SBS Indonesian berbincang dengan Dr. Aser Rouw, SP, M. Si, selaku Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua. Beliau mengungkapkan adanya penyusutan signifikan pada populasi sagu alam.
Berdasarkan data analisis indikatif, potensi sagu di Papua yang pada periode 1990-an mencapai sekitar 5,2 juta batang pohon kini menurun drastis menjadi hanya sekitar 1,2 juta batang.
Fenomena ini juga terlihat jelas di Jayapura, di mana dalam kurun waktu dua tahun sejak 2018, jumlah pohon sagu berkurang dari lima ribu menjadi empat ribu batang lebih.
Meskipun konsumsi beras di kalangan masyarakat Papua meningkat sebagai bentuk diversifikasi pangan, hal ini menurut Aser tidak serta-merta menandakan pergeseran konsumsi secara total.
Pemerintah pun telah melakukan berbagai langkah strategis melalui program konservasi, penataan, hingga hilirisasi pengolahan. Lembaga yang dipimpin Aser telah mendaftarkan 11 aksesi plasma nutfah sagu Papua untuk proteksi dan mengusulkan dua di antaranya menjadi varietas nasional.

Satu keunikan sagu adalah sifatnya yang merumpun mirip pohon pisang, sehingga proses regenerasi terjadi secara alami ketika satu pohon ditebang.
Ke depannya, pelestarian sagu menjadi sangat krusial karena beberapa alasan utama. Pertama, di tengah tantangan perubahan iklim, sagu harus dipandang sebagai sumber pangan utama karena kemampuannya beradaptasi di lahan marginal dan ketahanannya terhadap kemarau.
Kedua, sagu memiliki potensi besar sebagai sumber energi.
Ketiga, ekosistem sagu menyimpan nilai ekologis yang kaya bagi orang Papua, karena di dalamnya terdapat berbagai hasil hutan, mulai dari hewan buruan hingga ikan rawa yang menjadi penopang kehidupan mereka.




