Pertunjukan ini menggabungkan dua karya personal yang mendalam menjadi satu kesatuan. Murtala menghadirkan "Gelumbang Raya", sementara Alfira mempersembahkan "Jejak dan Bisik".
Meski berangkat dari perspektif berbeda, keduanya disatukan dalam tajuk "Sisa-Sisa" untuk menggambarkan memori yang bertahan setelah badai kehidupan berlalu.
Menghadapi Trauma Tsunami Aceh
Bagi Murtala, "Gelumbang Raya" bukan sekadar tarian, melainkan sebuah rekaman memori atas tragedi Tsunami Aceh tahun 2004. Ia menceritakan pengalamannya kembali ke tanah kelahiran pada hari ketiga pasca-bencana dan menghabiskan waktu dua bulan untuk mengevakuasi jenazah.
Dibutuhkan waktu lebih dari dua dekade bagi Murtala untuk menuangkan pengalaman ini ke dalam bentuk karya tari.
"Ini kontennya berat. Ada saat saya siap, namun saya merasa masyarakat belum siap, atau sebaliknya. Saya menunggu momentum ketika saya dan masyarakat Aceh benar-benar siap untuk membagikan cerita ini," ungkap Murtala.

Di sisi lain, Alfira melalui "Jejak dan Bisik" mengeksplorasi sisi personalnya sebagai seorang ibu, perempuan, dan penari dengan segala kesibukan dan dinamika perannya.
Kolaborasi Seni dan Harapan bagi Seniman Indonesia
Untuk menghidupkan suasana emosional di panggung, pasangan ini menggandeng komposer kenamaan Gondrong Gunarto. Meski musiknya tidak dimainkan secara langsung (live), keterlibatan Gondrong dianggap krusial karena kedekatan emosionalnya yang mampu menerjemahkan rasa menjadi bunyi.
Proses kreatif pertunjukan ini melibatkan pengembangan intensif di studio dengan bantuan seorang dramaturg untuk memastikan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh penonton global. Murtala berharap penonton yang tidak mengalami tsunami pun dapat terhubung melalui emosi perjuangan menghadapi "badai" dalam hidup masing-masing.
Membuka Jalan di Panggung Internasional
Penampilan perdana (world premiere) "Sisa-Sisa" di Sydney Festival ini diharapkan menjadi katalis bagi seniman Indonesia lainnya di Australia.
"Kami berharap langkah ini menjadi langkah baik, tidak hanya untuk kami, tapi agar banyak seniman Indonesia di segala bidang bisa muncul di berbagai festival utama di Australia," tutup Murtala.













