Menjelang puncak acara Mardi Gras pada 28 Februari mendatang, IQC telah menyiapkan serangkaian agenda mandiri. Salah satunya adalah acara tahunan di Stonewall Hotel yang dijadwalkan pada Kamis, 26 Februari.
Antusiasme masyarakat tahun ini sangat luar biasa, terbukti dengan tiket yang sudah terjual habis sejak awal Februari.
Acara tahun ini menjanjikan sesuatu yang segar dengan kehadiran empat artis baru, termasuk penampilan DJ, penari asal Indonesia, serta pertunjukan burlesque yang masih tergolong unik dalam konteks komunitas Indonesia.
Selain itu, Arozak Salam sendiri berhasil terpilih melalui audisi ketat untuk tampil dalam kelompok tari pada pembukaan parade yang akan disiarkan langsung oleh stasiun TV ABC.
Perubahan Format dan Tantangan Organisasi
Mardi Gras tahun ini mengusung tema "Ecstastica" yang melambangkan semangat kebahagiaan bersama. Namun, terdapat beberapa perubahan signifikan pada format acara:
Rute Pendek: Parade di Oxford Street akan berakhir lebih awal dengan rute yang lebih singkat.
Pembatalan Pesta Resmi: Tidak ada pesta resmi di Entertainment Quarter seperti tahun-tahun sebelumnya. Perayaan akan dialihkan ke berbagai bar dan klub di sepanjang Oxford Street.

Iklim Politik dan Dukungan Komunitas
Arozak menyoroti tekanan politik internasional yang berdampak pada komunitas, khususnya kaum transseksual. Pengaruh kebijakan dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dinilai turut memicu diskriminasi di Australia melalui pemotongan pendanaan dan stigma.
Oleh karena itu, Mardi Gras tahun ini memberikan dukungan penuh bagi kelompok trans sebagai bagian integral dari komunitas.
Bagi komunitas Indonesia sendiri, IQC terus berupaya membangun diplomasi melalui seni dan budaya untuk menjembatani perbedaan.
Meskipun tinggal di Australia, tidak semua masyarakat Indonesia di Sydney sudah terbuka terhadap isu queer. IQC berperan sebagai wadah rekonsiliasi dan ruang aman bagi anggotanya.
Kehidupan Profesional dan Isu Coming Out
Di dunia kerja, Australia dinilai telah memiliki kebijakan anti-diskriminasi yang kuat. Arozak berbagi pengalaman positif di tempat kerjanya, di mana rekan-rekannya sangat suportif bahkan memberikan donasi untuk IQC.
Namun, tantangan terbesar bagi warga Indonesia di Sydney tetaplah proses "coming out" (menyatakan jati diri).
Meski banyak yang merasa bebas saat berada di Sydney, mereka masih harus menjaga citra di media sosial demi menjaga perasaan keluarga di Indonesia yang belum sepenuhnya bisa menerima.
IQC berkomitmen untuk terus menyediakan ruang aman bagi individu-individu ini untuk berkarya sesuai dengan tingkat kenyamanan mereka masing-masing.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.




