Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menghadapi ancaman serius, termasuk ancaman pembunuhan, setelah menyuarakan kritik tajam terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kritik tersebut berfokus pada tiga aspek utama: pengalihan dana pendidikan nasional sebesar Rp223 triliun yang dinilai melanggar konstitusi, tata kelola yang tidak akuntabel serta rawan menjadi alat politik partai penguasa, dan ketidaktepatan sasaran penerima manfaat karena mencakup anak-anak dari keluarga kaya.
Tiyo menekankan bahwa anggaran MBG yang sangat besar sebenarnya lebih dari cukup untuk menggratiskan biaya kuliah seluruh mahasiswa di Indonesia, yang hanya membutuhkan sekitar Rp183 triliun.
Meskipun mengakui adanya masalah stunting, ia berpendapat bahwa MBG bukanlah solusi yang tepat karena berisiko membebani keuangan negara.
Oleh karena itu, ia mendesak adanya reformasi menyeluruh agar program ini tidak menggerus dana pendidikan, memiliki transparansi yang bisa diawasi publik, serta hanya menyasar masyarakat miskin yang benar-benar membutuhkan.
Walaupun mendapat tekanan dari pihak tak dikenal, Tiyo tetap mendapatkan dukungan dari pihak kampus atas dasar kebebasan berpendapat.
————————
Nurhadi Sucahyo






