Pilih paspor hijau atau biru? Pilih
kewarganegaraan Indonesia atau
beralih ke Australia? Itu biasanya
pertanyaan yang ada di benak diaspora
Indonesia yang tinggal di Australia. Pada
bulan November lalu, pendengar, ada
pemberitaan terkait dengan Global
Citizenship of Indonesia yang memungkinkan
diaspora untuk tinggal di Indonesia tanpa
batas waktu. SBS Indonesian
juga berbincang dengan perwakilan dari
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan
yang menyebutkan bahwa pada saat ini GCI
atau Global Citizenship of Indonesia masih
dalam tahap proses dan akan ada
perkembangannya di bulan Januari. Tapi
terlepas dari GCI pendengar, diaspora
Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal
di luar negeri, memiliki alasan
tersendiri dalam memilih status
Saya berbincang dengan beberapa di
antaranya. Ada Didiet Radityawan yang
pindah ke Australia sejak tahun 2010.
Tujuh tahun tinggal di Australia, ia
kemudian menjadi warga negara Australia.
Ada juga Ibu Suryani Hardjowijono, yang
meski telah tinggal di Australia lebih
dari empat dekade, masih juga memegang
paspor Indonesia. Bagaimana cerita mereka?
Berikut ini selengkapnya.
Saya sudah ninggalin Indonesia tuh dari
2004. Jadi, semenjak 2004 itu saya udah
mulai keliling. Saya sempat di Dubai, saya
sempat di Bermuda, terus balik ke Middle
Dari Abu Dhabi terus ditawarin untuk
kerja, dapat kerjaan di Australia yang
langsung bisa dapat PR. Ya udah, jadi eh
mungkin saya contoh yang agak berbeda
dibanding kebanyakan warga Indonesia di
sini. Yang datang ke Australia untuk
sekolah dulu, terus merasa pengen tinggal.
Kalau saya sih, saya udah datang ke
Australia sebagai migrant. Udah terlalu
lama ninggalin Indonesia dan
saya juga mikirnya udah nggak bakal balik
lagi ke Indonesia anyway. Yang jelas saya
nggak punya properti sama sekali di
Indonesia. Jadi ya udah, paling keluarga.
Dan keluarga kan visit bisa gak begitu
jauh kan. Makanya saya milih Australia
karena gak begitu jauh dari Indonesia
daripada dulu. Saya sebelumnya di Bermuda
harus terbang dua puluh dua jam, ke
Australia ke sini kan paling cuma tujuh
setengah jam. Dan ya memang tadinya ada
pertimbangan ini itu, cuma
dan juga ada pro kontra jugalah dari
keluarga sendiri. Cuma, in the end of the
memang nggak bakal pulang ke Indonesia
sih. Terakhir kemarin pulang itu kayaknya
Jakarta dan Pulau Jawa sekitarnya tambah
panas jadi benar-benar ini ya,
-ya udah beda sih.
-Apakah melihat dari paspornya, kemudahan
paspor Australia untuk digunakan misalnya
bepergian ke luar negeri begitu, atau
lebih melihat dari keuntungan menjadi
warga negara Australia atau gimana pada
-saat memutuskan?
-Ya, mungkin awalnya gitu ya, will be
easier for travelling gitu ya. Cuma, so
far sih masih belum, belum banyak
travelling juga. Tapi apa ya? Kayaknya
kesini sini terus udah dapet
manfaat lebih dari as a citizen, kayak
tahun lalu aku bisa ngambil
sekolah untuk Certificate for Training and
Assessment. Jadi ini kayak
course gitu satu tahun untuk bis-- aku
bisa jadi Certified Trainer & Assessor
bidang vokasi ya, bidangku sendiri, which
is bakery. Dan itu, itu free. Itu
benar-benar ditanggung sama state
government. As a citizen, it's free. Kalau
enggak aku harus keluar duit itu paling
enggak lima ribu, tujuh ribu.
Sebelum memang mengambil pendidikannya
akhirnya, apakah hal-hal ini terpikir
memang jadi salah satu juga yang mendorong
keputusanmu, Mas? Atau not really?
Kan aku, aku udah merasa aku nggak bakal,
nggak bakal pulang lagi ke Indonesia. Dari
sebelum 2017 itu aku udah mantep aku
nggak bakal pulang ke Indonesia. Karena
udah susah juga kayak dan aku baru
ngerasain recently kemarin pas pulang. I
think the way I think my point of view itu
sudah sangat beda dengan orang. Mungkin
banyak yang offended dengan statement ini
ya, tapi ya aku yang ngalamin sendiri
gitu. Begitu aku pulang banyak hal lain,
wah ini nggak bisa kayak gini. A lot of
-things.
-Mas Didit lahir di Indonesia?
Iya, lahir di Indonesia. Aku kalau di sini
tanya orang, kan pasti orang di sini kan
bakal nanya, kalau yang sopan pertanyaan
kan di sini bukan yang where are you from?
Tapi yang what's your background? Ya kan?
Karena Australia itu kan is a melting pot
of like people from around the world. Dan
aku bakal, aku bakal masih bangga bilang
oh my background is Indonesian. Aku dari
Indonesia.
So that I can, you know, dalam soal
makanan lah paling enggak. Kan aku bisa,
aku kasih tahu or sharing my Indonesian
food to my, you know, other Australian
Dan ya kalau soal itu sih aku, aku masih,
aku masih bakal bilang my background is
Indonesian. Dan paspor itu menurut aku ya
udah apa sih? Cuma, cuma surat, cuma kayak
KTP aja. Kenapa dipermasalahkan?
Aku udah punya anak sekarang, ya udah. I
think it will be best for him untuk
tinggal di sini dengan pendidikan yang di
sini.
Oke, dan istri juga tidak keberatan ketika
pindah jadi Australian?
Oh, sebenarnya aku waktu itu sih nunggu
iya gitu. Dia yang masih agak bimbang
tadinya. Kalau, kalau nurutin aku mungkin
[tertawa] Dari 2015 aku udah-
-Sudah pindah ya?
-Iya, karena kan
visaku itu karena aku PR dari awal jadi
cuma butuh empat tahun. Setelah empat
-tahun aku bisa apply citizen.
-Tapi kemudian pada akhirnya istri juga ya
-okelah gitu?
-Iya akhirnya, akhirnya kita bareng. Kita,
kita bareng ambil citizenship test dan
sampai pas pelantikannya pun
I don't know, I still ee like comfortable
to have to two country [tertawa]. Gak tahu
ya, aku old fashion. Aku still, still
cinta Indonesia.
Dan kecintaannya dengan Indonesia ini juga
lewat paspornya tetap hijau begitu, Bu?
Kadang-kadang orang alasannya karena
paspor hijau itu lebih susah atau harus
mengurus visa misalnya, kalau misalnya mau
jalan-jalan ke luar negeri. Kalau pakai-
Enggak tahu, ya. Kalau saya kayaknya sama
aja, ehhh, ke Egypt, ke Israel, ke
-Jordan.
-Enggak ada masalah dengan menggunakan
-paspor Indonesia Ibu?
-No.
I'm willing to have two country, easy way.
Ya siapa tau kan orang kalau udah tua
berubah, pengen bolak balik sana sini easy
gitu. Kalau aku masih paspor Indonesia,
aku kan tinggal di Indonesia lama boleh,
terus tanpa bayar visa.
Kan aku di sana ada family, di sini ada
family. Kalau udah pensiun itu aku
bis-bisa tinggal di sana tiga bulan, enam
bulan, terus di sini nungguin anak, cucu.
Di sana bisa ketemu keluarga, rileks gitu.
Pemikiran saya old fashion, aku masih
END OF TRANSCRIPT