Nusantara: Tantangan dan Harapan Nelayan Kecil Indonesia

LEMSA sosialisasi program nelayan skala kecil.jpg

Lembaga Maritim Nusantara - LEMSA memberi penyuluhan tentang program kemitraan Tata Kelola Perikanan Skala Kecil Credit: LEMSA

Perairan dangkal Indonesia hingga 4 mil laut merupakan tumpuan hidup vital bagi mayoritas nelayan kecil dengan perahu mesin di bawah 5 Gross Tonnage. Tata kelola untuk kawasan pantai itu diperlukan karena itu merupakan area pemijahan, atau area di mana ikan berkembang biak dan juga potensi karangnya.


Indonesia, sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, menyimpan harta karun luar biasa di wilayah perairan dangkalnya.

Hingga empat mil laut, hamparan perairan ini bukan sekadar pemandangan alam, melainkan tumpuan hidup utama bagi mayoritas nelayan skala kecil yang mengoperasikan perahu di bawah 5 Gross Tonnage (GT).

Wilayah pesisir ini memegang peran ekologis yang sangat vital sebagai tempat pemijahan ikan dan pertumbuhan terumbu karang.

Mengingat karakter ikan di perairan dangkal yang cenderung menetap, perlindungan terhadap habitat ini menjadi jauh lebih krusial bagi keberlanjutan ekosistem laut secara luas dibandingkan dengan wilayah laut lepas.

Namun, potensi besar ini dibayangi oleh kerentanan yang mendalam bagi para nelayan tradisional.

Rizky Latjindung, Direktur Lembaga Maritim Nusantara (Lemsa) yang berbasis di Makassar, mengungkapkan kepada SBS Indonesian bahwa tantangan utama di lapangan adalah lemahnya tata kelola yang ramah lingkungan.

nuril-fikriyah-aDmjl4AE1Qg-unsplash.jpg
Small fishoing boat Credit: nuril fikriyah / unsplash

Sering kali, kebijakan yang diambil di tingkat pusat maupun provinsi sulit menjangkau realitas di lapangan karena jarak geografis yang jauh. Celah pengawasan inilah yang kemudian menjadi ancaman bagi kelestarian ekosistem lokal dari praktik-praktik yang merusak.

Sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan pengawasan tersebut, keterlibatan aktif masyarakat lokal melalui skema partisipatif muncul sebagai kunci utama. Inisiatif yang didorong oleh Lemsa membuktikan bahwa penguatan aturan di tingkat desa mampu menjadi benteng pertahanan yang efektif.

Dengan adanya aturan lokal yang kuat, masyarakat dapat membatasi akses kapal-kapal besar serta mencegah penggunaan alat tangkap destruktif seperti bom ikan. Melalui pemberdayaan ini, pengawasan terhadap kesehatan laut dilakukan langsung oleh mereka yang paling bergantung pada kelestarian alam tersebut.

Meski demikian, jalan menuju kedaulatan laut yang ideal masih penuh hambatan. Implementasi hukum sering kali terganggu oleh perubahan kewenangan yang menjauhkan fungsi kontrol dari masyarakat, ditambah lagi dengan ancaman perubahan iklim yang mulai berdampak nyata. Di sisi lain, persoalan ekonomi seperti praktik ijon yang turun-temurun terus menjerat nelayan dalam lingkaran kemiskinan dan melemahkan daya tawar mereka.

harun-asrori-RgrJLwBw6a8-unsplash.jpg
Credit: harun asrori / unsplash

Oleh karena itu, tata kelola pesisir di masa depan harus bersifat holistik; tidak hanya fokus pada pelestarian alam, tetapi juga wajib menyentuh aspek kesejahteraan dan akses permodalan yang adil guna memutus rantai kemiskinan yang telah lama membelenggu masyarakat pesisir Indonesia.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore. Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Share
Follow SBS Indonesian

Download our apps
SBS Audio
SBS On Demand

Listen to our podcasts
Independent news and stories connecting you to life in Australia and Indonesian-speaking Australians.
Ease into the English language and Australian culture. We make learning English convenient, fun and practical.
Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS
SBS Indonesian News

SBS Indonesian News

Watch it onDemand