Cina dan Indonesia telah melakukan larang terbang pesawat Boeing 737 MAX 8 mereka sementara para saksi mata mengingat kembali pemandangan mengerikan dari asap dan puing-puing yang tertinggal dari pesawat Ethiopian Airlines sebelum jatuh dan menewaskan 157 orang.
Tragedi ini terjadi hanya beberapa bulan setelah sebuah jet dengan model yang sama jatuh di Indonesia menewaskan 189 orang, dan memicu ketakutan keselamatan penerbangan global.
Ethiopian Airlines 737 Max 8 jatuh ke lahan pertanian beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa ke Nairobi pada hari Minggu.
Para korban berasal dari lebih dari 30 negara dan termasuk 22 staf PBB.

Para penyelidik yang mencari penyebab kecelakaan ini menemukan kotak hitam dengan perekam suara kokpit dan juga data penerbangan digital pada hari Senin, ungkap TV nasional Etiopia.
Harga saham Boeing merosot karena adanya prospek bahwa dua kecelakaan semacam itu dalam selang waktu yang singkat bisa jadi mengungkap cacat pada pesawat barunya.
Perusahaan itu telah menerima pesanan sebanyak lebih dari 5000 pesawat baru irit bahan bakar, yang mulai beroperasi kurang dari dua tahun yang lalu dan direncanakan menjadi kuda pekerja berbagai maskapai penerbangan di seluruh dunia untuk beberapa dasawarsa.
Jenis pesawat 737, yang telah terbang selama lebih dari 50 tahun, adalah pesawat penumpang modern terlaris di dunia dan dipandang sebagai salah satu yang paling dapat diandalkan di industri penerbangan.
Varian MAX 8 yang baru, dengan mesin lebih besar yang dirancang untuk menggunakan lebih sedikit bahan bakar, mulai beroperasi pada 2017. Pada akhir Januari tahun ini, Boeing telah mengirimkan 350 jet baru kepada pelanggan, dengan pesanan lain sebanyak 4661.
Berbagai negara yang khawatir mengambil langkah cepat.
Ethiopian Airlines, yang memiliki empat jet 737 MAX 8 lainnya, mengatakan mereka melakukan larang terbang sebagai tindakan pencegahan. Cina juga memerintahkan maskapai-maskapainya untuk menangguhkan 737 MAX 8 jet mereka setidaknya pada pukul 18:00.
Dengan memperhatikan bahwa kedua kecelakaan yang melibatkan pesawat yang baru dikirim tersebut terjadi tidak lama setelah lepas landas, Administrasi Penerbangan Sipil Cina mengatakan akan menginformasikan kapan maskapai penerbangan dapat melanjutkan terbang dengan jet ini, setelah menghubungi Boeing dan Administrasi Penerbangan Federal AS.

Indonesia, di mana pesawat Lion Air 737 Max 8 jatuh pada bulan Oktober, juga mengatakan akan menghentikan sementara jenis pesawat ini untuk inspeksi.
Cayman Airways juga melakukan larang terbang sementara kedua jet 737 MAX 8 barunya, sementara India mengumumkan tinjauan kembali keselamatan.
Korban yang tewas termasuk para pekerja bantuan, dokter, profesor sastra dan botani, seorang mahasiswa hukum, seorang perempuan yang baru menikah, seorang ayah yang menantikan seorang anak, dan pasangan yang baru saja memiliki bayi.
Di Nairobi, pusat utama bagi para pekerja bantuan dan diplomat, sebuah konferensi dibuka dengan saat hening dan air mata bagi para anggota PBB yang tewas.
Di New York, 15 anggota Dewan Keamanan PBB juga berdiri untuk mengenang para korban.

Pesawat naas ini diterima pada November 2018, telah terbang lebih dari 1.200 jam, dan kembali dari Johannesburg pada hari Minggu pagi, ujar kepala eksekutif Tewolde GebreMariam.
Kecepatan vertikal penerbangan tersebut tidak stabil setelah lepas landas, situs web pelacakan penerbangan Flightradar24 menyampaikan di Twitter. Layanan yang berbasis di Swedia ini mengatakan jet itu naik hampir 1000 kaki (330 m) setelah lepas landas dari Addis Ababa, bandara yang panas dan di dataran tinggi yangmana udaranya yang lebih tipis memerlukan upaya ekstra dari mesin pesawat.
Pesawat kemudian merosot sekitar 450 kaki (137m) sebelum dengan cepat naik sebanyak 900 kaki hingga di titik dimana data pelacakan satelit hilang.
