SKIP TO MAIN CONTENT

Merajut Hubungan Indonesia - Timor Leste melalui KKN UGM

Tim KKN menggelar dikusi penyusunan masterplan pertanian di desa Tulakadi. foto Karel.jpeg
Tim KKN menggelar dikusi penyusunan masterplan pertanian di desa Tulakadi. foto Karel

Sebanyak 8.178 mahasiswa dari Universitas Gajah Mada saat ini sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Mereka disebar di 298 unit lokasi di 32 provinsi seluruh Indonesia dalam program yang bertujuan untuk memberikan contoh nyata bagaimana perguruan tinggi berperan langsung dalam pembangunan masyarakat.


Published

Updated

By Nurhadi Sucahyo

Presented by SBS Indonesian

Source: SBS



Skip to podcast episode content

Sebanyak 8.178 mahasiswa dari Universitas Gajah Mada saat ini sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Mereka disebar di 298 unit lokasi di 32 provinsi seluruh Indonesia dalam program yang bertujuan untuk memberikan contoh nyata bagaimana perguruan tinggi berperan langsung dalam pembangunan masyarakat.


Salah satu lokasi program KKN itu adalah kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Indonesia dan Timor Leste, memang memiliki sejarah yang kelam. Karena itu, program KKN mahasiswa Universitas Gajah Mada di Belu, NTT dan Timor Leste ini memiliki semangat, antara lain merajut kembali hubungan baik antar masyarakat kedua negara.

Bonafasius Karel Laksamana Pratista, mahasiswa program studi pembangunan wilayah di Universitas Gajah Mada adalah koordinator mahasiswa unit atau Kormanit program KKN di Belu, Nusa Tenggara Timur. Di wilayah ini, mereka tersebar di desa Dualaus, kecamatan Kakuluk Mesak, dan desa Sadi serta desa Tulakadi di kecamatan Tasifeto Timur. Program ini berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan akan berakhir pada 8 Agustus 2026.

Penanaman mangrove oleh mahasiswa dari UGM, Universitas Pertahanan dan Dili Institute of Technology pada Kamis 23 Juli 2026. foto Karel.jpeg
Penanaman mangrove oleh mahasiswa dari UGM, Universitas Pertahanan dan Dili Institute of Technology pada Kamis 23 Juli 2026. foto Karel

Menurut Karel, salah satu motivasi mereka menggelar program jauh dari kampus adalah pengabdian di wilayah 3T atau Tertinggal, Terdepan dan Terluar, terutama di wilayah perbatasan.

Di tiga desa lokasi program, mahasiswa UGM mencatat potensi yang berbeda. Desa Dualaus, memiliki patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa, yang sangat besar potensinya bagi pariwisata religi, selain potensi perikanan sebagai desa di wilayah pesisir. Desa Tulakadi, memiliki potensi besar di bidang pertanian, terutama pertanian lahan kering. Di lokasi ini, yang sedang diupayakan adalah kebun untuk tanaman jambu kristal. Sedangkan desa Sadi, memiliki karakter desa sosial-budaya karena kekayaan budaya dan adat. Desa ini juga lokasi ditemukannya fosil gajah purba atau stegodon.

Di luar potensi ini, NTT dikenal sebagai provinsi beriklim kering dan salah satu yang termiskin di Indonesia. Kondisi ini menjadi problem tersendiri, yang harus turut diatasi oleh para mahasiswa.

Kendala seperti ini yang kemudian kita coba untuk mencari solusi bersama. Salah satunya melalui program kerja unggulan kami. Kami mencoba membuat masterplan desa, di mana masterplan desa ini adalah dokumen yang kemudian kita rancang untuk melihat bagaimana suatu desa nanti akan dikembangkan.
Karel

Kolaborasi juga dibangun bersama perguruan tinggi, baik di NTT maupun Timor Leste. Dari NTT ada Universitas Nusa Cendana dan Politeknik Ben Mboi, sebuah kampus di bawah Universitas Pertahanan (Unhan). Sementara dari Timor Lester, ada Dili Institute of Technology.

Salah satu kegiatan KKN di desa Tulakadi, Belu NTT. foto Karel.jpeg
Salah satu kegiatan KKN di desa Tulakadi, Belu NTT. foto Karel

Salah satu mahasiswa peserta KKN di lokasi ini, Mahadri Arkan Abimanyu, mengangkat isu-isu hubungan kedua negara, karena dia adalah mahasiswa program studi Hubungan Internasional di UGM.

Ketika perbatasan dilihat sebagai potensi konflik, akan menjadi aneh. Perbatasan justru mengikat kedua bangsa, kalau sungai sebagai perbatasan negara tidak boleh dikelola, yang rugi justru masyarakat setempat.
Abimanyu

Mahasiswa UGM datang ke Belu NTT dan Timor Leste bukan dengan program monumental yang cepat berakhir, tetapi lebih memilih untuk membangun sistem. Ada proses transfer ilmu dan pengembangan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat.

Harapannya, apa yang sudah dilakukan para mahasiswa ini, bisa dilanjutkan, bahkan setelah mereka pulang nantinya.

Mahasiswa KKN UGM di DIli, Timor Leste. foto Karel.jpeg
Mahasiswa KKN UGM di DIli, Timor Leste. foto Karel

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan  Instagram, serta jangan lewatkan podcasts kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now