Sebagai masyarakat yang dikenal dunia karena kemampuan fisik luar biasa dalam menyelam, warga Bajau menyambut bulan suci ini dengan berbagai penyesuaian.
Di kampung Sampela, hanya sekitar 70 persen warga yang menjalankan ibadah puasa karena tantangan fisik yang berat saat harus mencari nafkah di kedalaman laut pada siang hari.
Ramadan di tengah suku Bajau Sampela, Wakatobi, merupakan momen penuh penyesuaian yang kini dibayangi kerinduan akan tradisi masa lalu.
Sebagai pengembara laut yang tangguh, warga Bajau menghadapi tantangan fisik yang besar karena hanya sekitar 70 persen penduduk yang mampu berpuasa sementara sisanya harus tetap menyelam mencari ikan demi kelangsungan hidup.
Mereka yang berpuasa pun terpaksa mengubah ritme hidup secara drastis, seperti beralih mencari ikan pada malam hari menggunakan jaring guna menjaga energi di bawah terik matahari.

Modernitas yang membawa listrik, gas, dan teknologi komunikasi telah menggeser kehangatan komunal yang dulu menjadi ciri khas berbuka puasa. Jika dahulu warga berkumpul mengelilingi tungku dan lampu petromaks untuk berbagi ikan bakar dengan penuh kekeluargaan, kini interaksi tersebut mulai memudar seiring kemudahan membeli masakan dari luar.
Nurhadi Sucahyo, SBS Indoneisan, berbincang dengan Risno, seorang pemuda setempat, mengenang betapa khusyuknya ibadah di masjid kayu serta tradisi anak-anak setelah salat Subuh yang bergotong-royong memperbaiki titian kayu kampung sebagai ladang pahala—sebuah kepedulian sosial yang kini mulai terkikis oleh sikap individualis dan ketergantungan pada pembangunan desa.
Perubahan suasana ini bahkan membuat para perantau mulai enggan pulang saat Idulfitri karena tidak lagi menemukan jiwa kampung halaman yang mereka rindukan.

Meski infrastruktur jalan telah berubah menjadi beton, bagi warga seperti Risno, esensi Ramadan yang sejati tetap tertinggal pada kenangan tentang jalanan kayu, cahaya lampu minyak yang syahdu, dan ketulusan berbagi di atas laut yang kini perlahan tergerus zaman.




