Watch FIFA World Cup 2026™

LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Telur Ayam Bebas Sangkar: Mudahkah Diterima Masyarakat Indonesia?

Peternakan ayam cage free milik PT Talun Indonesia Baharu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
PT Talun Indonesia Baharu's cage-free chicken farm in Bandung Regency, West Java. Credit: Supplied/Rahmat Ardiansyah

Dalam beberapa waktu terakhir ini di Indonesia atau di sebagian daerah sedang populer konsumsi untuk telur yang dihasilkan dari ayam yang bebas dari sangkar atau kandang. Meski dipandang lebih sehat, apakah masyarakat mudah menerimanya?


Published

By Nurhadi Sucahyo

Presented by SBS Indonesian

Source: SBS




Share this with family and friends


Dalam beberapa waktu terakhir ini di Indonesia atau di sebagian daerah sedang populer konsumsi untuk telur yang dihasilkan dari ayam yang bebas dari sangkar atau kandang. Meski dipandang lebih sehat, apakah masyarakat mudah menerimanya?


Dalam beberapa waktu terakhir ini di Indonesia atau di sebagian daerah sedang populer konsumsi untuk telur yang dihasilkan dari ayam yang bebas dari sangkar atau kandang.

Para konsumen terutama tertarik karena faktor yang terkait dengan kesehatan dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan dalam hal ini ayam itu sendiri. Tetapi bukan berarti produk ini mudah diterima oleh masyarakat karena harganya lebih tinggi.

Rahmat Ardiansyah, Direktur Operasional dari PT Talun Indonesia Baharu dari Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat menjelaskan, ayam bebas sangkar (cage free) adalah ayam yang memiliki ruang cukup besar untuk bergerak.

Pada umumnya, peternakan ayam petelur di Indonesia menempatkan ayam di sangkar-sangkar, berdesakan satu sama lain, dan tidak bisa bergerak leluasa. Mereka hanya makan dan bertelur, tanpa sempat menikmati udara segar dan sinar matahari.

“Jadi mereka tidak bisa mengekspresikan tingkah laku naturalnya, behaviornya di luar. Sementara kalau yang bebas sangkar ini mereka memiliki keleluasaan walaupun tetap ada ruang. Untuk cage-free, walaupun tetap ada ruang, tetapi setidaknya mereka bisa bebas bergerak,” jelas Rahmat.

PT Talun Indonesia Baharu's cage-free chicken farm in Bandung Regency, West Java.
PT Talun Indonesia Baharu's cage-free chicken farm in Bandung Regency, West Java. Credit: Supplied/Rahmat Ardiansyah

Isu kesejahteraan hewan sebenarnya belum begitu populer di Indonesia. Menurut Rahmat, konsep peternakan yang menjamin kesejahteraan ayam mereka adopsi dari berbagai negara Eropa atau Amerika, dimana isu ini mengemuka. Belakangan ini, disebutkan Rahmat, kesadaran masyarakat Indonesia terkait isu ini semakin meningkat.

Dalam skema peternakan yang menjamin kesejahteraan hewan, khususnya ayam, ada tiga jenis tingkatan yang berbeda. Rahmat memamaparkan, di tingkat paling bawah adalah cage free, di mana ayam tidak terkurung dalam satu kandang, meskipun mereka tetap hidup dalam satu batasan tertentu. Bentuk kedua adalah free range, di mana ayam hidup dalam kandang yang besar, tetapi juga memiliki lahan atau halaman luas di depannya, tempat mereka mengakses sinar matahari, bermain tanah hingga memburu serangga-serangga kecil.

Bentuk ketiga adalah pasteurised, di mana ayam benar-benar dilepas di area yang sangat luas, tidak ada batasannya. Kualitas telur yang dihasilkan pun berbeda, dimana ayam yang lebih bebas, memiliki kualitas telur lebih baik.

Secara umum, telur ayam bebas sangkar memiliki kualitas lebih bagus karena berbagia sebab. Pertama, ayam yang dipelihara bebas dari stress, karena bagaimanapun kandang membuat mereka tertekan. Karena bebas stress, telur yang dihasilkan juga sangat sedikit terkontaminasi penyakit.

Ayam yang bebas, ayam yang sehat, ayam yang bahagia, itu cenderung kuat.
Rahmat Ardiansyah, Direktur Operasional PT Talun Indonesia Bahari

Di pedesaan Indonesia, ayam biasanya telah dipelihara secara sangat bebas. Tren ayam bebas sangkar sebenarnya mengadopsi itu dengan sejumlah penambahan seperti sumber air yang bersih, pakan sehat yang sepenuhnya berasal dari sumer nabati, tempat bertengger yang sesuai dengan naluri mereka untuk bertahan, dan sarang atau petarangan yang lebih baik.

Telur-telur dari ayam yang sejahtera memiliki perbedaan kualitas rasa, juga aroma dibandingkan telur dari ayam peternakan biasa.

“Biasanya kalau telur bebas sangkar ini tidak terlalu amis, karena memang tidak menggunakan bahan protein hewani. Kemudian juga hypoallergenik biasanya Pak, karena ya nabati,” tambah Rahmat.

Karena harganya lebih mahal, pasar di Indonesia untuk telur ayam yang sejahtera ini masih sangat terbatas. Pasar utamanya masih hotel, restoran dan kafe. Sisanya berasal dari sejumla lembaga di mana para stafnya memang mengonsumsi telur ini, dan juga sedikit di sektor retail.

Promosi masih mengandalkan penjelasan bahwa telur dari ayam-ayam yang sejahtera lebih berkualitas dan lebih sehat. Isu kesejahteraan hewan, dalam pengalaman Rahmat, belum bisa menjadi pijakan konsumen dalam membeli produk ini.

Rahmat telah menggeluti usaha ini dalam 6 tahun terakhir, tetap baru pada 2026 ini dia merasa ada peningkatan tren konsumsi telur ayam bebas sarang.

Dengarkan podcast ini selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now