SKIP TO MAIN CONTENT

Dua Pekan setelah Gempa, Bagaimana Kondisi Pengungsi NTT?

One of the houses damaged by the NTT earthquake on August 15, 2026.
One of the houses damaged by the NTT earthquake on August 15, 2026. Credit: Supplied/Mustakim

Pada 15 Agustus 2026 terjadi gempa besar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menimbulkan kerusakan yang cukup signifikan di berbagai kabupaten dan menimbulkan korban jiwa. Sampai sekitar dua pekan setelah gempa itu terjadi, pengungsi masih belum bisa pulang ke rumah masing-masing karena gempa susulan terus terjadi, dan rumah-rumah mereka juga mengalami kerusakan, baik rusak sedang, berat, maupun ringan.


Published

By Nurhadi Sucahyo

Presented by SBS Indonesian

Source: SBS



Skip to podcast episode content

Pada 15 Agustus 2026 terjadi gempa besar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menimbulkan kerusakan yang cukup signifikan di berbagai kabupaten dan menimbulkan korban jiwa. Sampai sekitar dua pekan setelah gempa itu terjadi, pengungsi masih belum bisa pulang ke rumah masing-masing karena gempa susulan terus terjadi, dan rumah-rumah mereka juga mengalami kerusakan, baik rusak sedang, berat, maupun ringan.


Data resmi pemerintah Indonesia mencatat, ada 111 korban meninggal, luka-luka atau sakit lebih dari 1.670 orang, dan sekitar 179 ribu jiwa mengungsi. Gempa susulan terjadi sekitar 8 ribu kali, terutama gempa-gempa kecil.

Mustakim, adalah salah satu penyintas gempa NTT, sekaligus koordinator salah satu posko pengungsian di kawasan Riung, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Dia bercerita bahwa saat ini, warga mengungsi terpusat di sejumlah titik yang dekat dengan kantor pemerintah atau aparat keamanan. Bersama sejumlah relawan, Mustakim sedang menggelar layanan Kesehatan bagi para penyintas ketika dihubungi SBS.

Mustakim juga mengaku, gempa susulan terus mereka rasakan, terutama karena posisi Riung yang ada di tengah pusat gempa, diapit oleh kabupaten Nagekeo dan Manggarai Timur. Posisinya ada di pantai timur pulau Flores.

Kondisi pengungsian korban gempa NTT
Kondisi pengungsian korban gempa NTT. Credit: Supplied/Mustakim

Tidak jauh dari desa tempat tinggal Mustakim, terdapat dua dusun yang hancur total karena dihempas tsunami pada 15 Agustus lalu. Gelombang tsunami menerjang kawasan itu dua kali setinggi dada orang dewasa, dan menghancurkan seluruh rumah di desa nelayan kecil itu. "Dusun Bajo sama dusun Selayar. Itu bukan hanya rumah yang hancur, lebih tepatnya satu kampung yang hancur, penuh air, naik setinggi dada orang dewasa," kata Mustakim.

Mustakim sendiri ikut menjadi korban karena memiliki tempat usaha di salah tepi pantai. Dia menceritakan, setelah gempa terjadi, air laut surut, kemudian naik dan menghempas ke daratan dua kali. Pemerintah telah mengirimkan bantuan tenda, sehingga para penyintas dapat beristirahat bersama keluarga masing-masing. Dia juga mengatakan, sinyal telepon genggam hilang hingga beberapa jam setelah gempa. Karena itu, warga kesulitan untuk mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Hari-hari pertama bencana juga tidak tersedia bantuan, sehingga penyintas harus berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Melihat kondisi yang begitu buruk, Mustakim berinisiatif menghubungi kawan-kawan dan kenalannya, dan mengabarkan apa yang terjadi. Bantuan kemudian mulai datang dan posko pengungsian dan distribusi bantuan itu beroperasi hingga hari ini.

Kegiatan layanan bagi pengungsi yang dilakukan Mustakim dan relawan posko di sekitar daerah Riung, kabupaten Ngada, NTT.
Kegiatan layanan bagi pengungsi yang dilakukan Mustakim dan relawan posko di sekitar daerah Riung, kabupaten Ngada, NTT. Credit: Supplied/Mustakim

Hingga dua hari setelah gempa, atau pada 17 Agustus, warga belum berani untuk turun dari bukit-bukit karena khawatir bencana susulan. Bantuan mulai tiba di hari ketiga bencana, dan terus datang sampai sekarang terutama untuk logistik. Fokus posko yang dikelola Mustakim antara lain adalah pada kelompok rentan, terutama setelah ada bayi yang meninggal di daerahnya, dan juga korban meninggal dari kalagan lanjut usia di pengungsian. "Dia ada sakit bawaan. Hanya ketika sakit bawaan itu terus harus masuk ke posko pengungsian, secara psikologis, dia mulai tertekan. Maksudnya, sudah tertekan dari sisi kesehatan, tertekan lagi dari sisi psikologi, akhirnya meninggal," paparnya.

Mustakim menyebut, para penyintas kini ada di fase kedua bencana. Fase pertama adalah trauma atas gempa itu sendiri, sedang fase kedua adalah tahap untuk mampu bertahan hidup. "Fase ini, fase-fase rawan mereka. Orang-orang sudah mulai jatuh sakit, anak-anak, lansia. Orang-orang yang sehat yang di pengungsian, sudah mulai sakit," tambahnya.

Selain menjaga kesehatan diri, para penyintas juga diserang kekhawatiran karena mulai terjadi pencurian di rumah-rumah rusak yang mereka tinggalkan.

Kegiatan layanan bagi pengungsi yang dilakukan Mustakim dan relawan posko di sekitar daerah Riung, kabupaten Ngada, NTT.
Kegiatan layanan bagi pengungsi yang dilakukan Mustakim dan relawan posko di sekitar daerah Riung, kabupaten Ngada, NTT. Credit: Supplied/Mustakim

Tantangan saat ini bagi posko pengungsian adalah menciptakan kenyamanan. Setelah kebutuhan logistik bisa dipenuhi, pengungsi harus disediakan tempat istirahat yang nyaman agar mampu menjaga kesehatan. Karena itu bantuan yang diharapkan antara lain adalah tenda, tikar atau alas tidur, hingga terpal atau lembaran plastik. Sementara secara khusus untuk kelompok rentan, kebutuhannya adalah obat-obatan, popok untuk bayi dan susu untuk menjaga kesehatan.

Setelah ini, tantangannya adalah memikirkan solusi jangka Panjang, terutama untuk menyediakan tempat tinggal bagi warga. Menurut perhitungan Mustakim, setidaknya penngungsi harus bertahan di tenda hingga akhir tahun ini. Harus segera dipikirkan tentang skema membangun kembali rumah mereka, untuk melanjutkan kehidupan seperti sedia kala.

Dengarkan podcast ini selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now