Diaspora Fair 2026 telah diselenggarakan
oleh Indonesian Diaspora Network
Victoria di Collingwood Town Hall pada
Sabtu, 7 Februari lalu. Acara
ini dimeriahkan tidak hanya oleh pengisi
acara yang membawakan budaya
Indonesia, tetapi juga budaya lainnya
seperti Tiongkok dan Vietnam. Saya sempat
hadir dan berbincang dengan salah satu
pengunjung mengenai apa yang dia cari di
festival ini. Berikut perbincangan kami.
Mbak Tari, jadi apa nih yang memotivasi
Mbak Tari untuk datang ke Diaspora Fair
ini?
Karena saya juga pengajar bahasa Indonesia
di Melbourne, jadi saya mau tahu apakah
saya bisa menggunakan beberapa workshop
yang ada di sini atau beberapa pertunjukan
atau mungkin juga bisa networking juga
dengan sanggar-sanggarnya. Mungkin juga
bisa datang ke sekolah saya atau
murid-murid saya bisa datang ke sanggar
-mereka. Sebenarnya kayak gitu sih.
-Dan ini selain dari itu, apakah makanannya
-juga dicari nih?
-Iya, makanannya juga menjadi tujuan saya
ke sini ya, karena sebagai seorang
Indonesia pasti kita kangen banget sama
makanan-makanannya. Kadang kalau masak di
rumah juga memakan waktu banyak, jadi saya
mau coba-coba nih makanan-makanan apalagi
yang cemilan-cemilan manisnya juga sih.
-Bagaimana dengan tari-tariannya?
-Saya rasa tariannya bagus ya, karena di
Australia juga ada banyak orang Australia
yang belajar bahasa Indonesia. Saya pikir
itu bisa menjadi momen untuk immersion
buat mereka, jadi mereka bisa melihat
beberapa tarian tradisional dari Indonesia
juga.
Tadi juga sempat ada tari-tarian dari
Vietnam, dari Cina. Nah, ini kan momennya
sebenarnya diaspora secara tidak hanya
Indonesia. Menurut Mbak Tari nih, acara
seperti ini menarik nggak sih untuk
mengumpulkan diaspora bareng-bareng
-menunjukkan budaya mereka?
-Iya, saya rasa ini penting ya, apalagi ini
di negara lain kan. Jadi bisa
menggabungkan beberapa diaspora dan juga
balik lagi mengingatkan dari mana kita
berasal juga sih. Jadi kita juga ingat
dari mana kita berasal, tapi juga kita
juga menjadi... bisa melihat banyak budaya
-dari negara lain juga.
-Mengapa itu penting untuk mengingat dari
-mana kita berasal?
-Menurut saya, identitas diri penting ya,
karena dari identitas diri juga nantinya
akan bertumbuh atau sebenarnya kayak
-membuat keputusan dalam kehidupan.
-Dan tadi kan Mbak Tari bilang, siapa tahu
bisa networking, siapa tahu bisa lihat ada
craft-craft di sini yang bisa dibawa ke
sekolah, karena Mbak Tari adalah guru
bahasa Indonesia. Mengapa ya kok mau
menunjukkan gitu loh budaya Indonesia
sedikit kepada murid-muridnya Mbak Tari?
Saya selalu berpikir sebagai pengajar
bahasa Indonesia itu diplomasi lewat
bahasa ya. Jadi mungkin saya tidak secara
langsung berkontribusi kepada negara saya
di Indonesia, tapi saya yakin bahwa salah
satu dari murid saya nantinya akan bisa
membantu Indonesia secara langsung maupun
tidak langsung. Bisa melalui pekerjaan
mereka pada masa depan nanti dan juga
menurut saya mengenalkan budaya-budaya
daerah Indonesia atau tradisional
Indonesia juga kan menjadi hal dan bagian
penting dari belajar bahasa. Bahasa kan
nggak juga cuma bahasa, tapi juga dari
budayanya juga, dari socio culture-nya
juga.
-usia berapa ya?
-Murid saya usia... tiga belas sampai
delapan belas, karena di high school, jadi
kebanyakan juga karena saya mengajar
kelas sebelas, dua belas, jadi ada
beberapa murid juga yang saya encourage
untuk ambil bahasa Indonesia ketika dia di
universitas, karena ada yang kayak ambil
-law dan lain-lain juga.
-Saya juga berkesempatan berbincang dengan
salah satu vendor tentang kegiatan yang ia
tampilkan di sini. Berikut perbincangan
kami. Mbak Siska, apa nih kelas yang Anda
buka di Indonesian Diaspora
-Fair hari ini?
-Hari ini saya sebenarnya hanya lebih
kepada memperkenalkan saya dengan
mengadakan demo. Demo membuat
yoyo dari kain, yang di mana bisa dibuat
untuk menjadi banyak hal, seperti bisa
dijadikan baju, bisa dijadikan aksesoris
di tas, dan banyak hal lah. Banyaklah yang
bisa kita lakukan dengan cara membuat
yoyo itu. Yoyo itu adalah kain yang kita
potong bentuk circle, lalu kita jahit
pinggirannya dan kita tarik seperti
istilahnya yoyo ya. Dalam pengertian bukan
yoyo yang buat main yoyo ya,
bulat-bulatnya sama gitu, cuma dalam
bentuk ini untuk arts ya.
Mbak Siska nih kok bisa tertarik sih
membuat patchwork? Ini bagaimana ceritanya
dan udah berapa lama Anda mengajar
kerajinan ini?
Saya mulai pada waktu saya tinggal di Cape
Town tahun 2009, di mana suami saya tugas
dan saat itu saya nggak punya temen ya.
Tinggal di sana tuh rasanya tuh maunya
pulang aja. Suatu hari saya dibelikan
mesin jahit sama suami saya dan akhirnya
dari situ saya mencoba Google cari toko
patchwork. Nah, di situ awalnya saya mulai
dan ternyata patchwork itu addicted ya.
Dari situ saya terus sampai akhirnya saya
punya teman, saya join the group....
expert di sana dan saya ikut
kelas. Salah satu pada waktu itu di tahun
2010, saya membuat satu quilt yang cukup
-besar dan saya mendapat Best in Show.
-Ini menarik nih, kan membuat kain-kain
gitu ya. Ada memakai kain tradisional khas
Indonesia nggak nih, Mbak Siska?
Ada dong, saya justru ingin memperkenalkan
kain Indonesia itu bisa dituangkan di
patchwork dan saya sedang mendesain, my
own design, menggunakan batik Indonesia,
batik kuno. Emang entah ntar saya nggak
tahu harganya dijual berapa, karena
batiknya itu sendiri udah cukup mahal,
tapi saya mau membuat itu menjadi sesuatu
yang akan menjadi lebih bagus lagi dan
desain ini sedang saya buat. Mudah-mudahan
akhir tahun ini sudah bisa saya
selesaikan dan bisa diexhibit, everyone
-bisa lihat.
-Apakah ini untuk menciptakan koneksi
-dengan budaya Indonesia juga?
-Definitely, ini yang saya mau lakukan
karena saya sangat bangga memperkenalkan
kain Indonesia ini kepada murid-murid saya
di sini dan kepada teman-teman saya yang
orang Australi, karena mainly patchwork di
sini itu orang bule dan murid-murid saya
pun kebanyakan orang bule ya, dibandingin
orang Indonesia sendiri. Tapi kalau saya
mau mendapatkan murid-murid orang
Indonesia, saya harus ke Indonesia ngajar.
Bagaimana reaksi murid-murid Anda yang
kebetulan bukan orang Indonesia begitu
melihat Anda memakai kain batik-batik
juga?
Mereka reaksinya wow! Dan mereka selalu,
"Berapa kalau mau dibeli?" Saya bilang,
"Saya nggak jual produk, tapi saya lebih
ngajar. Jadi kalau mau, yuk belajar." Itu
yang ada di saya sih selalu. Tadi juga ada
yang tanya mau dijual, "Ini dijual
berapa, Mbak?" "Nggak dijual, tapi yuk
kita belajar aja yuk." Karena saya mau
ibu-ibu ini bisa mengisi waktu membuat
hal-hal kecil seperti ini. Karena dengan
hal ini, kita tuh bisa punya banyak teman
loh, all over the world. Apalagi Facebook
udah punya grup-grup ya, grup-grup craft.
Jadi kita bisa, teman kita tuh jadi banyak
-gitu loh.
-Dari Anda sendiri, apa yang Anda harapkan
peserta dapatkan dari workshop patchwork
hari ini?
Yang saya harapkan mereka bisa bawa pulang
ke rumah dan mencoba di rumah. Membuat
ini tuh, selain itu juga salah satu terapi
ya, supaya kita juga nggak stres. Karena
kalau aku ya, kalau aku, aku tuh daripada
aku kebanyakan jalan ngopi sana ngopi
sini, aku lebih senang belajar atau doing
something yang bisa... itu jujur
menghilangkan stres loh. During Covid, aku
nggak ada stres sama sekali karena aku
berkecimpung, aku melakukan sesuatu mulai
dari bikin mask, bikin tas, bikin apa, itu
-benar-benar ngebantu.
-Nah, kembali lagi ke acara Diaspora
Network ini. Yang Mbak Siska suka nih,
selain dari tentu saja berpartisipasi, apa
-lagi nih yang menurut Anda istimewa?
-Diaspora tahun ini tuh lebih open ya,
committee-nya tuh lebih apa, wider ya,
cara mereka berkolaborasi dengan yang
-lain.
-Ya sudah, terima kasih ya Mbak Siska,
-sukses selalu.
-Terima kasih, sama-sama.
Demikianlah pendengar liputan terkait
Diaspora Fair 2026 yang dibawakan oleh
Anne Parisiane untuk SBS Indonesian.
END OF TRANSCRIPT