Dua kasus virus Nipah yang mematikan telah dikonfirmasi di negara bagian Benggala Barat, India, dan setidaknya 190 orang telah dikarantina. Hal ini mendorong beberapa negara di Asia untuk meningkatkan pemeriksaan bandara guna mencegah penyebaran infeksi, yang pada tahap ini belum memiliki vaksin atau pengobatan yang terbukti efektif.
Dr. Dicky Budiman adalah seorang ahli epidemiologi dan ahli Kesehatan Lingkungan. Gelar PhD-nya di bidang Keamanan Kesehatan Global, Kepemimpinan & Komunikasi Risiko. Ia mengatakan bahwa meskipun virus Nipah adalah virus berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi, virus ini tidak mudah menyebar dari orang ke orang. Virus ini terutama menyebar dari kelelawar buah.
Dr. Budiman mengatakan bahwa penemuan kasus pada manusia juga bergantung pada kemampuan pengawasan yang memadai. Asia Tenggara, misalnya, merupakan wilayah berisiko karena keberadaan kelelawar di hutan-hutan di sana. Ketika sebuah kasus ditemukan di suatu negara, negara lain dapat berisiko karena mobilitas penduduk yang tinggi dan masa inkubasi yang panjang yang dapat memakan waktu satu bulan. Kemudian, jika seseorang di negara lain tertular, itu disebut kasus impor. Nipah dapat menyebabkan demam dan peradangan otak.





