Persiapan Menyambut Ramadan

Ramadan

Source: Flickr

Menjelang Ramadan, poin utama persiapan adalah melunasi hutang, baik hutang puasa tahun lalu maupun hutang duniawi lainnya, agar ibadah dapat dijalankan dengan hati yang bersih.


Dr. Mulyoto Pangestu adalah dosen senior di bidang Kebidanan dan Keperawatan (Obstetrik dan Ginekologi) Universitas Monash. Menariknya, selain bergelut dengan awal kehidupan di dunia akademis, Dr. Mulyoto juga aktif di komunitas Muslim Indonesia di Victoria (IMCV) dan mengurus bagian kematian di Al-Janah.

Kontras peran ini dianggap sebagai gambaran lengkap perjalanan hidup manusia dari awal hingga akhir.

dr-mulyoto-pangestu-682fe2ab19716.webp
Dr Mulyoto Pangestu, Monash University, Obstetrics and Gynaecology, Faculty Member Credit: Dr Mulyoto Pangestu

Persyaratan Kewajiban Ibadah Puasa

Menjelang Ramadan yang jatuh pada 18 Februari 2026, poin utama persiapan adalah melunasi hutang, baik hutang puasa tahun lalu maupun hutang duniawi lainnya, agar ibadah dapat dijalankan dengan hati yang bersih.

Bagi mereka yang tidak mampu mengganti puasa karena uzur permanen atau kesehatan, kewajiban tersebut dapat diganti dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin).

Dr. Mulyoto juga menekankan pentingnya ahli waris untuk mengurus hutang puasa anggota keluarga yang telah wafat sebagai bentuk tanggung jawab moral dan agama.

Kesiapan Fisik dan Mental

Persiapan fisik menjadi krusial karena puasa mengubah pola tidur dan makan secara signifikan.

Dr. Mulyoto mengingatkan agar kondisi tubuh dipastikan fit supaya ibadah tidak justru menimbulkan penyakit.

Di sisi lain, persiapan mental melibatkan pengendalian emosi di tengah hiruk-pukuk berita dunia dan media sosial.

Ia menekankan bahwa kekhusyukan ibadah bukan berarti abai terhadap lingkungan sekitar.

Belajar dari teladan Rasulullah, umat Islam diharapkan tetap peduli dan bijaksana dalam menyikapi situasi sosial tanpa harus kehilangan kendali diri atau menjadi emosional secara berlebihan.

Esensi Berbagi dan Kesederhanaan

Ramadan juga merupakan momentum untuk memperkuat solidaritas sosial melalui tradisi berbagi, seperti menyediakan hidangan berbuka (takjil).

Namun, Dr. Mulyoto mengingatkan agar semangat berbagi ini tidak terjebak dalam perlombaan kemewahan atau gengsi sosial. Prinsip utamanya adalah beramal sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri, serta memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan dan pengendalian diri yang dilatih selama Ramadan dapat terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya.

Selamat Ramadan.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.

Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.


Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now