Pendengar 8.178 mahasiswa dari Universitas Gajah Mada saat ini sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Mereka disebar di 298 unit lokasi di 32 provinsi seluruh Indonesia dalam program yang bertujuan untuk memberikan contoh nyata bagaimana perguruan tinggi berperan langsung dalam pembangunan masyarakat.
Meski dua negara, Indonesia dan Timor Leste, memiliki sejarah yang kelam, program KKN mahasiswa Universitas Gajah Mada di Belu, NTT dan Timor Leste ini memiliki semangat, antara lain merajut kembali hubungan baik antar masyarakat kedua negara.
Bonafasius Karel Laksamana Pratista, mahasiswa program studi pembangunan wilayah di Universitas Gajah Mada adalah koordinator mahasiswa unit atau Kormanit program KKN di Belu, Nusa Tenggara Timur. Di wilayah ini, mereka tersebar di desa Dualaus, kecamatan Kakuluk Mesak, dan desa Sadi serta desa Tulakadi di kecamatan Tasifeto Timur. Program ini berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan akan berakhir pada 8 Agustus 2026.
Menurut Karel, salah satu motivasi mereka menggelar program jauh dari kampus adalah pengabdian di wilayah 3T atau Tertinggal, Terdepan dan Terluar, terutama di wilayah perbatasan.

Di tiga desa lokasi program, mahasiswa UGM mencatat potensi yang berbeda. Desa Dua Laus, memiliki patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa, yang sangat besar potensinya bagi pariwisata religi, selain potensi perikanan sebagai desa di wilayah pesisir. Desa Tulakadi, memiliki potensi besar di bidang pertanian, terutama pertanian lahan kering. yang sedang diupayakan saat ini adalah kebun untuk tanaman jambu kristal. Sedangkan desa Sadi, memiliki karakter desa sosial-budaya karena kekayaan budaya dan adat. Desa ini juga lokasi ditemukannya fosil gajah purba atau stegodon.

Di luar potensi ini, NTT dikenal sebagai provinsi beriklim kering dan salah satu yang termiskin di Indonesia. Kondisi ini menjadi problem tersendiri, yang harus turut diatasi oleh para mahasiswa.
Kendala seperti ini yang kemudian kita coba untuk mencari solusi bersama. Salah satunya melalui program kerja unggulan kami. Kami mencoba membuat masterplan desa, di mana masterplan desa ini adalah dokumen yang kemudian kita rancang untuk melihat bagaimana suatu desa nanti akan dikembangkan.Karel

Kolaborasi juga dibangun bersama perguruan tinggi, baik di NTT maupun Timor Leste bapak. Dari NTT ada Universitas Nusa Cendana dan Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan, sebuah kampus Vokasi Logistik Militer di sana. Sementara dari Timor Lester, ada Dili Institute of Technology.
Salah satu mahasiswa peserta KKN di lokasi ini, Mahadri Arkan Abimanyu, mengangkat isu-isu hubungan kedua negara, karena dia adalah mahasiswa program studi Hubungan Internasional di UGM.
Ketika perbatasan dilihat sebagai potensi konflik, akan menjadi aneh. Perbatasan justru mengikat kedua bangsa, kalau sungai sebagai perbatasan negara tidak boleh dikelola, yang rugi justru masyarakat setempat.Abimanyu
Mahasiswa UGM datang ke Belu NTT dan Timor Leste bukan dengan program monumental yang cepat berakhir, tetapi lebih memilih untuk membangun sistem. Ada proses transfer ilmu dan pengembangan kelopok-kelopok yang ada di masyarakat. Harapannya, apa yang sudah dilakukan para mahasiswa ini, bisa dilanjutkan, bahkan setelah mereka pulang nantinya.





