Keberadaan Pesut Mahakam kini menjadi daya tarik wisata alam yang cukup populer di Kalimantan Timur maupun di Indonesia secara umum.
Di kawasan sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur dan sekitarnya ada aktivitas wisata yang cukup menarik, yaitu menyaksikan Pesut Mahakam di alam liar.
Pesut Mahakam adalah lumba-lumba air tawar yang hanya hidup di Sungai Mahakam. Selain di kawasan ini, pesut sejenis hanya diketahui hidup di Sungai Irrawadi di Myanmar.
Keberadaan Pesut Mahakam ini cukup istimewa dan kini menjadi daya tarik wisata alam yang cukup populer di Kalimantan Timur maupun di Indonesia secara umum.
Innal Rahman adalah Ketua Komunitas Mahakam Explore dan Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia, DPC Kutai Kartanegara.
Dia menyebut bahwa Pesut ini kebanyakan memang hanya ada di Mahakam yang sepenuhnya berarti tawar. Ada beberapa jenis Pesut lain tetapi hidup di air payau, atau campuran antara air laut dan air tawar, dan biasanya ada di muara sungai.
Nama Latinnya adalah Orcaella brevirostris atau Orca berhidung pendek.
Di Mahakam, Pesut ini terlihat di titik tertentu yang jauh dari laut. Jika air sungai sedang pasang atau terjadi banjir, kadang mereka terlihat hingga mendekati kota Samarinda. Tetap ketika air surut, Pesut Mahakam lebih banyak ada di daerah hulu sungai. Selain itu, mereka juga berkumpul di area yang memiliki banyak ikan, mengikuti insting berburunya.
“Untuk saat ini, ya masih didominasi di daerah Kabupaten Kutai Kartanegara sama Kutai Barat yang masih ada,” kata Rahman.
Sejak beberapa tahun yang lalu, Komunitas Mahakam Explore sering mengadakan kegiatan bersama untuk melihat langsung aktivitas Pesut Mahakam. Lambat laut, kegiatan yang awalnya lebih didasari kepedulian itu, berkembang menjadi daya tarik wisata. Saat ini ada banyak pelaku wisata yang menyediakan paket wisata menyaksikan ikan tersebut di habitat aslinya.
Rombongan yang dulu hanya terdiri dua perahu kecil, saat ini sekali jalan bisa terdiri dari lima perahu kecil.
Karena sifatnya yang sangat tergantung situasi air, lokasi wisata Pesut Mahakam juga berpindah mengikuti kelompok satwa ini. Di saat air sungai pasang, Pesut Mahakam bisa dilihat di titik-titik dekat dengan pemukiman, sementara ketika surut mereka lebih sering ada di bagian atas atau pedalaman.
Sebagai daya tarik wisata, Pesut Mahakam tidak berdiri sendiri. Kini, paket wisata yang disediakan juga terkait dengan menikmati lansekap kawasan itu secara umum. Wisata Pesut Mahakam juga membutuhkan kesabaran, karena satwa ini bisa terlihat di pagi hari, siang dan kadang sore hari. Bahkan, mereka juga sering berada di ruas sungai yang berbeda dengan dimana mereka berada sebelumnya.
“Walaupun kemarin kita ketemu, kita tida bisa janjikan hari ini ketemu. Karena bisa saja mereka bergerak terus mengelilingi sungai-sungai yang lain,” tambah Rahman.
Ada unsur keberentungan dalam kegiatan wisata ini, tetapi Rahman menyebut kemungkinan melihat Pesut Mahakam di habitat aslinya, sekitar 80 persen.
Tantangannya saat ini adalah mengelola ekowisata Pesut Mahakam dengan tepat. Dulu, perjalanan wisata hanya terdiri dari dua perahu kecil. Saat ini, bisa sampai lima perahu dalam setiap rombongan. Hal ini sebenarnya perlu dikaji.
Komunitas wisata di Mahakam juga sebenarnya telah disadarkan tentang pentingnya pelestarian satwa. Dahulu, ada aturan yang ketat mengenai jarak yang harus diambil ketika melihat satwa tersebut. Jika bertemu ikan yang masih kecil, jarak pandangnyna bahkan harus semakin jauh.
Pesut Mahakam sendiri saat ini hanya ada sekitar 66 ekor, atau setidaknya kurang dari 70 ekor. Karena itu, di tingkat dunia satwa ini termasuk dalam kelompok sangat terancam punah atau critically endangered.





