Speaker 1
Pendengar bersama kami di jalur saat ini adalah Kang Tisna Sanjaya,
yaitu seorang artis dan juga guru seni yang sudah terkenal dari Bandung.
Selamat pagi, Kang Tisna.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan kami.
Nah, sebelum kami memulai, silakan memperkenalkan diri Anda terlebih dahulu
kepada para pendengar SBS Radio Program Bahasa Indonesia.
Speaker 2
Baik, terima kasih.
Sampurasun, saya Tisna Sanjaya.
Terima kasih Pak Ricky sudah diundang.
Saya merasa tersanjung diwawancara oleh SBS Sydney, Australia.
Saya Tisna Sanjaya, panggilannya Kang Tisna.
Saya mengajar di seni rupa ITB,
mengajar seni grafis dan eksperimen kreatif.
Saya tinggal di kota Bandung sejak kecil.
Saya punya imah budaya Cigo Newa, di desa Cigo Newa.
Saya punya anak empat, saya sudah punya cucu.
Cucu saya sekarang berada di Melbourne.
Ikut orang duanya, anak Ziko dan teh Ayas.
Saya S1, belajar di seni rupa ITB, seni grafis.
Terus mendapat beasiswa ke Hochschule für Bildung und Kunst Braunschweig.
Dapat beasiswa dari BAAD, Deutsche Akademische Austausbildung
dari Jerman untuk program Meisterschule.
Lalu saya belajar lagi di Institut Seni Indonesia Jogjakarta
untuk program dokter penciptaan karya seni.
Dan alhamdulillah sekarang saya di sini,
Dan baru pameran kemarin di Cross Art.
King Cross Art Project di Sydney.
Speaker 1
Nah timbul sebuah pertanyaan Kang Tisna.
Judul dari proyek anda itu atau pameran anda itu adalah
Nah apakah ada makna tertentu dibalik judul tersebut?
Speaker 2
Ya, Amnesia Kultural.
Itu tuh sebetulnya dari karya saya,
dari penciptaan karya saya pada tahun pasca reformasi ya.
Tapi sebelumnya juga saya membuat karya-karya
yang mengkritisi praktek budaya politik di Indonesia
Nah pada waktu itu saya membuat banyak karya-karya
senigrafis dan performa art.
Terus ada gerakan perubahan
untuk perubahan menjadi reformasi.
sebelum reformasi maupun sesudah reformasi
ada kaitannya dengan karya-karya yang
namanya dengan tema Amnesia Kultural
yaitu mengkritisi, merespon situasi politik di Indonesia
zaman Orde Baris yang ketika masuk
reformasi itu sebetulnya tokoh-tokohnya
menusuk ke sana ke gerakan reformasi
dan terus berlangsung terus
sehingga itu tuh apa yang
terjadi pensucian-pensucian oleh
berbagai aktivitas politik
yang ujungnya kritik saya pada
pameran yang sekarang itu ketika zaman
Presiden Prabowo dan waktunya
ibran Rakyat Indonesia Rata
lupa pada sejarah proses bahwa
yang sekarang memimpin itu adalah
bagian yang kemarin waktu zaman
sebelum reformasi itu dikritisi dan
dijatuhkan tapi terus masuk
dengan kecerdikannya dan sekarang
oleh rakyat Indonesia menjadi
pemimpin Indonesia yaitu Prabowo dan
Speaker 1
adi menurut Anda kreasi ini dapat
sepertinya menggugah kembali ingatan
bangsa Indonesia yang terlupakan begitu bang
Speaker 2
betul sekali jadi saya tuh membuat
seni sebagai artistik tentu saja bukan
hanya sebagai gimmick ya bukan untuk
provokasi tapi secara artistik
secara etik kita itu cepat
ini ini dari para politisi
dari koalisi para politisi yang
di parlemen yang berbagai
baik pendidikan politik keagamaan
gerakan apa ya Neo Orba itu
masuk ke relung-relung yang ada
di sepertinya zaman reformasi dan
mantan Presiden Pak Suharto
almarhum menjadi pahlawan nasional
Presiden padahal pada waktu
zaman sebelum reformasi itu
berada dalam sensitivitas masalah hak
agar Indonesia begitu jadi saya tuh
Speaker 1
nah waktu Anda berada
pameran Anda di Sydney itu Anda membuat
sebuah karya baru yang berjudul seni
sebagai doa untuk perubahan
apa sebenarnya pesan utama yang ingin Anda
sampaikan kepada publik di Australia
Speaker 2
ya saya dalam karya-karya saya itu
selalu beririsan landasannya adalah
diri sendiri juga untuk lingkungan
situasi global yang sekarang itu
tidak hanya di negeri sendiri
tapi sekarang di dunia juga terjadi perang
apa namanya diktator-diktator baru
terlaku kekerasan, penindasan
perang, merusak lingkungan
upaya-upaya artistik sebagai senuman
saya sampaikan melalui karya-karya yang bisa dilihat
tapi itu jembatan untuk menyampaikan secara artistik
tapi yang melandasannya adalah
nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh
leluhur saya, oleh Tarhun-Tarhun
oleh orang tua saya dan lingkungan terdekat
di mana saya hidup sehari-hari
Speaker 1
dalam karya terbaru Anda ini
Anda menggunakan material yang memakai abu
dan aspal, apakah itu juga melambangkan
suatu kehancuran atau bagaimana?
Speaker 2
itu juga latar belakangnya dari sisi personal
karya-karya saya itu terangkat tidak hanya
dengan persoalan publik di luar
lahir dari ketika karya saya di Kota Bandung
dibakar oleh Satuan Polisi Pamungkeraja pada waktu itu
10 tahun yang lalu dibakar
karena karya yang itu dianggap mengganggu
padahal karya itu adalah karya untuk advokasi
karya seni instalasi performa art
yang saya tempatkan di hutan Kota Barbakan Ciliwangi
oleh Kota Bandung, Kota Cekungan
yang memerlukan pohon-pohon
itu tidak juga dijadikan hotel, komoditasi
karena Bandung itu memerlukan filter
dan hutan Barbakan Ciliwangi itu
dan saya sadar betul pentingnya
apalagi untuk hidup seperti itu
dan ketika itu dijadikan penghalang
maka subuh-subuh dibakar oleh paman kerajaan
pengadilan saya memakai peristiwa budaya juga
kehancuran dari pembakaran itu
untuk menyampaikan secara kultural
dan lingkungan hidup di Kota Bandung
dan terus saja dari situ saya jadikan medium
untuk menyampaikan peristiwa ekstetik
etik dan pedagogik serta doa
tidak hanya untuk mantan besar
Speaker 1
Anda adalah seorang seniman yang juga
bagaimana Anda menyeimbangkan sisi visual
agar karya-karya itu tetap bisa diterima oleh masyarakat
Speaker 2
memang tidak mudah menurut pengalaman saya
selain belajar dari pengalaman sehari-hari
saya hidup dengan masyarakat, saya juga mengajar di kampus
secara formal di dalam, di luar negeri
sehingga saya bisa dari belajar itu
memahami geopolitik, kebudayaan, dsb
tapi juga ekspresi personal spontan itu
saya lebarkan menjadi peristiwa kultural
pada saat seperti itu tidak mudah
kita harus punya empati, patungi budaya
belajar dari persoalan-persoalan yang ada di masyarakat
karena kalau karya personal saja itu
tapi kalau kita sudah masuk ke persoalan
yang ada di masyarakat, persoalan politik
dan menjadi percakapan-percakapan
seni yang tidak bisa dikejalkan begitu saja
diskusi-diskusi dan sebagainya
dan itu tidak mudah untuk masuk ke budaya itu
Speaker 1
apakah ini merupakan pameran Anda yang pertama kali di Sydney?
Speaker 2
kalau di Sydney ya pertama kali
kalau di Australia sudah beberapa kali
saya pernah diundang ke Asia Tofa di Melbourne
saya juga pernah di Gallery Nasional
saya juga pernah di Asia Pasifik
yang terakhir di Sydney ini
Speaker 1
dan bagaimana tanggapan dari audiens terhadap karya-karya Anda ini?
Speaker 2
kalau menurut saya
benar-benar mengerjakan dari hati
berbeda, meskipun apa yang
sangat lokal, ada nilai-nilai kesundaan
ada selawat di dalamnya yang sangat personal
tapi ketika saya bawa ke Sydney
ke Dark Mopo, ke kota-kota lain
di Australia, saya kira karena
orang-orang yang ada di Australia itu
hatinya sama untuk saling
berbagi tentang kebenaran
untuk berdiskusi tentang kebaikan
menyampaikan anti terhadap genosida
terhadap resistensi, terhadap diktatorsi
saya kira itu bisa nyambung
mereka bisa sangat senang sekali
bagaimana para pengunjung orang-orang yang dulu
udah puluhan tahun nggak ketemu, tiba-tiba
serasa ragam etnik, ragam bahasa, ragam agama
ngumpul di situ, ragam latar belakang
dan bahkan nanti akan diindah lagi
untuk presidensi di Australia
saya kira ini bukan karena personal
tapi saya berada dalam lingkungan yang memang
sehari-harian saya juga sering
saya sampaikan itu dengan teman-teman
para penusunan di kampung, dengan komunitas
masyarakat di Sydney, dengan subur
dengan warga, atau di desa
atau di kampus, mungkin hubungan-hubungan itu
yang ketika masuk ke wilayah
di Australia, atau di Jerman, atau di mana-mana
ketika saya ke dalam ruang-ruang pertemuan
kita terhubung dengan baik, insya Allah
Speaker 1
baik, Kang Tisna, terima kasih
atas waktu dan informasi yang diberikan
dan semoga di masa depan nanti sukses selalu
Speaker 2
terima kasih, terima kasih
END OF TRANSCRIPT