Pendengar, pada Sabtu 14 Februari lalu,
Fed Square Melbourne berubah menjadi Pasar
Senja, sebuah festival budaya Indonesia
yang diselenggarakan oleh Nongkrong
Festival. Dari aroma sate hingga dentuman
musik, acara ini menyatukan diaspora
Indonesia dan warga Melbourne lainnya
untuk nongkrong bersama di sore hari. Saya
berkesempatan hadir dan berbincang dengan
beberapa pengunjung tentang apa yang
membawa mereka ke festival ini. Berikut
pendapat pengunjung dimulai dari Elyse,
dan diikuti dengan Tracelyn dan
Stephanie.
...I come to this event to have some food
and see some music and have fun with my
friend. The gamelan was really good as
well.
Namaku Tracelyn. Jadi selama delapan tahun
ini aku kan
jarang pulang pergi dari Indo dan untuk
melihat acara segede ini dan melihat orang
memakai baju kebaya dan batik itu gimana
ya rasanya kayak pulang ke Indo aja.
Menurutku nongkrong itu sebuah budaya anak
Indonesia sih. And Indonesians we love to
chill, we love to spend time together.
Jelas-jelas mungkin performance-nya ya.
Untuk melihat semua orang Indonesia yang
berkarya menari, berkarya
menyanyi. It's so good to see, especially
in a stage like this. Ya, moga-moga aku
bisa nonton Alii. Hopefully, hopefully I
get to see them.
My name is Stephanie. Menurut aku sih
cocok dan actually we need more of this
kind of stuff. Soalnya di sini kayaknya
kan banyak banget orang-orang Indo dan
outside of that, Melbourne is a very
multicultural city. So I think ada
opportunity kayak gini benar-benar bagus
buat komunitas kita buat kumpul. Makanan
nih cari banget sih, kayak soalnya kan
udah tinggal di sini lama jadi kangen sama
makanan Indo juga. Jadi untungnya di sini
banyak makanan-makanan Indo, bakmi,
warkop juga katanya di sini. So I'm gonna
check that out after this. Ya penasaran
buat lihat Chandra Darusman dan Lems.
Sering denger tapi aku belum pernah lihat
mereka live, jadi kalau misalnya mereka
performing I think it's a good opportunity
-to check them out.
-Saya juga berkesempatan berbincang dengan
Diletta Legowo, salah satu penyelenggara
Nongkrong Festival untuk menggali lebih
dalam konsep Pasar Senja ini. Berikut
perbincangan kami. Pasar Senja itu
-konsepnya gimana dan maksudnya apa?
-Jadi hari ini kan tanggal 14 Februari,
yaitu Valentine's Day. Dan kalau kita
pikir-pikir di... bayang-bayang di
Indonesia kalau jam senja seperti ada
unsur romantisnya ya atau unsur hangat.
Jadi itu konsep yang kita mau bawa ke
sini, ke Melbourne. Jadi kita acaranya
akan berjalan dari jam tiga sore sampai
jam sepuluh malam. Jadi semakin gelap
suasana akan menjadi lebih romantis lah.
Di Fed Square we're gonna transform the
space. Akan ada lampu-lampu spesial yang
kita bikin dan lagu-lagu romantis juga.
Tapi yang kita mau bawa dari konsep Pasar
Senja ke Melbourne juga bukan hanya unsur
cinta yang romantis, tapi juga kasih
sayang di antara teman-teman dan
-komunitas.
-Acara ini ditujukan untuk siapa?
Kalau dari kita tim Nongkrong, yang kita
inginkan dari semua acara kami dan
tentunya Pasar Senja juga adalah membuat
acara untuk teman-teman diaspora Indonesia
yang tinggal di Melbourne, yang mungkin
memiliki pengalaman bisa relatable dengan
kita, di mana kita di sini merantau dan
memiliki connection dengan Indonesia, tapi
dengan flavour-nya kita sendiri di
Melbourne. Jadi yang bisa dilihat di semua
acara Nongkrong yaitu campuran antara
budaya Indonesia dan budaya anak-anak yang
main di sini di Melbourne gitu. Jadi
emang acara ini kita bikin untuk kita
sesama dan tahun ini kita juga ingin
sekali mengundang teman-teman diaspora
Indonesia dari generasi lain juga. Maka
itu kita mengundang tamu, bintang tamu
seperti Pak Candra, supaya om-om
tante-tante yang sesepuh kami di sini di
diaspora Indonesia Melbourne juga bisa
enjoy.
Nongkrong menghadirkan seniman dari
Jakarta tadi seperti Pak Candra ya,
bersama artis diaspora lokal seperti
Komang begitu ya. Ini kenapa nih kok
-dikombinasikan?
-Menurut kami, menyembahkan berbagai genre
dan bintang tamu musik lintas generation
dan style, itu membuat kesempatan di mana
kita bisa sharing arena ini of diverse
music dan mungkin tamu-tamu kita bisa
merasa kayak connection yang berbeda, tapi
kita sharing satu tempat gitu loh.
Menjadi sebuah arena untuk bergabung untuk
orang-orang yang mungkin outside of this
space kita nggak biasa joget bareng, tapi
jadi bisa joget bareng di satu tempat ini.
Tantangan terbesar acara festival
-Indonesia-Australia seperti ini apa ya?
-Tantangan terbesar... sebetulnya tim
Nongkrong itu kita membuat acara karena
kita enjoy ya. Jadi tentunya everything
that we're doing here memang hal-hal yang
kita sebagai satu kelompok anak-anak muda
Indonesia di Melbourne emang kita enjoy
melaksanakan, tapi acarnya besar banget.
Jadi Fed Square itu it's a very complex
venue untuk bump in. Jadi kita sudah dari
kemarin bawa barang untuk didisplay, kita
seharian masak untuk jajan yang dijual.
Jadi logistics-nya emang berat banget
untuk tim yang cukup kecil, tapi untuk
tahun ini kita bawa volunteer banyak juga.
-Di Pasar Senja ini ada apa aja?
-Ada macem-macem. Kalau dari sisi musik,
kita ada yang sekarang lagi main itu band
gamelan dan Anda, dan nanti juga akan ada
beberapa DJ yang emang suka main di
Melbourne sama di Sydney juga. Untuk
bandnya ada Matahara, ada Komang, Ali yang
sekarang lagi banyak touring keliling
dunia, dan tadi saya sebutkan Pak Candra
Darusman juga. Di luar musik juga ada
persembahan makanan, ada warkop, warung
SS, bakmi PBK, Diana's
Kitchen, tim makan, dan kita juga ada
market stall. Kita featuring tim-tim
bisnis-bisnis kreatif dari Indonesia.
Mereka jual magazine, kaos-kaos,
pernak-pernik, jadi banyak yang bisa
dibawa pulang juga dari Nongkrong. Dan
kami juga ada games, jadi bekerja sama
dengan Miss Chess. Kita di ada meja-meja
permainan, bisa main catur dan main
congklak juga. Semuanya gratis, kecuali
makanan dan market stall ya, [tertawa] itu
-untuk dijual.
-Kan tadi intinya menampilkan contemporary
Indonesia ya. Pesan nih, apa sih yang mau
disampaikan kepada masyarakat Australi
generally deh gitu, dari budaya Indonesia
kah, dari budaya contemporary kita?
Yang kita mau showcase itu bahwa budaya
dan kehidupan kultur kami dari Indonesia
itu sangat beragam. Karena [tertawa] tetap
aja di kalau ngomong sama orang Australi
kebanyakan mereka kenalnya Bali ya. Dan
senang sekali Bali itu menjadi destination
yang dicintai, disayangi orang Australi.
Tapi karena di Indonesia itu sebetulnya
banyak, lebih banyak, banyak banget
culture, makanan, dan cara-cara kehidupan
yang beragam, kita mau share itu dengan
masyarakat Australi, the diversity of
-Indonesian culture.
-Demikian tadi pendengar, liputan dari
Pasar Senja di Fed Square, Melbourne, yang
dibawakan oleh saya, Anne Parisianne
-untuk SBS Indonesian.
-[suara musik penutup]
END OF TRANSCRIPT