Cultural Amnesia, pameran perdana Tisna Sanjaya di Sydney menyajikan narasi kritis atas kondisi politik dan lingkungan melalui beragam medium seperti lukisan, etsa, dan instalasi.
Wawancara ini memperkenalkan sosok kang Tisna Sanjaya, seniman sekaligus akademisi ITB, yang melalui pameran bertajuk Amnesia Kultural di Sydney menyuarakan kritik tajam terhadap kondisi sosiopolitik Indonesia.
Judul pameran tersebut menjadi refleksi atas kecenderungan masyarakat dalam melupakan rekam jejak kelam korupsi sistemik dan genosida era Orde Baru yang kini seolah tersamarkan oleh kembalinya tokoh-tokoh masa lalu ke puncak kekuasaan.

Melalui eksplorasi karya dramatis bernuansa gelap, kang Tisna berupaya menggugah ingatan kolektif bangsa agar tidak mudah dimanipulasi oleh taktik politik yang sering kali mengaburkan sejarah demi kepentingan rezim yang sedang berkuasa.
Selain muatan politik yang kuat, pameran ini juga mengungkap filosofi mendalam di balik penggunaan material aspal dan abu sisa pembakaran dalam karya-karyanya.

Penggunaan medium unik ini berakar dari pengalaman personal yang menyakitkan ketika instalasi seninya di Bandung dihancurkan secara paksa oleh aparat satu dekade silam demi proyek pembangunan hotel.
Bagi kang Tisna, debu sisa pembakaran tersebut telah bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap perusakan lingkungan dan ketidakadilan kultural.

Untuk pameran di Sydney, kang Tisna membuat karya baru berjudul Seni Sebagai Doa untuk Perubahan (Art as a Prayer for Change).
Dengan mengusung konsep seni sebagai doa, kang Tisna menegaskan bahwa karya kreatif adalah media spiritual yang mampu mendorong perubahan global, menyuarakan pembelaan atas hak asasi manusia, serta menentang segala bentuk kediktatoran di seluruh penjuru dunia.





