itu memang ada beberapa spot itu yang kita sudah identifikasi, memang jadi habitatnya di situ,” kata Dhani.

Satwa ini cukup terjaga dari ancaman perburuan, justru karena ukurannya yang sangat kecil dan makanan asli berupa serangga yang sudah disediakan. Masyarakat setempat tida menjadikannya sebagai hewan konsumsi dan juga tidak menangkarkannya di kandang.

Justru, ancaman terbesarnya adalah jika hutan-hutan di pulau Buton mengalami deforestasi. Karena itulah, aktivis di yayasan ini berjuang melestarikan tarsius, dengan menolak penebangan hutan. Tidak ada data resmi mengenai jumlah tarsius liar sampai saat ini.

Juga, seberapa luas persebarannya di Sulawesi. Untuk bisa melihatnya, wisatawan atau warga setempat cukup datang ke titik-titik tertentu di hutan, yang memang menjadi pusat aktivitas tarsius.

Yayasan Tarsius Celebes Indonesia yang berdiri sejak 2010, memiliki perhatian terhadap tarsius karena satwa tersebut endemik Sulawesi, khususnya di pulau Buton. Statusnya sebagai primata terkecil dunia yang eksotis dan lucu juga penting untuk dipertahankan.

Beberapa tahun lalu, masih sering ada wisatawan mancanegara yang khusus datang untuk melihat tarsius di alam liar. Begitupun para peneliti asing yang mengamati lebih jauh satwa ini. Saat ini, kunjungan wisata maupun penelitian dari negara asing hampir tidak ada lagi.

“Karena dulu pernah ada, program operasi Wallacea, tapi sekarang sudah tidak ada. Dulu itu sering ada turis-turis yang datang, mereka memang kadang minta untuk diantarkan ke situ, di lokasi-lokasi yang bisa untuk melihat habitatnya Tarsius itu,” papar Dhani.

Yayasan Tarsius Celebes Indonesia berharap satwa ini dapat terus dilestarkan, tidak hanya di Buton, tetapi di Sulawesi secara umum. Ancaman terbesarnya, kata Dhani lagi, adalah penebangan hutan secara liar, dan termasuk kegiatan tambang yang kian marak dan merusa hutan.

Selama hutan terjadi, tarsius akan terus lestari dan hidup berdampingan bersama masyarakat pulau Buton. Bukan hanya tarsius, jika hutan Lambusango di Buton terjaga, ada banyak satwa lain yang dapat dilestarikan, misalnya berbagai macam burung langka dan kera bokong merah.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now