The Indonesian government has launched and rolled out the Global Citizenship of Indonesia (GCI) visa intended for descendants or former WNI (XWNI).
The Indonesian government has launched and rolled out the granting of Global Citizenship of Indonesia visas intended for descendants or former WNI (XWNI).
The visa is aimed at staying longer and enjoying time in Indonesia, including the possibility of retirement in the future.
One of the recipients was Mr. Adam Tedja, who shared his experience in a brief interview.
Mr. Adam's main motivation was the ease of entry into Indonesia without having to continue using a visa on arrival, not to work or open a business.

Mr. Adam applied for this visa because he had long wanted to have a more permanent residence permit to make it easier to go back and forth to Indonesia, given that he often visits and still has family and many friends there.
Information about this visa he obtained from the socialization of KJRI, the Indonesian Diaspora Network, as well as his colleagues.
The registration process is done online through Indonesia's official immigration website with fairly complete document requirements, such as old passport, birth certificate, name change document, family card, and financial proof.
The cost of an E32E visa is approximately IDR 34 million. Although it was delayed due to the Christmas and New Year holidays, the process was classified as fast: after an interview via Zoom on Friday and the visa was approved on Monday morning.
He rated the socialization and support from KJRI and the Directorate General of Immigration very good and suggested this visa for XWNI who want to make it easier to return to Indonesia without the need for work.
The information provided is for general informational purposes only. Testimonials reflect individual experiences and results may vary.
For detailed information, please contact the relevant authorities.
Speaker 1
Pendengar, beberapa waktu yang lalu, pemerintah Indonesia telah
mengeluarkan sebuah visa baru yang ditujukan kepada keturunan
atau XWNI.
Visa tersebut adalah Global Citizenship Visa.
Dan beberapa waktu yang lalu, kami mendapat informasi
bahwa salah satu dari teman kerabat kami telah
berhasil mendapatkan visa tersebut.
Berikut ini, binjang-binjang singkat kami dengan penerima
visa tersebut, Bapak Adam Tedja.
Selamat pagi, Pak Adam.
Terima kasih atas waktunya.
Speaker 2
Selamat pagi, Pak Ricky.
Speaker 1
Pak Adam, saya mendapat informasi bahwa Pak Adam
telah berhasil mendapatkan Global Citizenship Visa itu.
Apa yang menyebabkan Anda untuk mohon visa tersebut?
Speaker 2
Sebenarnya, sudah ada keinginan cukup lama untuk mempunyai
visa kurang lebih permanen untuk balik-balik ke
Indonesia, karena saya cukup sering balik ke Indonesia.
Jadi, saya memang sering hadir di konjen mendengarkan
pilihan-pilihan visa yang kita bisa ambil sebagai
warga negara asing atau warga negara Australia.
Jadi, pernah dengar seperti visa grey hair visa,
golden visa, visa berbeda, tapi kayaknya nggak pernah
cocok.
Terus, sebelum Krismas, ada acara di Kajeri mengenai
sosialisasi mengenai Golden Citizenship Indonesia Visa.
Saya mau sekali datang hari Jumat, tapi nggak
bisa.
Saya ingat teman saya dari Indonesia Diaspora Network
bilang, Bro, ini ikut.
Aku pikir, ini bagus banget kelihatannya.
Tapi aku nggak bisa.
Jadi, aku dengar rekamannya saja dan lihat data
-data yang di-sharing di WhatsApp Group IDN
South Wales.
Saya dengar dari Pak Salud, saya dengar dari
teman-teman, dan dengar juga hari itu dari
brother saya, Bro Taufik.
Bro Taufik itu sponsor acara itu waktu itu.
Pak Konjen, Pak Pendekar Muda ada di sana.
Jadi, saya melihat itu hari Jumat, saya udah
semangat sekali.
Jadi, hari Sabtu saya langsung daftar, langsung saya
register.
Speaker 1
Jadi, Anda adalah ex-WNI begitu, Pak?
Speaker 2
Betul, Pak.
Speaker 1
Jadi, dokumen apa saja yang diperlukan, Pak?
Speaker 2
Dokumen cukup banyak.
Jadi, dokumen seperti pasport lama.
Buat saya sih, dari akte kelahiran, ganti nama,
surat keluarga, terus opsi pasport, terus ada juga
bank statement untuk menunjukkan bahwa saya punya sejumlah
uang, terus juga buat saya karena saya pernah
ganti nama di sini, di Indonesia pernah ganti
nama, ID, semua ID ada.
Jadi, itu lumayan juga.
Semua penerangannya sangat jelas sekali di waktu saya
pergi ke website itu ada semua.
Jadi, cukup mudah.
Speaker 1
Jadi, berapa lama proses pemohonan ini, Pak, sebelum
mendapatkan visa tersebut?
Speaker 2
Mungkin permohonan itu saya masukin, kalau nggak salah,
saya masukin tanggal 21 Desember.
Kira-kira tanggal segitu.
Tapi karena Krismas, jadi mungkin tidak ada respon
sampai mungkin sekitar hari Rabu yang lalu.
Hari Rabu yang lalu diminta bahwa saya akan
minta dihadir untuk di-Zoom hari Jumat yang
lalu.
Speaker 1
Jadi, di-interview begitu melalui Zoom?
Speaker 2
Iya, ada interview, Pak.
Jadi, setelah saya register, masukkan data-data saya
di website-nya Indonesia punya visa itu, kemudian
saya submit semua dokumen-dokumen yang mereka perlukan.
Juga ada biaya yang harus saya bayar untuk
visa ini.
Ini visanya namanya E32E, biayanya itu 34 juta.
Setelah saya kirim, saya dapat resit dari mereka,
dan kemudian setiap hari saya cek.
Statusnya masih seperti lagi pending.
Mungkin karena Krismas New Year.
Tapi begitu hari Rabu itu saya dapat curhat,
cepat sekali.
Saat saya di-interview jam 2, tadi pagi,
jam 5 pagi, saya dapat surat sudah dapat
visanya, Pak.
Luar biasa.
Luar biasa cepatnya, Pak.
Speaker 1
Wah, luar biasa cepatnya.
Kalau dibandingkan dengan visa yang pernah Bapak terima,
seperti ITAS itu bagaimana?
Speaker 2
Saya nggak pernah punya ITAS, nggak punya
ITAP.
Itu nggak pernah punya, Pak.
Saya cuma setiap kali saya datang itu pakai
visa on arrival saja.
Speaker 1
Sebenarnya, apa yang menjadi motivasi utama Anda untuk
mengajukan global citizen visa ini?
Apakah hanya untuk tinggal lebih lama di Indonesia
atau bagaimana?
Speaker 2
Ya, Pak.
Maksudnya supaya lebih mudah.
Karena memang saya sering sekali keluar ke Indonesia.
Keluarga masih ada di sana, banyak teman di
sana.
Jadi itu motivasi saya, Pak.
Speaker 1
Oke.
Speaker 2
Ya, mungkin seumur saya lebih banyak keinginan untuk
tinggal di sana juga, Pak.
Speaker 1
Untuk bekerja atau untuk pensiun di sana, Pak?
Speaker 2
Oh, nggak, Pak.
Ini visa bukan buat bekerja.
Kita nggak boleh kerja.
Speaker 1
Oh, nggak boleh kerja.
Oke.
Speaker 2
Ya, kurang lebih untuk enjoy lah.
Enjoy masa kecil.
Saya sudah 42 tahun di sini, Pak.
Speaker 1
Jadi sudah ada planning ini untuk rencana Anda
untuk tinggal di Indonesia?
Speaker 2
Ya, sekarang planningnya baru.
Nggak mimpi aja, Pak.
Planning belum.
Sekarang mungkin bisa diaktifkan, planning saya.
Speaker 1
Dari pengalaman Anda ini, apakah ada informasi yang
bisa Anda sampaikan kepada para pendengar yang ingin
mengajukan permohonan visa ini, Pak?
Speaker 2
Ya, kalau mungkin ini yang menurut saya kalau
kita memang tidak ada keinginan untuk buka bisnis,
hanya untuk keinginan untuk pulang lebih mudah, mungkin
ini sangat baik sekali ya.
Karena setelah ini kelihatannya ya sudah no more
VOA ya.
Nggak ada visa on arrival.
Dan buat saya tahun ini saya rencana untuk
balik empat kali.
Saya sudah ada tiket empat kali pulang nih.
Speaker 1
Langsung dimanfaatkan, Pak, ya?
Speaker 2
Iya, langsung, Pak.
Tapi bantuan dari KJRI sangat baik ya.
Karena mereka sudah sosialisasinya sangat baik.
Dan juga bantuan dari Departemen Imigrasi Indonesia luar
biasa.
Interview, memang agak lama interviewnya.
Mereka sangat detail.
Tapi sangat baik, Pak.
Speaker 1
Oke, Pak Adam Tedja, terima kasih atas informasi
dan waktu yang diberikan.
Dan selamat menikmati liburan Anda di Indonesia.
Speaker 2
Terima kasih, Pak Ricky.
See you all the best.




