Kemiskinan dikatakan sebagai penyebab seorang siswa SD mengakhiri hidupnya.
Tragedi di kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur ini akibat tidak mampunya keluarga memenuhi kebutuhan alat tulis sekolah.
Ini merupakan alarm keras atas kondisi kemiskinan ekstrem yang melanda Nusa Tenggara Timur.
Meski angka kemiskinan resmi tercatat di atas 19 persen, realitas di lapangan diduga jauh lebih parah karena standar penentuan garis kemiskinan yang terlalu rendah, di mana masyarakat kecil umumnya hidup dengan penghasilan harian yang hanya cukup untuk kebutuhan makan saat itu juga.
Kondisi ini diperparah oleh kegagalan pemerintah daerah dalam mengelola anggaran secara efektif dan transparan, yang dibuktikan dengan banyaknya program yang tidak menyentuh kepentingan rakyat serta tingginya angka korupsi di wilayah tersebut.
Marsel Nagus Ahang dari LPPDM menegaskan perlunya audit menyeluruh terhadap dana sosial pimpinan daerah serta pelibatan KPK untuk mengawasi aliran dana bantuan.
Secara moral, pemerintah dianggap gagal melindungi warga negaranya yang paling rentan, sehingga tuntutan akan transparansi dana bantuan sekolah dan perlunya kolaborasi dengan lembaga non-pemerintah seperti gereja dan LSM menjadi sangat mendesak demi mencegah tragedi serupa terulang kembali.
=============
Nurhadi Sucahyo




